Opini

212, Untuk Apa Reuni

Indah Pratiwi Budi - 05/12/2019 16:50
Oleh : Abdul Munib
FOKUS : Reuni 212

Ingat 212 adalah alat untuk mendudukan Anis di kursi Gubernur DKI yang berAPBD ratusan trilyun pertahun. Luas provinsi tak seberapa uangnya sangat beberapa. Mau buat bangunan apa di Jakarta yang sudah padat dengan kontruksi. Ruang yang tidak ada atapnya tinggal sungai dan jalan raya. Yang bisa dilakukan proyek bongkar pasang bongkar, terus begitu. Dibutuhkan preman untuk menjaga sumber daya ratusan trilyun itu. Pendekar Wiro Sableng perlu disambat tiap tahun sepanjang periodenya. PSI mau ganggu di BK kan. Ingat adagium

preman : sesama bis kota dilarang saling mendahului.

Anis seperti Jokowi sedang punya legalitas dan legitimasi Pemilu. Seluruh uang ada dalam kuasanya, dan di negeri dengan pengaruh tabiat musuh (Barat) sangat kuat uang adalah penguasanya. Sampai Anis berakhir yang lain harap diam saja. Karena sesama preman harus saling menghormati dan menghargai. Ini harinya Anis. Lima tahun kedepan legitimasi Pemilu akan ditentukan lagi oleh rakyat Jakarta. Maunya Jakarta harus bagaimana.

Bung Cebong :
Ada reuni tak pernah sekolah. Reuni tiap tahun tidak lumrah. Kangennya belum nyesek.
Tiap tahun lihat muka-muka itu saja, membosankan. Reuni tiap tahun ini untuk apa sebenarnya ?

Santri Kalong :
Jangan tanya ke saya. Mana saya tahu. Kang Mat sudah berapa hari menghilang tidak ada di Pekandangan. Kalau berdasarkan Al Quran 2.12 , Albaqarah ayat dua belas berbunyi : Ala innahum humul mufsiduna walakin la yas'urun. Ingat lah mereka itu sesungguhnya para perusak tapi mereka tidak merasa. Al Quran 21.2 surah Al Anbiya ayat 2 berbunyi : ma atahum min dzikrin min rabbihim muhdasin illa istama'uuhu wahum yal'abuun. Setiap kali datang kepada mereka ayat baru dari kitab suci Al Quran dari Tuhan mereka, kecuali mereka hanya sekedar mendengar saja dan mereka mempermainkannya. 212 dalam simbol kodifikasi ayat Albaqarah (2) ayat 12 dan Al Anbiya (21) ayat 2. Ada dua kata kunci dalam dua ayat itu yakni adanya suatu kaum yang merusak dan membuat agama jadi mainan saja. Mereka itu 212.

Dul Kampret :

Katanya sih untuk mengawal kekuasaan Anis. Kalau gubernur gak punya reman akan dijadikan bulan -bulanan. Anis hanya sedang memenuhi lumrahnya berkuasa di Indonesia. Ingat dulu Gus Dur. Walaupun punya Banser tapi kan Banser tidak dibuat untuk saling menumpahkan darah. Makanya Gus Dur lengser. Gus Dur tahu kalau Indonesia yang mayoritas muslim kacau baku bunuh, yang senang musuh Barat. Yang rugi Indonesia juga Islam, kita semua kalah jadi abu memang jadi arang.

Forkot dan segala macam temannya di Jakarta hanya akan eksis kalau eskalasinya seperti puncaknya rezim Soeharto dulu. Hari gene mana bisa dibangkitkan. Alat-alat negara dijadikan rebutan oleh reman untuk kepentingannya. Paloh dan Mega rebutan jaksa. Konon, alat jaksa limatahun dicurigai dijadikan alat mendongkrak Nasdem. PDIP cemburu. Alat negara seperti dikapling-kapling seperti lahan parkir ujungnya Japre (jatah preman). Raja preman hidup aman. Preman mikung taruhannya muka bonyok dipukuli masa.

Apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro. Apapun institusi atau organisasinya, modelnya harus preman. Gak reman gak aman. Lihatlah 212, FPI dari tinjauan sudut pandang premanologi. Itu akan lebih mudah. Kalau yang dipakai kesing Islam, itu sangat maksuk akal dan waras. Dawet saja merek Punokawan, tak ada merek Togog. Toko jelek saja namanya Toko Pandawa. Tidak ada Toko Kurawa. Pelacur tidak akan sudi dibilang lonte. Ada namanya Solihin kerjanya adu ayam terus. Jangan terjebak nama. Tapi simak hakikatnya. HTI, FPI, Wahabi, 212 tidak ada saat mendirikan Indonesia.

Mereka baru ada setelah Perang Dingin mau selesai dan Amerika butuh musuh baru untuk industri alat perangnya. Yakni memusuhi dunia Islam. Yang selama ini Uni Sovyet korban propaganda Barat sekarang Dunia Islam jadi korban propaganda Barat. Begitu kata Putin.

Pace Yaklep :
Barang kali yang selama ini terjadi di Papua juga tidak jauh beda ya Dul dari remanisme di Jakarta. Hakekatnya baku-tipu rame rakyat yang dikorbankan. Begini-begini ini yang Tuhan marah.

Wan Bodrex:
Butuh kembali kepada narasi awal kesepakatan bangsa, falsafah Pancasila. Tapi Kang Mat kemana ya, pergi lama sekali. Bangsa ini berdosa kepada Pancasila karena menafsir sembarang dan menterlantakannya.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

TAG TERKAIT :
212 PA 212 Reuni 212

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00