Opini

Bualan UAS kepada Prabowo tentang Wangsit Kemenangan Prabowo

Bisa saja Somad menyampaikan itu secara rahasia empat mata. Tapi hal itu memang tidak membuat elektabilitas Prabowo bertambah. Maka dengan lancang, Somad menjual pesan ulama khawas tadi demi kepentingan kampanye Prabowo. Padahal pesan seperti itu multi tafsir dan mestinya tidak disebarkan tanpa ijin.

Sari Intan Putri - 24/04/2019 14:21

Beritacenter.COM - Ustad Abdul Somad (UAS) adalah PNS yang gesit. Di balik sikapnya yang seolah-olah la syarqiyah wala ghorbiyah (tidak ke timur tidak pula ke barat) itu, ternyata ia mendukung Prabowo. Pernyataannya memang berbelit-belit. Somad berlagak penyambung lidah ulama khawas (saleh), untuk menyampaikan pesan gaib kepada Prabowo.

Tapi kenapa itu dilakukan UAS di depan publik?

Bisa saja Somad menyampaikan itu secara rahasia empat mata. Tapi hal itu memang tidak membuat elektabilitas Prabowo bertambah. Maka dengan lancang, Somad menjual pesan ulama khawas tadi demi kepentingan kampanye Prabowo. Padahal pesan seperti itu multi tafsir dan mestinya tidak disebarkan tanpa ijin.

Pendek kata, ia memang pendukung Prabowo. Tapi tetap ingin jadi PNS yang baik dan tidak kena penalty. Dan ia menyampaikan hal itu di saat yang tepat. Video Somad disebar-luaskan di akhir masa kampanye. Maksudnya sebagai gong. Untuk mengejutkan lawan politiknya. Titik krusial yang tak bisa lagi ditangkal.

Dukungan Somad itu bergaya malu-malu kucing. Mulutnya berkata netral, tapi sikap dan arah ucapannya sedang mengiklankan Prabowo. Cara itu memang murahan. Namun karena ia seorang ustad yang dikarbitkan kelompok tertentu, maka semua itu terlihat wajar dan bernilai tinggi. Setidaknya bagi pemuja Somad di Sumatera Barat dan Riau sana.

Ia tampil eksklusif di TV bersama Prabowo. Gayanya meyakinkan sebagai seorang orator ulung. Di sana, Prabowo mengikuti drama penuh keharuan itu dengan menitikkan air mata. Dua aktor yang saling melengkapi.

Video kampanye terselubung itu dengan cepat berkelebat di medsos bak demit. Menembus sekat dan Batasan. Saya membayangkan, jamaah Somad bertakbir dengan lantang ketika mereka melihatnya. Atau mengikuti drama Prabowo yang menitikkan air mata. Mereka percaya sungguh-sungguh dengan wangsit itu. Kemudian muncul anggapan, Tuhan telah berpihak pada mereka.

Somad dengan sadar masuk dalam strategi politik Prabowo. Ia jurkam terselubung. Hebatnya, ia bisa dengan leluasa cuci tangan. Bahwa itu bukan kampanye. Padahal dengan jelasnya publik bisa menilai, kelas Somad hanya ustad penggembira.

Secara nasional, Somad effect memang kecil. Tapi untuk Sumatera Barat dan Riau, itu cukup untuk menguatkan barisan dan mencuri suara lawan. Memang bukan hanya faktor Somad. Yang paling utama menggerogoti nalar kritis Sumatera Barat dan Riau adalah hoax dan fitnah. Dua tahun sebelum Pilpres, hoax bergentayangan seperti hantu di sana.

Orang-orang lapangan menyerah. Kepala daerah yang katanya menyatakan dukungan kepada Jokowi, ternyata hanya omong kosong. Mereka tidak bekerja. Atau jangan-jangan, malah menjadi musuh dalam selimut?

Somad dengan bisikan dari langitnya menjadi legitimasi bagi pendukung Prabowo. Sebelum hari H, mereka begitu jemawa. Seolah-olah rombongan sebelah baru saja berkunjung ke Tuhan dan mendapat kabar mengejutkan. Sampai hari ini, delusi Somad itu dianggap sebagai kebenaran. Mereka menolak quick count, salah satu dasarnya wangsit Somad tadi.

Dengan kata lain, Somad harus ikut bertanggung-jawab atas delusi yang dia sebarkan kepada jamaahnya. Kata-kata Somad itu menjadi landasan kebenaran. Orang-orang fanatik itu meyakini, yang bisa mengalahkan wangsit yang dibawa Somad itu hanya kecurangan.

Orang-orang dengan mudah tercuci otaknya dengan delusi Somad. Ditambah dengan ngototnya Prabowo, mereka tidak hanya mencurigai KPU, bahkan sampai menghancurkan TV mereka sendiri. Karena mereka menganggap, semuanya telah berkomplot untuk mengalahkan Prabowo. Padahal Somad yang sok-sokan mewartakan kabar langit. Ia menjadi salah satu biang keladi kekisruhan ini.

Dengan Bahasa penjual obat kuat, Somad membranding dirinya tak butuh apa-apa dari istana Prabowo. Trik itu dilakukan untuk meninggikan nilai tawarnya. Cara jualan yang jika mentok akan mudah berkelit, misalnya dengan kalimat klise, “Umat menghendaki saya jadi Menteri Agama…”

Sayangnya, branding seperti itu sudah sangat mentah untuk orang kita. Orang timur yang pandai bermain kata-kata. Negeri yang, Menteri Agamanya saja bisa nyolong uang negara.

Omong kosong Somad itu melahirkan kebebalan berjamaah. Sekarang, pendukung Prabowo tak mau mendengar kebenaran dari manapun. Keyakinan mereka, hitungan quick count curang. Tapi untuk partai pendukung Prabowo tidak. Bahkan PKS melonjak kegirangan karena mengetahui kursi mereka bertambah.

Kampanye yang dilakukan Somad itu sebenarnya jahat dan keji. Efek buruknya bisa mengendap lama. Tapi karena ada embel-embel agama, karena ia seorang ustad, bualan Somad itu dijadikan bukti bahwa kemenangan Prabowo telah mendapat restu Tuhan. Selain itu, pasti curang.

Jika terjadi konflik dan perpecahan karena bualan Somad tentang wangsit kemenangan Prabowo sebelumnya, maka ia juga harus menanggung dosanya. Mulut licin itu harus menerima karmanya…

Kajitow Elkayeni

TAG TERKAIT :
Politik Islam Prabowo Pilpres 2019 Abdul Somad Pemilu 2019 Uas

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45