Opini

Tempe N Dajjal

Indah Pratiwi Budi - 08/10/2019 18:30

Lagi-lagi majalah Tempe yang enak dibacem dan perlu, mengeluarkan edisi terbarunya dengan cover yang terlihat sangat tidak elok. Menggambarkan ayahanda Jokowi dengan karikatur sambil menghitung kancing baju dan mengenakan sendal sedikit kebesaran yang bermerek Crocs. Dengan menambahkan sedikit lebam di pipi kiri mirip salah satu relawan yang kemaren dipersekusi, sepertinya majalah yang sudah jatuh terjerembab ini memang sengaja mengolok-olok. Dengan menurunkan berita penuh sensasi tanpa investigasi yang mendalam seperti biasanya, sekarang terlihat seperti bacaan orang pekok.

Dan herannya lagi, tulisan PERPU yang besar-besar dipajang di cover majalah merupakan suatu kesalahan yang memalukan dari segi editorial. Seharusnya ditulis PERPPU, apakah ini pertanda kalau orang-orang yang ada disana dan dibelakang layar, otaknya semua sudah pada bebal. Tidak bisa lagi melihat mana Imam junjungan yang benar untuk diikuti dan mana teman yang membawa sial. Sepertinya mata mereka sudah tertutup belekan yang banyak, seperti sang sobat yang sedang mereka bela, si mata satu yang -maaf- seperti dajjal.

Dulu saat membaca Al-Quran, saya sering terkesima ketika tafsir bercerita tentang dajjal, sebuah makhluk bermata satu yang ternista yang akan membawa kerusakan di muka bumi. Saya sering membayangkan bagaimana bentuk fisiknya, tapi selalu tergambarkan sebuah wajah dengan satu mata yang berada di tengah-tengah dahi. Mungkin karena acap kali terpapar dengan legenda Cyclops yang sering ada di dalam cerita mythology bangsa Yunani. Tapi ketika melihat photo NB yang beredar di timeline, sekarang saya bisa membayangkan kalau seorang manusia bisa benar-benar ada yang menyerupai.

Satu persatu borok lembaga anti rasuah tempat di mana dia bekerja yang selama ini dipuja-puja, mulai terbuka kepermukaan. Tentang bagaimana ditemukan mobil-mobil mewah yang berkeliaran di jalanan ternyata merupakan bagian dari barang sitaan. Harta-harta mantan koruptor yang diambil sebagai jaminan dan bukti pengadilan hilang dari gudang tanpa ada pengawasan. Apalagi sekarang ada cerita supaya kasus korupsi seseorang tidak diangkat, maka dilakukan tukar guliing dengan 50 pintu rumah koskosan.

Ada seorang saksi yang sudah memberikan pernyataan secara terbuka dan panjang lebar di depan dewan yang bersidang. Dia mengatakan kalau para pemangku jabatan terdahulu termasuk NB memang mengatur tentang siapa yang akan didiamkan kasusnya dan siapa yang akan telanjang. Mereka dengan sengaja mengatur permainan, supaya harta yang disita bisa dibagi-bagikan di antara sesama kroni dan teman. Ah, kalau memang ini terbukti, alangkah laknatnya ketika para penjaga gawang ikut-ikutan main sampai ke tengah lapangan.

Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi majalah Tempe menurunkan cuitan yang tidak bermutu dan salah kaprah. Setelah twitteran tentang buzzer yang dimuat dua kali dengan redaksional yang nyaris sama antara Tempe dan Gerindra, sedikit terbuka kalau kemungkinan adminnya adalah orang yang sama. Setelah itu masih juga berlagak sok imut tanpa bersalah, ngeributin tentang adanya buzzer bayaran milik pemerintah. Katanya mendapat data dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Oxford, yang merupakan sebuah universitas yang ternama di dunia.

Tapi ternyata si Tempe salah mengutip, karena data yang disebut tidak ada di dalam daftar. Dari puluhan negara yang di survey, Indonesia hanya mempunyai buzzer dari golongan politisi dan swasta yang memang mereka gunakan untuk menaikkan harga tawar. Kolom untuk pemerintah kosong melompong, karena untuk membela pemerintahan ayahanda Jokowi dan NKRI cuma diperlukan mata hati yang jernih dan pikiran yang sadar. Sedang mereka yang membenci dan menolak untuk melihat keberhasilan beliau, bagaikan burung onta yang menyembunyikan kepalanya di dalam pasir yang kasar sedang pantatnya menungging dan terbuka lebar.

Apalagi ditambah dengan berita yang baru saja dilansir oleh FB tentang buzzer-buzzer bayaran yang bertugas untuk membuat panas masalah Papua. Dengan uang yang sebegitu banyak dikucurkan, mereka berani mengeluarkan biaya untuk membikin suasana menjadi kacau dan resah. Untuk membayar orang-orang yang tidak punya hati seperti si pengkhianat Veronica Koman dan juga Benny Wenda. Mereka lebih rendah dari pelacur jalanan, semoga uang yang mereka makan dari hasil menjual diri ini tidak akan menjadi daging dan darah.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

TAG TERKAIT :
Majalah Tempo Tempo Tabloid Tempo Tempo Menjadi Obor Rakyat Majalah Tempo Majalah Bayaran

Berita Lainnya

Anies Dan Ahok

Opini 05/11/2019 11:04

Nangka Aibon

Opini 01/11/2019 20:11