Opini

Jokowi Adalah Panglima Perang Melawan Covid-19

Indah Pratiwi Budi - 14/05/2020 12:07
Oleh: Saefudin Achmad

Pada perang Badar, Uhud, Khandak, umat Islam berjuang untuk melawan ancaman penindasan kaum kafir Quraisy. Demi melindungi harkat, martabat, serya nyawa umat Islam, perang melawan Kafir Quraisy menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.

Demi melindungi harkat, martabat, dan nyawa rakyat Indonesia, perang melawan penjajah pun tak terelakkan. Ada banyak sekali peperangan di Indonesia di masa penjajahan, seperti perang Diponegoro, Batavia, Serangan 10 November 1945, Serangan Umum 1 Maret 1949, dan yang lain.

Apapun yang berpotensi menghilangkan nyawa rakyat harus diperangi. Dalam konteks saat ini, Covid-19 adalah sesuatu yang harus diperangi. Tidak hanya di Indonesia, perang melawan Covid-19 terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia, Presiden Jokowi adalah panglima perang melawan Covid-19.

Perang melawan Covid-19 bisa jadi lebih sulit karena musuh tidak kasat mata. Tanpa kita melihat keberadaannya, tahu-tahu Covid-19 sudah menyerang paru-paru banyak rakyat Indonesia dan sudah seribu lebih yang meninggal. Oleh sebab itu, perang melawan Covid-19 menjadi tak terelakkan.

Pada perang melawan Covid-19, Presiden Jokowi adalah panglima perang dibantu oleh pejabat pemerintahan. Prajurit yang berada di garis depan adalah para tenaga medis. Musuhnya adalah Covid-19. Yang harus dilindungi adalah seluruh rakyat Indonesia.

Di setiap perang ada strategi. Seperti pada perang khandak dimana umat Islam membangun parit untuk menahan gempuran kafir Quraisy. Jenderal Soedirman melakukan taktik gerilya, yaitu perang yang dilakukan secara sembunyi sembunyi, penuh kecepatan, sabotase dan biasanya dalam group yang kecil tapi sangat fokus dan efektif untuk melawan penjajah.

Pun begitu dengan perang melawan Covid-19. Strategi yang dibuat oleh Presiden Jokowi dan jajaran pejabat pemerintah yang lain adalah membuat kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk menghentikan mata rantai penyebaran Covid-19 serta menyembuhkan sebanyak mungkin rakyat yang telah terinfeksi Covid-19.

Sudah banyak kebijakan yang dibuat oleh pemerintah untuk menghadapi pandemi ini seperti meliburkan sekolah, membuat aturan wajib memakai masker, PSBB, pelarangan mudik, memberikan bantuan sosial, dan yang lain. Mungkin kebijakan ini belum bisa seratus persen mengalahkan pandemi covid-19, tapi setidaknya bisa mengurangi dampak buruk.

Di setiap perang selalu ada orang munafik yang menjadi pengkhianat. Orang ini hanya menjadi benalu, dan terkadang menjadi penyebab kalah dalam perang. Dalam perang Uhud ada nama Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang munafik yang membuat umat Islam kalah di perang Uhud. Di zaman penjajahan, ada banyak orang Indonesia yang menjadi pengkhianat. Mereka menjadi mata-mata penjajah.

Lalu bagaimana dengan perang melawan Covid-19?

Pasti ada, dan mereka adalah bagian dari rakyat Indonesia. Mereka mungkin senang melihat pemerintah dibuat kalang kabut oleh pandemi ini. Bahkan kalau bisa pandemi ini jangan berlalu dulu sampai pemerintah dibuat collapes.

Mudah saja untuk mendeteksi mereka. Mereka biasanya hanya nyinyir dengan kebijakan apapun yang dikeluarkan oleh pemerintah, bukan kritik. Mereka biasanya juga menuding peemrintah yang tidak-tidak, misalnya pemerintah gak mau lockdown karena tak mau mengeluarkan duit buat rakyat. Nyatanya pemerintah telah menggelontorkan 400 trilyun lebih untuk bantuan sosial.

Mereka tak pernah mendukung kebijakan pemerintah. Alih-alih bersatu melawan Covid-19, mereka malah terus memprovokasi rakyat dengan isu-isu tak penting dan basi. Ada juga mantan pejabat negara dengan sederet gelar akademik yang dengan bodohnya mempertanyakan kebenaran kalau Jokowi adalah alumni UGM.

Sikap yang baik bagi rakyat dalam perang melawan Covid-19 adalah sepenuhnya percaya dengan pemerintah. Ikuti arahan pemerintah. Patuhi kebijakan yang dikeluarkan. Boleh memberikan kritik yang baik dan membangun kepada pemerintah, tapi bukan nyinyir. Kalau belum bisa berkontribusi secara langsung dalam peperangan ini, setidaknya diam sudah lebih baik.

Jangan sampai terpengaruh provokasi dan propaganda oleh para pengkhianat yang jika ditelusuri rekam jejaknya, mereka sudah melakukan hal itu sejak 2014. Jadi bukan orang baru. Mereka adalah orang-orang lama yang konsisten nyinyir ke pemerintah. Sebabnya sederhana, karena politik, atau karena pernah dipecat dari jabatan di pemerintahan.

Semoga dengan kepercayaan penuh kepada pemerintah, perang melawan Covid-19 bisa segera berakhir dengan kemenangan. Memang bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti mustahil.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Bersatu Lawan Covid-19 Ayo Bersatu Lawan Covid-19 Lawan Covid-19

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00