Nasional

Gawat! 50 Persen Sungai di Blitar Tercemar

Lukman Salasi - 13/02/2020 16:36

BeritaCenter.COM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kabupaten Blitar mengatakan, 50 persen lebih sungai yang mengalir di Blitar tercemar. Ekosistem sungai di Blitar disebutnya terancam.

Kepala DLH Pemkab Blitar Krisna Triatmanto menjelaskan, penilaian ini berdasarkan uji sampel dengan menggunakan tiga parameter. Yakni total kekeruhan air, kandungan bahan organik dalam air dan kandungan bakteri E. coli.

"Dari tiga parameter itu, hasil uji sampelnya 50 persen sungai di Blitar termasuk sungai Brantas yang mengalir di wilayah Blitar, kondisinya tercemar," kata Krisna kepada wartawan, Kamis (13/2/2020).

DLH melakukan uji sampel pada September 2019. Di situ menunjukkan hasil kekeruhan air dan kandungan organik dalam air mencapai angka 7.5 dan kandungan E.coli mencapai angka 23.40.

"Pada bulan itu belum memasuki musim hujan. Jadi dengan hasil itu kategorinya masih ringan. Namun kemungkinan besar angkanya naik seiring musim hujan. Dan banyaknya limbah ternak sapi dan ayam ikut terbawa masuk ke aliran sungai," ungkapnya.

Menurutnya, pencemaran itu diakibatkan pembuangan limbah rumah tangga dan kegiatan warga langsung ke sungai. Di Kabupaten Blitar, terbanyak dari kandang ternak baik ayam maupun sapi. Selain itu juga penggunaan pupuk di sawah yang pengairannya masuk ke sungai.

"Dengan kondisi pencemaran ini, ekosistem di sungai juga terancam. Namun karena belum kami temukan kandungan logam berat dan membahayakan, jadi ikan yang hidup di habitat sungai di sini masih aman dikonsumsi," lanjutnya.

Berdasarkan data statistik, Kabupaten Blitar mempunyai tujuh sungai besar. Yakni Sungai Jimbe, Loding, Lekso Wetan, Putih, Jari, Manis dan Lekso. Sungai-sungai ini sebagian besar bermuara ke Sungai Brantas dan sebagian kecil di laut selatan.

Sedangkan untuk Sungai Brantas, lanjut Krisna, pencemaran sudah terjadi di sekitar daerah hulu di Malang. Karena kondisi inilah, air Sungai Brantas di Blitar tidak dijadikan bahan baku air bersih oleh PDAM.

"PDAM di sini airnya diambil langsung dari beberapa sumber mata air. Seperti sumber di Krisik, Tulungrejo, Garum dan Kademangan. Air Brantas di sini sudah tidak layak kalau untuk kebutuhan konsumsi walaupun diolah seperti apapun. Tapi untuk kebutuhan pengairan kolam ikan atau sawah, masih bisa," imbuhnya.

Mengingat kondisi pencemaran sungai yang kritis ini, Pemkab Blitar telah menuangkan aturan pengelolaan limbah dalam Perbup. Selain itu juga digalakkan gerakan terpadu kali bersih yang berkolaborasi dengan stakeholder lainnya.

"Kami juga bentuk Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas). Kelompok inilah yang bertugas mengelola limbah dan sampah di masyarakat agar tidak langsung dibuang ke sungai," tutur Krisna.

Perbup tidak secara langsung mengatur sanksi bagi pelanggar. Namun aturan itu bisa dipakai dasar menuju penegakan hukum Undang-Undang Lingkungan Hidup.

"Seperti pencemaran oleh PT Greenfield, acuan kami Perbup itu. Sehingga bisa diterbitkan surat peringatan, kemudian tahap paksaan dan terakhir pembekuan izin operasi," pungkasnya.

TAG TERKAIT :
Berita Center Pemkab Blitar Sungai di Blitar Sungai Tercemar Dinas Lingkungan Hidup

Berita Lainnya