Opini

Ketika Negara Membuka Pintu Bagi Para Perampok

Indah Pratiwi Budi - 21/01/2020 19:29
Oleh : Fadly Abu Zayyan

Dalam kasus Jiwasraya, ingatan saya justru tertuju pada kisaran waktu tahun 2013. Apa jadinya jika Perbankan, Pasar Modal dan Industri Keuangan Non Bank bekerja nyaris tanpa pengawasan? Itulah yang terjadi pada interval waktu Agustus 2012 sampai akhir 2013. Saat itu adalah masa transisi dan pelimpahan dari Bidang Pengawasan BI serta Bapepam LK kepada OJK.

Pada bulan Juni 2013, saya mendatangi OJK dengan maksud mendiskusikan beberapa hal kejanggalan terkait kinerja beberapa Bank Plat Merah. Dimana saat itu beberapa Bank Pembangunan Daerah mencatatkan NPL (Non Performing Loan) untuk KUR (Kredit Usaha Rakyat) hingga belasan persen jauh diatas angka kewajaran yang ditentukan, yaitu sebesar 5%. Bahkan terkesan terjadi pembiaran dari lembaga terkait yang seharusnya melakukan pengawasan. Karena yang terjadi saat itu, OJK malah belum sepenuhnya efektif bekerja. Disisi lain fungsi pengawasan sudah dilimpahkan dari BI.

Lalu, apa hubungannya dengan Jiwasaraya? Pada 12 Desember 2012, Bapepam LK memberikan izin produk untuk JS Proteksi Plan. Produk ini dipasarkan melalui kerja sama dengan Bank (bancassurance). Celakanya, ijin ini dikeluarkan ketika Bapepam LK tinggal menghitung hari saat tugas dan wewenangnya akan diambil alih OJK. Celakanya lagi, produk ini menawarkan bunga tinggi, yakni 9 hingga 13% melampaui bunga deposito. Sehingga, secara hitungan bisnis, Jiwasraya harus mengalihkan dana nasabahnya ke dalam investasi yang menjanjikan bunga diatas 13% agar memperoleh pendapatan melalui selisih bunga antara dana nasabah dengan hasil investasi. Disinilah JS memilih investasi ke pasar modal. Dan salah satunya dengan membeli saham BJBR. Saham milik Bank Plat Merah yang saat itu juga saya soroti terkait angka NPL KUR nya yang tinggi.

Pertanyaannya, bukankah performa kinerja yang buruk dengan pencatatan NPL tinggi seharusnya mempengaruhi nilai harga sahamnya? Kenapa ini justru berbanding terbalik, dimana harga saham BJBR saat itu justru terus menanjak? Inilah tugas dari kelompok "Tahu Bulat Digoreng Dadakan". Saham BJBR digoreng sedemikian rupa oleh kelompok ini dengan cara memborongnya sehingga menimbulkan reaksi (pasar) positif atas emiten ini. Saat nilai sahamnya merangkak naik, dicarilah calon "tumbal" agar berminat menanamkan investasi pada saham ini. Dan saat tumbal sudah "all out" masuk dan semakin menambah nilai dongkrak, di kemudian hari dana gorengan itu (berikut keuntungannya) akan ditarik oleh penggoreng yang menyebabkan melorotnya (kembali) nilai saham tersebut. Disinilah awal petaka bagi Jiwasraya.

Dalam hal ini JS saya katakan calon tumbal karena memang sebelumnya sudah dalam keadaan kurang sehat sejak 2004. Saat itu JS melaporkan cadangan lebih kecil dari yang seharusnya dan berlanjut pada 2006 saat laporan keuangan menunjukkan nilai ekuitas negatif Rp 3,29 triliun. Mirip dengan kasus Century, dimana Bank yang sakit diskenario akan diselamatkan dengan dana talangan. Untuk kasus JS lebih parah lagi. Selain dana nasabah yang digunakan untuk memborong saham BJBR, dana yang digunakan untuk menggoreng emiten ini patut diduga juga dari hasil membobol uang negara melalui rangkaian penyaluran KUR fiktif yang terkuak dikemudian hari. Ini sekaligus sebagai upaya pencucian uang untuk merubah sifat nominal (uang) menjadi nilai (saham). Terbukti, setelah BJBR tak lagi menjadi penyalur KUR karena penyimpangannya berangsur terkuak, nilai sahamnya mulai ngos-ngosan.

Kesimpulannya, ini bisa dikatakan sebagai "Lingkaran Setan" dimana saat itu Negara seakan membukakan pintu untuk para garong agar merampok rumahnya. Makanya jangan heran jika dikurun waktu itu, Kejahatan Kerah Putih sedang marak-maraknya. Kredit Fiktif, Gorengan Saham, Investasi Bodong, Skema Ponzi, Perusahaan Cangkang dan lain sebagainya. Dan ketika semua kejahatan itu saat ini terbongkar, yang dituduh dan disalahkan malah rezim pembongkarnya. Apik tenan!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

TAG TERKAIT :
Jiwasraya Kasus Jiwasraya Kasus Korupsi Jiwasraya

Berita Lainnya