Opini

Agen HTI Kolektor Bokep Penghina Presiden Ingin Hancurkan Negara

Anas Baidowi - 07/04/2020 09:05

Setahu saya sih, politik itu bertujuan menegakkan keadilan, sehingga dalam upaya menegakkan keadilan itu sebagai cita-cita yang tertuang dalam Pancasila agar menghadirkan masyarakat yang adil dan makmur. Sistem atau cara berpolitiknya pun harus mengikuti kaedah-kaedah perpolitikan yang tidak kontradiksi dengan cita-cita keadilan itu.

Ketika seseorang meneriakkan suara keadilan tapi ternyata aksi-aksi yang dilakukannya justru tidak adil atau dholim, maka pasti akan berbenturan dengan kenyataan yang ada. Sehingga perjuangan menegakkan keadilan itu bisa dkategorikan sedang "impoten", belum mencapai puncak klimaks tapi udah ambyar duluan alias tidak mencapai puncak perolehan nikmatnya keadilan.

Ali Baharsyah dan beberapa teman-temannya yang satu model gaya berpikirnya, selama ini merasa bahwa sedang memperjuangkan keadilan. Dengan tanpa konsep yang jelas namun sangar pada simbol, Baharsyah dan kawan-kawan HTI-nya terus menyerang siapa saja yang tak sependapat dengan cita-citanya itu.

Ada beberapa orang se-model dengan Bahasyah ini. Bukan cuma Felix Siauw yang jualan diri sebagai Mualaf, tapi mereka ini telah menyebar di kampus-kampus.

PKS dan HTI dua kelompok yang berbeda tapi satu jeroan. Artinya, HTI dan PKS sama-nya banyak, bedanya hanya logo benderanya saja. Jika PKS masih main model nasionalisme karena berhasil jadi peserta pemilu, HTI justru ingin jadi partai tunggal di dunia ini. Jadi kabarnya urusan khilafah nanti HTI yang atur, PKS nanti kalau berhasil menguasai Indonesia, biarkan HTI ikut mengaturnya.

Tapi, seperti di Suriah, para kelompok teroris seperti ISIS dan Jabal Nusrah serta yang lainnya sudah berantem duluan, masing-masing rebutan jatah kursi Khalifah. Nah, jadi bisa saja PKS dan HTI juga akan gontok-gontokkan seperti ISIS dan Jabal Nusrah dan kelompok teroris lainnya.

Namun sayangnya, HTI dan PKS serta sekutunya di negeri ini punya musuh bersama, yaitu Jokowi. Karena itulah muncul istilah Salawi atau salahkan Jokowi. Inilah yang membuat mereka bersatu dan kerap eksis memunculkan taringnya.

Setelah Jonru yang suaranya cempreng di ruang pengadilan tenggelam, kini muncul lagi orang-orang yang sok pintar macam Bahasyah ini. Adapun Felix Siauw yang masih aman-aman saja karena mainnya tidak kasar dan tidak to the point, masih cerdik dari beberapa orang yang sangat kepedaan merasa kuat seperti Jonru dan Baharsyah ini.

Sejak awal mereka sudah membenci Jokowi, bahkan sebelum HTI dinyatatakan sebagai ormas terlarang, mereka udah sering memfitnah Jokowi. Akibat dari sebaran fitnah yang rentetannya panjang itulah, membuat jemaah dan simpatisan HTI atau PKS menancapkan kuat-kuat racun fitnah itu dalam benaknya. Nah, lahirlah orang seperti Baharsyah ini.

Maka jelas politik yang mereka jalankan buka bertujuan menegakkan keadilan atau memperbaiki bangsa ini, tapi justru sangat jelas sangat menganggu dan membahayakan negara. Akan ada banyak generasi muda yang terpapar radikalisme dan paham-paham yang tidak mencintai negerinya. Bahaya laten yang masih terus mengintai.

Wabah pandemi Corona yang akhirnya menyerang bangsa ini seharusnya menghilangkan perbedaan politik atau ketegangan tentang pertarungan politik, cebong kamvret atau kadrun pun seharusnya sudah tidak ada lagi, yang ada adalah Garuda dan nilai kemanusiaan.

Namun kelompok yang mengusung Anies ini justru membuat kegaduhan di tengah-tengah bangsa yang sedang dalam keadaan genting ini. Mereka masih nyaman jadi kamvret yang bermetamorfosis jadi kadrun. Mereka masih menyebut cebong dalam "zikir" kebenciannya.

Apa yang mereka bisa sumbangkan pada negara ini? Dalam keadaan genting seperti ini masih memamerkan kebencian dan kebodohannya pada Jokowi.

Maka memang sudah amat sangat berbahaya model-model pemahaman HTI dan PKS ini. Dan mereka jelas-jelas ingin negara kacau, karena itulah teriakan "lockdown" mereka hembuskan agar niat busuknya itu tercapai. Mereka lebih berbahaya dari virus corona ini. Mereka senang negara kacau, karena dengan itu, ada peluang menumbangkan kekuasaan dan sistem Pancasila.

Orang-orang yang kebenciannya sangat berlebihan kepada Jokowi, sementara Jokowi bukanlah sosok seperti tokoh dunia yang membantai warga Palestina dan Yaman, maka pasti yang tak beres itu adalah si pembenci itu.

Mereka yang katanya mengaku beragama dan taat pada hukum Islam, tidakkah mereka membaca ayat 216 dalam surah Al-baqarah?

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Maka ketika kebenciannya sangat berlebihan, itu artinya apa yang selama ini Jokowi lakukan adalah benar, dan mereka merasa dirugikan karena kepentingan kelompoknya tidak berjalan mulus.

Jika di zaman SBY mereka tumbuh subur dan bisa melaksanakan acara akbar di Gelora Bung Karno. Artinya mereka diusung oleh oknum yang sudah merasa kehilangan lahan-lahan basah. Maka karena itulah, Jokowi dianggap sosok berbahaya bagi keberadaan keberlangsungan mereka, karena itulah mereka terus berupaya agar Jokowi lengser. Bagi mereka Jokowi adalah ancaman eksistensi mereka.

Ali Baharsyah hanyalah orang suruhan, bukan raja mafianya. Ia hanyalah orang bodoh yang sok pintar, merasa paling relijius tapi koleksi bokep. Ia sepertinya ditugaskan untuk ikut mengacaukan keadaan saat ini, tapi akhirnya terciduk juga. Saat ini dedengkot Baharsyah mencoba lepas tangan sembari mencari lagi cara lain untik mengusik negara ini di bawah kepemimpinan Jokowi. Mereka akan mencari sosok muda yang nekat tapi licik.

Alasan Baharsyah Serang Jokowi
Polri mengatakan motif Ali Baharsyah membuat konten video hinaan terhadap orang nomor satu di Indonesia karena ingin menyebarkan pahamnya mengenai pemerintah.

"Hasil pemeriksaan, motif tersangka menyebarluaskan paham yang diyakininya, yakni beberapa paham yang bertentangan, dan beberapa paham yang kami lakukan pendalaman," kata Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskri Polri, Kombes Himawan Bayu Aji, dalam konferensi pers yang disiarkan saluran YouTube Tribrata TV, Senin (6/4/2020).

Ali Baharsyah ditangkap setelah dilaporkan oleh Ketua Cyber Indonesia Muannas Alaidid ke Bareskrim Polri pada Rabu (1/4) lalu. Ali Baharsyah dilaporkan atas tuduhan penyebaran ujaran kebencian dan hoax soal kebijakan darurat sipil dalam penanganan virus Corona (COVID-19).

Dalam laporan bernomor: LP/B/0184/IV/2020/BARESKRIM itu, Muannas melampirkan barang bukti 5 lembar tangkapan layar dan 1 unit USB berisi rekaman video Ali Baharsyah. Polisi mengatakan pihaknya sudah memantau media sosial milik Ali sejak 2018.

Ali Baharsyah ditangkap pada Jumat (3/4) malam. Tak hanya Ali, 3 temannya yang berada di lokasi penangkapan ikut digiring aparat ke Bareskrim. Polisi juga menemukan file yang mengandung pornografi milik Ali.

Sebelumnya, video Ali Baharsyah ini beredar viral di media sosial. Video tersebut diberi teks #Go Block Dah.

"Woi, tanya dong Itu presiden sipaa sih? G****k banget dah. Ini ada virus, darurat kesehatan, kok yang diterapin malah kebijakan darurat sipil? emang ada perang? Ada kerusuhan, ada pemberontakan? Heran deh, orang g* kok bisa jadi presiden. Emang nggak ada yang lebih pinter lagi apa? Kita kan punya undang-undang nomor 6 tahun 2018 tentang kekarantina kesehatan kenapa itu nggak dipake, wong dia sendiri yang tanda tangan . Itu buat ngarantina orang apa ngarantina monyet, ngarantina cebong? G***** banget dah," ujar Ali Baharsyah dalam rekaman video itu.

Sumber: Seword

TAG TERKAIT :
POLISI Berita Kriminal Indonesia Penghina Jokowi Baharsyah

Berita Lainnya