Politik

Dukung Anies Baswedan Jadi Capres 2024, Ini Bentuk Kegagalan Nasdem "Restorasi Indonesia"

Indah Pratiwi Budi - 31/07/2019 12:18

Beritacenter.COM0 Partai Nasdem pada tahun 2019 telah dua kali mengikuti kontestasi Pemilu di Indonesia. Dengan jargon Restorasi Indonesia yang terinspirasi dari Restorasi Meiji di Jepang, Partai Nasdem dideklarasikan pada 26 Juli 2011 di Hotel Mecure, Jakarta. Dua tahun kemudian, partai yang identik dengan warna biru tua ini pun dinyatakan lolos verifikasi faktual. Ini sekaligus membuat Nasdem menjadi satu-satunya partai baru yang lolos menjadi peserta Pemilu 2014.

Dalam Pemilu 2014, Nasdem hanya mengantongi 6,72 persen suara dan menempatkannya pada posisi 8 dari 12 peserta. Perolehan tersebut membuat mereka mendapatkan 35 kursi di parlemen. Kemudian, di tahun yang sama, mereka mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang memenangkan pemilihan presiden.

Menurut laman partai Nasdem sendiri Restorasi Indonesia adalah gerakan memulihkan, mengembalikan, serta memajukan fungsi pemerintahan Indonesia kepada cita-cita Proklamasi 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Restorasi Indonesia yang diusung dan akan terus dilakukan Partai NasDem mencakup empat kata kerja sekaligus kata kunci perjuangan Partai NasDem, yaitu Memperbaiki, Mengembalikan, Memulihkan, Mencerahkan.

Restorasi bukan jalan pintas. Syarat utama restorasi adalah perubahan mendasar, menyeluruh dan terpadu, melibatkan populasi besar dengan pengerahan energi berpikir yang kuat dan terarah dan berjangka waktu panjang.

Namun saat tiba-tiba Surya Paloh bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tujuan Restorasi Indonesia itu mulai dipertanyakan karena dianggap Nasdem telah terjebak pragmatisme kekuasaan. Perilaku Anies Baswedan sejak Pilkada DKI Jakarta dari cita-cita pendiri Bangsa seperti menggunakan isu SARA, politik identitas dan bilamana perlu politisasi agama dengan mengerahkan kelompok-kelompok radikal telah digunakannya.

Mayoritas pengamat menyebutkan bahwa tujuan Surya Paloh melakukan pendekatan dengan Anies adalah untuk membuat tekanan kepada Presiden Jokowi agar tujuan mendapatkan beberapa menteri kursi dari pihak Nasdem dapat terpenuhi.

Pengamat politik yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang Marianus Kleden menilai pertemuan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dengan Gubernur DKI Anies Baswedan merupakan bentuk “menakut-nakuti” PDI Perjuangan (PDIP) dan Jokowi. Semacam gertakan dari Surya Paloh. “(Seperti) ‘Saya yang capek-capek mendukung Jokowi, kok, Gerindra yang dapat enaknya’,” kata Marianus di Kupang, Selasa, 30 Juli 2019.

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menyatakan akan mendukung Gubernur DKI Anies Baswedan sebagai calon presiden periode 2024 sampai 2029 serta dampak hubungan Nasdem dengan PDIP dan Jokowi. Meski tidak diungkapkan secara eksplisit, menurut Marinus, rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo demi persatuan bangsa akan dieksekusi melalui rekrutmen menteri dengan mempertimbangkan keterwakilan Gerindra. Begitu pula, partai-partai lain yang sebelumnya berada di kubu yang berseberangan dengan Jokowi pada Pilpres 2019.

Nasdem, kata Marianus, khawatir jika Gerindra memborong semua kursi jabatan sehingga partai ini tidak mendapat tempat sesuai dengan harapan. “NasDem akan bertanya di mana posisi saya yang selama ini setia mendukung Jokowi, antara lain, melalui Metro TV, memberikan efek yang signifikan.”

Oleh karena itu, sikap Surya Paloh dan Nasdem harus bisa dipahami sebagai bentuk kekecewaan terhadap PDIP dan Jokowi yang memberi angin bagi Prabowo dan Gerindra untuk bergabung dalam pemerintahan.

Pragmatisme pada kekuasaan sudah dijelaskan secara terang-benderang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai pendiri Ormas Nasdem yang dideklarasikan pada tanggal 1 Februari 2010. Sri Sultan mengundurkan diri dari Nasdem karena kecewa NasDem menjadi Partai pada tahun berikutnya.

Menurut Sultan, dirinya kecewa dengan langkah Nasdem yang mengejar kekuasaan dengan berubah menjadi partai politik. Sultan sebenarnya ingin Nasdem tetap berjuang sebagai ormas, bukan parpol.

“Kalau tidak kecewa, ya kita tidak keluar. Karena kita itu mengabdi bukan pada kekuasaan. Kalau politik kan pada kekuasaan, kalau ormas bukan,” ujar Sultan seperti dikutip dari detikcom 7 Juli 2011

Anies Basdewan sendiri bukan orang baru dalam Nasdem, karena dirinya merupakan salah-satu dari deklarator Nasdem. Deklarator Ormas Nasdem saat itu antara lain.

1. Syafii Maarif
2. Siswono Yudo Husodo
3. Syamsul Mu’arif
4. Khofifah Indar Parawansa
5. Soleh Solahuddin
6. Thomas Suyatno
7. Bachtiar Aly
8. Didik J. Rachbini
9. Fredrik L. Benu
10. T. Bahri Anwar
11. Tarnama Sinambela
12. Anies Baswedan (Gubernur DKI)
13. Rizal Sukma Direktur Eksekutif CSIS
14. Sayed Fuad Zakaria
15. Danny P Thaharsyah
16. Jeffrie Geovanie
17. Basuki Tjahaja Purnama
18. Ade Surapriatna
19. Erik Satrya Wardhana
20. Enggartiasto Lukita
21. Budiman Sudjatmiko
22. Budi Supriyanto
23. A. Malik Haramain
24. H. Zulfadhli
25. Edison Betaubun
26. Akbar Faizal
27. A. Edwin Kawilarang
28. Paskalis Kossay
29. Ali Umri
30. Ilham Arif Siradjudin
31. Franky Sahilatua
32. Djaffar H. Assegaff
33. Sugeng Suparwoto
34. Ferry Mursyidan Baldan
35. Zulfan Lindan
36. Patrice Rio Capella
37. Poempida Hidayatulloh
38. Meutya Viada Hafid
39. Martin Manurung
40. Eep Saefulloh Fatah
41. Willy Aditya
42. Romy H. R. Soekarno
43. Samuel Nitisaputra
44. Melkiades Laka Lena
45. Ahmad Rofiq

Mundurnya Sri Sultan Hamengkubuwono X dari NasDem tentunya juga merupakan bentuk komitmen Sultan kepada cita-cita pendiri bangsa yang harus direstorasi kembali saat Indonesia telah hampir terpecah belah oleh isu SARA, gerakan radikalisme ideologi transnasional dan politisasi agama yang diperkuat dengan hoax yang menggunakan jalur media sosial.

Sri Sultan memastikan Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia, sebagai falsafah, ideologi, dan alat pemersatu bangsa Indonesia.

“Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X setiap upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Juni.

TAG TERKAIT :
Gubernur DKI Jakarta Nasdem Anies Baswedan Surya Paloh Capres 2024 Anies-Surya Paloh Nasdem Calonkan Anies Jadi Capres 2024 Nasdem Calon Anies Jadi Capres 2024

Berita Lainnya