Opini

Corona Menyerang Siapa Saja

Indah Pratiwi Budi - 06/05/2020 13:15
Oleh : Mimi Hilzah

Foto ini pertama muncul di timeline ketika saya menyalakan ponsel sesaat sebelum menyiapkan sahur. Fauzan Mukrim pada paragraf pertama tulisannya cukup keterlaluan. Ia begitu tipis menyayat nurani, menggambarkan bagaimana anak usia 7 tahun ini bersiap sendiri menghadapi sebuah pertarungan besar. Tas kresek itu seandainya ada yang membawakan. Wajah kecil itu seandainya berurai air mata.

Sepanjang menyiapkan sahur, foto ini terus melekat di kepala saya. Bahkan saya merasa sangat payah berusaha agar air mata tak jatuh di piring makan saya.

Ini yang sering saya keluhkan. Kita mungkin sehat dan kuat secara fisik, tapi bagaimana jika kita justru merisikokan orang-orang di sekitar kita yang bisa jadi jauh lebih lemah? Bila mereka sembuh, bila tidak? Berapa tahun penyesalan yang akan kau bawa-bawa sampai kau bisa memaafkan dirimu sendiri?

PSBB di kota tempat saya tinggal yang baru berjalan beberapa hari tertinggal menjadi semacam aksi tutup jalan belaka oleh petugas, dari jalan utama dialihkan ke jalan yang lebih sempit, yang mana aturan jaga jarak patah dengan sendirinya, ramai orang berkeliaran tetap seramai hari biasa. Bahkan lebih ramai sebab ini bulan puasa, bulan pertunjukan segala hal, alih-alih bulan meredam segala nafsu.

Saya tak mengerti, efektifnya di mana ketika anjuran #dirumahsaja tetap tidak diindahkan oleh mereka yang setiap sore gemar sekali berkeliling mencari menu berbuka puasa. Tidak bisakah kalian pergi mencari bahan makanan bukan di jam-jam padat pembeli? Atau kenapa tidak pergunakan aplikasi pesan antar untuk sementara, yang mungkin ada ongkos yang harus dibayarkan tapi minimal keselamatan kalian terjaga? Ada banyak sekali tetangga kiri kanan yang kini menyediakan penganan berbuka, dijual di depan rumah bahkan walau tetangga lima meter darinya juga berjualan produk yang sama. Beli saja dari mereka, supaya mereka punya sedikit yang bisa disisihkan untuk membeli beras dan lauk. Jangan cari yang enak dan mahal, tidak makan menu yang terbaik di saat susah begini toh tidak akan mematikan kita. Minimal tidak semematikan keluar rumah untuk urusan yang tak seberapa perlu.

Lalu kini ada begitu banyak orang mengeluh tak cukup makan, hanya makan mie instan selama beberapa hari, anak tak bisa minum susu, beras tinggal setangkup... Bagaimana mau menolong mereka, bagaimana mau berharap roda perekonomian segera normal berputar, kalau kita tak bisa menahan diri selama beberapa waktu untuk saling menjaga jarak? Bagaimana menyingkat urusan wabah ini kalau penularannya justru menyebar semakin menguatirkan? Bahkan malah yang menyedihkan ada di antara mereka yang menjerit-jerit mengeluh itu justru adalah mereka yang menganggap sepele anjuran jangan ke mana-mana untuk sementara waktu. Mereka masih memenuhi masjid, masih berkumpul-kumpul tanpa masker di ujung gang, yang bilang hidup mati di tangan Allah semata. Kalian bandel, kalian kesusahan, tapi kalian tetap ngeyel? Sanggup susah berapa lama?

Dan apakah hanya saya yang setiap hari dilanda kebingungan? Bahwa orang-orang mati karena wabah setiap hari membayang-bayangi kepala, mereka yang dimakamkan tanpa ditunggui keluarga dan sahabat. Mati dalam sepi, rasanya sedih sekali. Mati begitu saja tanpa bisa pamit dan dipeluk anak sendiri, yaa Rabbi... Tapi kemudian setiap kali berada di jalanan, berkeliaran begitu banyak orang-orang sok tangguh yang menganggap remeh persoalan ini, seakan-akan mereka kebal dan tak mungkin menyakiti siapapun, apalagi keluarga sendiri.

Lalu nanti jika salah seorang dari keluarga mereka tumbang, apa mau dibilang?

***

Saya pamit dari medsos. Tetap saling jaga dan mendoakan, ya. Bahkan dengan manusia lain yang asing bagi kalian. Saya malu hati menuliskan hal-hal yang tampaknya riang dan bersemangat padahal sejujurnya tidak begitu adanya.

Saya berantakan. Saya kebingungan. Dan saya sangat sedih.

Mudah-mudahan Allah berkenan memberi kita semua perlindungan, kasih sayang, rezeki yang cukup, hati serta pikiran yang lapang. Mudah-mudahan apapun yang terjadi, kita telah cukup diberi kesempatan untuk berbuat yang terbaik dari diri kita. Tidak egois, tidak menjadi sebab penderitaan orang lain. Tidak menyusahkan mereka yang sudah susah dari sananya.

See you when I see you.

(Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

TAG TERKAIT :
Indonesia Lawan Corona Bersatu Lawan Corona Indonesia Siap Lawan Corona Ayo Lawan Covid-19 Ayo Bersatu Lawan Covid-19 Indonesia Bersatu Melawan Corona Melawan Hoax Covid-19

Berita Lainnya