Opini

Memperjuangkan Baiq Nuril

Indah Pratiwi Budi - 16/07/2019 17:30

Hari ini sebetulnya jadwal saya ke Solo, tapi minggu malam teh Rieke Dyah Pitaloka telepon minta agar saya bersedia gabung dengan Ibu Nuril, beliau, dan Tim Penasihat hukumnya bertemu dengan Pak Yasonna Laoly (Menkumham). Tugas saya hanya menjelaskan singkat prespektif hukum ITE terkait kasus Ibu Baiq Nuril ke pak menteri. Saya iyakan saja kesediaan saya ke teh Rieke, dan menggeser rencana saya ke Solo besok.

Saya saksinya, sejak awal kasus Ibu Baiq Nuril sekitar awal tahun 2017 (sebelum banyak diberitakan), teh Rieke setia mendampingi ibu Nuril di banyak kesempatan, termasuk di persidangan. Meski beliau politisi, yang saya ikuti dalam kasus ini, teh Rieke dalam membela tidak pernah mengatasnamakan partainya atau mengusung emel-embel politik. Yang saya yakini, beliau sigap memberikan dukungan karena keprihatinan sebagai seorang aktifis pembela hak-hak perempuan.

Dedikasi teh Rieke itulah yang menjadi alasan saya mau hadir, meski eksplisit saya sampaikan ke teh Rieke, untuk urusan dengan pewarta, jika ada yang tanya soal hukum, biar yang lain saja yang berbicara di media. Sebagai pemeran pembantu, porsi saya bukan di panggung media.

Pertemuan dengan pak Yasonna berjalan dengan baik, masing-masing memberikan pendapatnya ke pak menteri, saya sendiri kebagian menjelaskan singkat pendapat saya sebagai ahli di persidangan pertama kasus Ibu Baiq Nuril yang menjadi salah satu dasar pertimbangan vonis bebas ibu baiq Nuril di Pengadilan Negeri Mataram. Beliau manggut-manggut mafhum dan sependapat dengan apa yang saya sampaikan.

Intinya dalam perbincangan setengah jam lebih tersebut, semua sepakat bahwa ada kepentingan lebih besar lagi yang harus dilindungi dalam kasus Ibu Baiq Nuril, bukan sekedar pribadi ibu Baiq Nuril itu sendiri, melainkan perlindungan terhadap perempuan yang diduga menjadi korban pelecehan, yang terkadang terkendala karena tidak memiliki relasi sosial atau dalam posisi lemah.

Solusi satu-satunya dalam kasus Ibu Baiq Nuril adalah dengan pemberian amnesti oleh presiden. Presiden, menurut pak Yasonna menyatakan siap memberikan amnesti kepada ibu Nuril, tentu saja melalui pertimbangan DPR sebagaimana amanah konstitusi.

Ibu Baiq Nuril sendiri berharap, amnesti bisa diberikan sebelum hari kemerdekaan, agar ia bisa dengan bangga menyaksikan putrinya menjadi petugas Paskibraka Provinsi Nusa Tenggara Barat nanti. Pak Yasonna meyakinkan, bahwa proses amnesti akan dilakukan secepat mungkin, dan putusannya bisa terbit sebelum perayaan hari kemerdekaan bulan Agustus nanti.

Hormat dan salut saya untuk banyak pihak, khususnya tim penasihat hukum ibu Baiq Nuril yang sangat militan memberikan dukungan dan pembelaan tanpa pamrih (pak Joko Jumadi, Aziz Fauzi, Yan Mangandar, pak Widodo, dll).

Saya masih melihat harapan, sebuah binar kecil cahaya keadilan di kasus ini. Semoga tidak semu (lagi).

Sumber : Facebook Teguh Arifiyadi

TAG TERKAIT :
Baiq Nuril Amnesti Baiq Nuril Jokowi Kirim Surat Pemberian Amnesti Baiq Nuril Ke DPR

Berita Lainnya

Orang Baik Itu

Opini 05/08/2019 15:30