Opini

Kucing yang Difitnah Media Terkena Corona

Indah Pratiwi - 30/01/2020 16:30
Oleh : Hening Rudimeong

Yang longgar,
Besok jam 2 siang, mari datang bersama ke kantor Radar Solo. Kita buka obrolan dengan redaksi. Sendiri atau ada yang menemani, saya tetap ke sana. Pingin kenal sama Pimred yang baru. Ditrima atau tidak, yang penting bersikap dan bergerak, tidak hanya ngomel.
Tetap tenang dan tidak bar bar.
Love
.
Tentang 27 Kucing Terpapar Panleukopenia di Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Surat Terbuka Untuk Radar Solo

Meskipun sampai malam ini banyak media lain yang menulis kejadian itu dengan benar, sederhana dan biasa. Tapi, berita yang diturunkan harian Radar Solo edisi hari ini (29/1/2020) dengan judul "Puluhan Kucing Mati, Waswas Korona" perlu disikapi. Sikap ini ada mekanismenya melalui hak jawab. Masyarakat punya hak koreksi terhadap media sebagai salah satu pilar demokrasi di negeri ini.
.
Lalu, apakah berita Radar Solo salah? Ow tidak. Tidak salah. Apalagi di tubuh berita juga memuat keterangan resmi dari dinas terkait bahwa kucing2 itu mati karena virus Panleukopenia/Distemper.

Tapi judul yang dipilih mengundang blunder. Budaya literasi di masyarakat masih minim. Berapa persen orang yang menyediakan waktu untuk tuntas membaca berita? Rata2 membaca judul saja. Dan kelemahan itu ditangkap media dengan memainkan judul yang 'menggiurkan'.

Kalaupun beberapa orang warga yang diwawancara mungkin benar menyampaikan kekhawatiran tentang korona, kan Anda jurnalis. Anda Intelektual tinta, bukan jongos narasumber. Apakah semua yang dikatakan narasumber akan tertelan mentah. Bukankah jurnalis juga punya kekuatan mengedukasi. Misal dengan mengatakan "Ini kan gejala klinisnya ke distemper, bukan korona." Harusnya justru mengedukasi, bukan menggelinding liar. Jurnalis mengenal angel atau sudut pandang berita, ada banyak pilihan dengan tetap menjadi berita "mahal" tanpa harus blunder. Saya nulis begini, karena saya pernah jadi jurnalis, sama dengan Anda.

Tidak berhenti di Jurnalis yang meliput. Tapi berita itu diserahkan ke meja redaksi. ada Redaktur, di atasnya ada Redaktur Pelaksana. Di atasnya lagi ada Pimpinan Redaksi. Berita itu pasti lewat editing. Dan di fase ini yang menentukan berita layak diturukan atau tidak dengan akurasi dari judul sampai badan berita juga foto. Kenapa memilih judul itu, kami bertanya.


Tahukah panjenengan,judul ini cukup profokatif.


Tahukah panjenengan,dampak negatif dari judul itu.


Tahukah panjenengan, tanpa ada yang nyudut2kan kucing dengan samar2 begini, banyak kucing yang disiksa di luar sana.


Tahukah panjenengan, Kawan2 yang merumahkan kucing2 jalanan itu, bukan orang2 yang kaya dan berlebih. Tapi 'harus' merumahkan, karena menyadari ancaman bahaya di luar sana terhadap kucing.


Tahukah panjenengan,Sampai hari ini kucing masih diusir sana sini.


Tahukah panjenengan,di pasar2 itu, kucing juga ditendang, dipukul, diusir dan difitnah.


.
Dan tahukah panjenengan, saya nangis tersedu pagi tadi membaca judul itu. Saya menangis sambil memeluk erat Oyen Manuto Muhammad, seekor kucing jalanan yang tertembak 5 peluru hanya karena mencuri makan untuk 2 anaknya yang masih bayi. Sayapun menulis ini sambil menangis.
.
Tolong, jadilah media yang mampu memberi cahaya, pengetuk hati banyak orang yang masih membenci keberadaan kucing di tengah masyarakat dengan berita kecintaan pada satwa. Kami percaya, Anda mampu.
Semoga besok kami berkesempatan bertemu dengan Anda semua, kami pingin curhat.

Salam Baik, Hening (Rumah Difabel Meong)

Sumber : Status Facebook Hening Rudimeong

TAG TERKAIT :
Virus Corona Wabah Virus Corona

Berita Lainnya

Melawan Pandemi

Opini 08/04/2020 16:20