Nasional

Menag: Pegawai BUMN yang Benci Pemerintah, Keluar! Banyak yang Mau Masuki Sini

Aisyah Isyana - 20/11/2019 19:09

Beritacenter.COM - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta agar pegawai BUMN tidak menjelek-jelekkan pemerintah. Dia meminta, pegawai BUMN yang benci degnan pemerintah untuk keluar dan mengundurkan diri.

"Saya di BUMN saya bilang kalau BUMN ini ada yang membenci pemerintah, keluar dari BUMN," kata Fachrul di acara Sarasehan Bintalad TA 2019, di Mabes AD Binas Pembinaan Mental, Jalan Kesatrian VI, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (20/11/2019).

"BUMN tidak butuh Anda. Anda digaji oleh pemerintah untuk melayani masyarakat mewakili pemerintah, bukan menjelek-jelekkan pemerintah. Kalau Anda menjelekkan pemerintah, keluar dari BUMN. Ada ribuan, ratusan ribu, jutaan orang yang ingin masuk ke sini," sambungnya.

Tak hanya itu, mantan wakil panglima TNI ini juga meminta pegawai BUMN yang ketauan tidak menghormati bendera untuk diperiksa. Jika ada pegawai yang sekiranya tak bisa lagi dibina, Fachrul menyarankan agar pegawai itu segera dikeluarkan.

"Saya katakan tegas saja, kalau ada yang tidak menghormati bendera, tidak menghormati lagi kebangsaan 'Indonesia Raya', saya langsung perintahkan, periksa dia, kalau dia tidak bisa dibina, keluarkan. Banyak orang yang menunggu untuk masuk jadi pegawai," ujar Fachrul.

Dalam hal ini, Fachrul menegaskan jika tak ada ruang bagi pihak-pihak yang tak menegakkan NKRI. Menurutnya, pelecehan terhadap simbol negara adalah persoalan yang sangat serius.

"Kembali saya katakan, dalam hal-hal ini kita nggak usah memberikan ruang. Tegas saja bahwa Anda mau sama-sama kita menegakkan NKRI atau Anda musuh dalam selimut. Kalau musuh dalam selimut, silakan Anda keluar. Banyak orang lain yang siap mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia," tegas dia.

"Pelecehan terhadap simbol negara melalui media sosial, lagu Indonesia Raya, penghormatan bendera dan sebagainya, semuanya itu maka pimpinannya setiap atasan langsung yang bersangkutan pada instansi pemerintahan mana pun, pusat dan daerah wajib melakukan pencegahan, pembinaan, pengawasan, dan menjatuhkan sanksi terhadap perilaku radikalisme tersebut sebagai bentuk optimalisasi pengawasan," sambung dia.

Menyinggung soal dinamika radikalisme dan ekstremisme, disebut Fachrul tak hanya datang dari satu agama saja. Menrutnya, radikalisme itu tak melulu bernuansa agama, namun bisa saja datang dengan nuansa ekonomi dan politik.

"Penting dicatat, dinamika radikalisme dan ekstremisme bukan di satu agama saja, melainkan ada di banyak agama dan radikalisme dan ekstremisme tidak melulu bernuansa agama. Karena ada pula radikalisme dalam ekonomi dan politik. Monopoli ekonomi yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat misalnya menjadi bentuk ekstremisme bernuansa ekonomi," tutur dia.

Guna menyikapi hal itu, Farchrul menyebut sikap beragama yang moderat sangat penting untuk diterapkan di masyarakat. Dia menilai, hal itu penting dilakukan guna mewujudkan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Pandangan dan sikap yang moderat dapat menciptakan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang kokoh. Kokohnya rasa nasionalisme ini menjadi bahan bakar yang dapat melesatkan kemajuan Indonesia menjadi negara lima besar ekonomi dua," imbuh dia.

TAG TERKAIT :
Radikalisme Menag BUMN Fachrul Razi Menag Fachrul Razi

Berita Lainnya