Bisnis

Kepala BKPM Kaji Untung-Rugi Dicabutnya Status Indonesia dari Negara Berkembang

Indah Pratiwi - 24/02/2020 18:06

Beritacenter.COM - Dikeluarkannya Indonesia dari status negara berkembang menjadi negara maju oleh Amerika Serikat(AS) tentunya ada beberapa poin-poin positif dan negativ dari kebijakan AS.

"Saya baru tahu kemarin. Saya lagi meminta tim BKPM untuk mengecek apa saja kerugian kita ketika keluar dari negara berkembang menjadi negara maju dan apa saja keuntungan bagi kita sebagai negara maju," ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Jakarta, Senin (24/2/2020).

BACA JUGA

Status negara maju, kata dia, tidak semuanya dianggap bagus. Pasti ada positif dan negatif dari status itu.

"Saya belum tahu alasannya apa. Kalau menurut saya pasti ada plus minus-nya. Plus minus ini jangan kita bangga dulu dengan dia mengeluarkan Indonesia dari negara-negara berkembang menjadi negara maju. Karena tidak semua itu dianggap bagus," ungkapnya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah sebelumnya mengaku ia menyayangkan sikap AS yang mengeluarkan Indonesia dari status negara berkembang. Sebab Indonesia tidak diuntungkan atas dikeluarkannya dari daftar negara berkembang dan masuk sebagai negara maju oleh AS.

Akibatnya, kata dia, Indonesia kehilangan Fasilitas GSP (Generalized System of Preferences) dan terpaksa harus membayar mahal dari hal tersebut.

"Dampaknya sudah pasti negatif terhadap ekspor kita ke AS. Tanpa fasilitas GSP yang artinya tidak ada kemudahan tarif barang-barang. Kita bisa jadi sulit bersaing untuk masuk ke AS sehingga bisa menekan nilai ekspor Kita. Ujungnya akan menurunkan surplus atau semakin membuat neraca dagang kita defisit," jelasnya.

TAG TERKAIT :
Berita Kriminal Indonesia Berita Center

Berita Lainnya