Opini

Runtuhnya Sila Kedua di Medsos

Indah Pratiwi Budi - 16/10/2019 13:24

"Saya malah berharap itu pas di jantungnya," ujar seorang ibu dengan akun "Mamanya xxxxx", yang pic profilnya berdua dengan si anak.

"Walaupun saya gak percaya, tapi saya berharap Bu, wkwkwk", sambut seorang pegawai yang tinggal di Riau.

"Nggak usah Wiranto, Jokowi saja bisa dipenggal kepalanya, jangan main-main dengan rakyat", ujar seorang perempuan.

"Luka tusuk apa operasi usus buntu Pak,' status seorang mantan caleg partai yang gagal, disambut emoticon tertawa oleh teman-temannya.

"Operasi fiktif 3 jam, saya bonusi kolostomi sekalian", kata seorang dokter ternama.

"Settingan. Playing victim," kata anggota dewan terlantik yang juga putri tokoh reformasi.

Itulah wajah media sosial kita beberapa hari terakhir menyikapi tragedi kemanusiaan yang menimpa salah seorang pejabat tinggi negara. Dan jika mau rajin masuk ke group tertutup, maka akan mudah mendapati ribuan ekspresi serupa. Apa yang terjadi dengan bangsa ini?

Orang-orang yang saya kutip diatas, kalau kita browsing profilnya, mereka tampak sekali sebagai orang yang sangat terdidik, sebagian juga menampilkan kesan bahwa mereka agamis di halaman depannya. Namun ternyata mereka tega mengutarakan kalimat keji di media sosial.

Ketika saya diminta tanggapan oleh radio Elshinta kemarin, saya menjawab bahwa sepertinya polarisasi politik yang kemarin diwarnai dengan hujan hoaks dan ujaran kebencian, saat ini sudah sampai tahap mematikan nalar kemanusiaan. Ketidaksetujuan, kebencian terhadap orang, tidak seharusnya mencabut naluri kemanusiaan seseorang. Tapi tidak kali ini, tidak di media sosial.

Media sosial menjadi pameran wajah terburuk manusia Indonesia, yang saya takut sekali kalau ucapan mereka dibaca oleh anak cucu kita. Saya kuatir kalau anak cucu kita berpikir, betapa tidak bertanggungjawabnya para orangtua, leluhurnya dalam menjaga kedamaian rumah yang mereka tinggali. Dengan abadinya jejak digital, maka tinggal menunggu waktu bagi mereka, anak cucu kita, untuk menemukan keberingasan sebagian warga bangsanya sendiri. Saya membayangkan wajah sedih mereka.

Mau dinilai dari sudut pandang apa saja, norma apa saja, tentu ekspresi kebiadaban adalah kebiadaban itu sendiri. Tinggal menunggu resonansi dari opini media sosial menjadi aktivitas dunia nyata, maka terbukalah jalan konflik sesama saudara bangsa.

Guru kita, orang tua kita, tidak pernah mengajarkan demikian. Bahkan agama mengajarkan welas asih, kepada musuh sekalipun, karena kekejian adalah perilaku iblis.

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR Bukhari Muslim)

Dan mengatasi matinya kemanusiaan, keberadaban, itu jauh lebih sulit ketimbang mengatasi persoalan lain. Tanyakan kepada korban konflik di Palestina, Suriah, Rohingya, Yaman, Bosnia.....

Apa perlu, bangsa kita, rusak dulu untuk menyadari pentingnya mempertahankan naluri kemanusiaan?

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

TAG TERKAIT :
Wiranto Wiranto Ditusuk di Pandeglang Menko Polhukam Wiranto Ditusuk

Berita Lainnya

Anies Dan Ahok

Opini 05/11/2019 11:04

Nangka Aibon

Opini 01/11/2019 20:11