Opini

Ini Masalah Perut, Bung Anies...!

Indah Pratiwi Budi - 01/05/2020 18:16
Oleh: Ferdinand Matita

MUNGKIN banyak diantara kita yang asing dengan nama Charities Aid Foundation (CAF). Lembaga amal internasional yang bermarkas di Inggris itu menempatkan Indonesia sebagai "generous country", negara nomor satu dalam hal kemurahan hati. Masyarakat yang suka saling menolong.


Sebagian dari kita tentu ingat aksi solidaritas "Koin Peduli Prita" akhir tahun 2009. Prita Mulyasari diputuskan melakukan pencemaran nama baik RS Omni Internasional, Tanggerang Selatan dan harus membayar kompensasi Rp 204 juta. Masyarakat bergerak dan dalam waktu singkat terkumpul dana hampir Rp 826 juta, empat kali lipat lebih.


Banyak peristiwa, baik itu bencana alam, maupun khususnya ketidak-adilan kelompok dan individu yang menyedot perhatian, reaksi, empati sampai campur tangan langsung masyarakat luas.
Sukarelawan, donatur, dan membantu orang yang tidak dikenal atau asing (helping stranger) adalah budaya tolong menolong - meminjam hasil perasan Pancasila oleh Bung Karno - adalah gotong royong.

Filosofi itu ada di Bumi Pertiwi dengan masyarakat majemuk yang khas: Indonesia.
Wajar bila kemudian CAF menempatkan Indonesia dengan tingkat partisipasi masyarakat terbaik dalam menghadapi pandemi Covid-19. Secara kasat mata kita menyaksikan bagaimana yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, dunia usaha umumnya, terutama para pengusaha keturunan baik sebagai individu maupun atas nama perusahaan, bergerak membantu dalam diam.

MENJADI aneh ketika seorang presiden di Indonesia yang bernama Joko Widodo membagi-bagikan sembako menimbulkan tanggapan minor dari sekelompok orang. Parahnya, seorang yang menjadi nomor satu di Ibukota Jakarta, Anies Baswedan justru mengeluarkan larangan pembagian zakat atau paket bantuan di jalan raya.

Apa yang diinginkan Anies Baswedan? Bantuan disalurkan langsung ke pemukiman warga "door to door", melalui acara resmi yang justru mengumpulkan massa seperti yang dilakukan Pemda DKI sebelumnya, atau disalurkan melalui Pemda DKI?

Tidak ada satu pun pengusaha dermawan yang percaya dengan kinerja Pemda DKI. "Yang ada ke laut," cibir seorang pengusaha.

Alasan bagi-bagi zakat atau paket bantuan di jalan raya menimbulkan kerumunan massa yang mempermudah penyebaran Covid-19 jelas mengada-ada. Bantuan selama ini diberikan tanpa pemberitahuan, bergerak dinamis dengan inisiatif pemberi bantuan yang mendatangi warga tidak mampu di pinggir jalan.

Keputusan Anies ibarat kepanjangan suara minor sekelompok orang terhadap aksi bagi-bagi sembako Presiden Jokowi. Suara minor yang keluar dari situasi kebatinan mereka yang kalah. Mereka yang dendam, iri kepada kepemimpinan Presiden Jokowi. Keputusan Anies adalah bentuk protes langsung, sekaligus bentuk perlawanan terhadap Jokowi. Menohok...!!!

Anies bahkan tidak peduli keputusannya menghentikan aksi para sukarelawan, donatur, dermawan dan para helping stranger dalam ikut meringankan beban warga miskin dan tidak mampu akibat pandemi Covid-19. Kita tidak akan lagi menyaksikan aksi empati sesama anak bangsa: gotong royong.
Peace

TAG TERKAIT :
Anies Baswedan Anies Gubernur terbodoh Anies Gubernur Terbodoh Anies Gubernur Pembohong Gubernur Pembohong Anies Sok Sibuk Urus Corona Anies Takut Corona Anies Juara Bohong

Berita Lainnya