Politik

Tersinggung dengan Pernyataan Prabowo, Menhan Kupas Habis Prabowo dengan Berbagai Pernyataan

Menurutnya, ancaman teroris juga mengancam keutuhan negara karena menimbulkan ketakutan di masyarakat. Dia meyebut inisiatif justru di tangan teroris.

Sari Intan Putri - 07/04/2019 10:35

Beritacenter.COM - Ryamizard Ryacudu selaku Menteri Pertahanan Indonesia mengaku merasa terusik dengan komentar yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto dalam debat Capres yang menyatakan jika pertahanan Indonesia masih lemah.

Menanggapi pernyataan Prabowo, Ryamizard dengan tegas menyebutkan jika pertahanan Indonesia saat ini ada di posisi 10 di dunia.

"Tadi malam disampaikan (debat kandidat presiden) masalah pertahanan kita lemah. Waktu saya jadi menteri pertahanan, kita nomor urut 19 seluruh dunia. Sekarang, nomor urut 10 dari seluruh dunia, berapa ratus itu. Jadi kuat kita ini. Siapa bilang lemah. Saya tersinggung juga kalau disebut Menteri Pertahanan lemah," kata Ryamizard.

Ryamizard bicara soal ancaman nyata saat ini.

"Pertama ancaman yang nyata itu adalah teroris. Nyata teroris itu, sudah itu bencana alam. 4,5 tahun yang lalu sudah saya sampaikan, dan ini berulang-ulang, pemberontakan, kemudian masalah narkoba, cyber. Ini adalah ancaman kita," kata Ryamizard yang juga pernah menyampaikan hal itu di NATO.

Menurutnya, ancaman teroris juga mengancam keutuhan negara karena menimbulkan ketakutan di masyarakat. Dia meyebut inisiatif justru di tangan teroris.

"Kita menunggu dibom, ini tidak boleh. Harus inisiatif di tangan kita, harus di tangan aparat keamanan kita. Teroris adalah acaman yang nyata," katanya.

Ryamizard mengatakan saat ini yang paling berbahaya adalah ancaman mengubah ideologi negara yaitu Pancasila.

"Begitu Pancasila diubah, selesai negara ini. Saya bicara ini kemarin di Medan juga, Kalimantan Timur, dengan Pemuda Pancasila. Kenapa? Karena ada nyambungnya. Pemuda Pancasila ini yang membuat mulai dari Jenderal Nasution, Ahmad Yani, Gatot Subroto. Itu senior-senior TNI," ucap Ryamizard disambut tepuk tangan.

Dia berpesan agar semua pihak saling menghormati.

"Komunis di China, di Rusia, nggak ada apa-apa, biar saja, kenapa kita marah-marah. Di sini tidak boleh, kita tidak benci dengan komunis kok, kita benci dengan PKI. PKI itu sudah tiga kali berontak, masak mau empat kali berontak. Bodoh betul kita kalau sampai empat kali berontak, tak boleh," katanya.

Menurutnya, musuh negara saat ini ada dua pada posisi sebelah kiri dan kanan. Posisi kiri adalah PKI dan posisi kanan adalah yang mendirikan agama Islam, khilafah.

"Dari awal kita tidak setuju (khilafah). Kalau kita terima itu, negara kita ini Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya sedikit (mendukung khilafah). Di Sumatera Utara orang-orang Batak tidak mau (khilafah), Kalimantan hampir seluruhnya tidak mau, Sulawesi separuh, Ambon ke timur tidak mau, Jawa, Bali ke timur tidak mau. Jadi sedikit, karena itulah, kita berembuk pendiri bangsa ini, ya sudahlah jangan bicarakan itu lagi (khilafah). Mari kita bersama-sama membangun negara ini, sudah diperjuangkan, sudah kita bersumpah kepada Tuhan, sumpah pemuda, landasan kita tetap saja Pancasila. Sekarang ada orang mengungkit-ngungkit lagi khilafah," katanya.

Yang lebih konyol lagi tentu saja BPN. Karena selain hanya mampu berkelit dengan data mentah yang nyata-nyata salah, malah juga memberi pembelaan yang cenderung bercampur halu.

Hal itu malah semakin menunjukkan kepada rakyat, bahwa sebenarnya yang ABS alias ‘Asal Bapak Senang’ itu sampai sekarang kumpulnya selalu di kubu siapa?

"Nggak. Pak Prabowo maksud itu memang dana pertahanan kita ya dikitdibandingkan negara lain," ujar Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Yandri Susanto, kepada wartawan, Minggu (31/3/2019).

Yandri mengatakan data yang dipaparkan Prabowo semalam sudah sesuai dengan kenyataan. Di mana anggaran pertahanan Indonesia berada di angka 0,8 persen dari GDP (gross domestic bruto).

Dia pun membandingkannya dengan anggaran pertahanan Singapura yang disebutnya 3% dari GDP.

Politikus PAN itu pun menduga kubu Jokowi kehabisan bahan untuk mengomentari penampilan Prabowo dalam debat semalam. Dengan begitu, kata Yandri, kubu sang petahana memilih menyalahkan data yang dipaparkan capres nomor urut 02.

"Mungkin karena Pak Jokowi semalam gelagapan, jadi Mbak Yenny salahkan data. Mungkin nggak ada yang bisa dikomentarin karena Pak Prabowo semalam luar biasa," katanya.

Jangan-jangan, Yandri tidak pernah hadir juga tidak pernah melihat debat yang dilakukan oleh junjungannya itu?

Sebab bila memang hadir atau setidaknya menyaksikan sendiri jalannya debat tersebut, dan bukannya sekedar katanya-katanya, harusnya Yandri tahu, bahwa yang emosional, panik serta gelagapan adalah junjungannya, hingga semua jawaban di ulang ulang dengan stereotipe yang amat membosankan yang selalu berujung dana ya dana-dana. Ya dana… ya… dana… dana…

Padahal, cara mudahnya, tinggal putar ulang rekaman debat dan cermati lagi maksud sebenarnya dari junjungannya yang pecatan TNI itu, tentang serangan serta hinaan yang dilakukannya kepada TNI berdasarkan alasan tak jelas tentang kekeliruan kekuatan pertahanan negeri ini.

Atau, jika memang masih ngotot bego, yaudah tinggal cek sendiri langsung, apa benar total jumlah dana pertahanan Indonesia lebih sedikit dari Singapura?

Heran banget. Goblok kok bisa berjama’ah dan amat khusyuk serta istiqamah banget seperti itu? Pantesan tak pernah sukses dalam setiap kontestasi Pilpres negeri ini.

TAG TERKAIT :
Politik Jokowi Presiden Pemilu Ryamizard Ryacudu Pilpres 2019 Jokowi-Ma'ruf Amin TKN Jokowi-Ma'ruf Amin Pe

Berita Lainnya