Opini

Kenapa Jokowi Naikkan Iuran BPJS, Tak Turunkan Harga BBM?

Indah Pratiwi Budi - 16/05/2020 09:24
Oleh: Assaro Lahagu

Publik bertanya-tanya kenapa Jokowi ngotot menaikkan iuran BPJS?
Apakah Jokowi tidak memahami kondisi rakyatnya saat ini?
Mengapa ia juga tidak menurunkan harga BBM?
Mengapa Jokowi membuat rakyatnya yang sudah susah, disusahkan lagi?

Mari kita ulas pertanyaan publik ini dengan hati riang gembira, aman sejahtera dan berdamai dengan Corona.

Karakter kuat Jokowi adalah tangguh, pekerja keras dan mandiri. Pantangannya adalah tergantung pada orang lain. Ia bukanlah tipe orang pengemis, peminta-minta atau mengharap belas kasihan. Ia malu kalau ia menjadi beban. Baginya lebih terhormat makan tempe dari usaha sendiri, daripada makan lobster hasil dari meminta-minta atau belas kasihan dari orang lain.

Karakter kuat inilah yang menempanya menjadi pengusaha tangguh, kuat dan mandiri. Hal ini juga yang membuat dirinya kuat melakukan blusukan di tengah rakyat siang dan malam. Karakter tangguh, mandiri dan berjuang tanpa bergantung dari orang lain ia turunkan pada anak-anaknya.

Lihatlah putera-puteri Jokowi... Adakah yang menebeng dan memanfaatkan jabatan ayahnya? Sama sekali tidak. Mereka semua bekerja dan menekuni usaha sendiri. Tak peduli hanya pengusaha pisang goreng atau martabak. Yang penting halal dan bisa memberi kehidupan.

Dalam keluarganya, Jokowi sudah menanamkan kuat-kuat dua karakter ini. Pertama, anda harus berjuang mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Kedua, anda tidak boleh menjadi beban bagi orang lain dan menjadi peminta-minta. Dua karakter inilah yang mempengaruhi Jokowi ketika ia menjadi walikota, gubernur hingga saat ini presiden.

Masih ingatkah saat Jokowi baru saja menjadi Presiden? Apa kebijakan paling menyakitkan rakyatnya? Ia mencabut subsidi BBM dan listrik. Sakit memang. Tetapi Jokowi sama sekali tidak suka rakyatnya terus disuapin, dimanjakan dan diberi gratisan terus. Ia mengajari mereka bagaimana hidup tegar, kuat, mandiri dan tidak menjadi bangsa pengemis.

Terbukti, hasil dari subsidi BBM dan listrik itu bisa membangun ribuan kilometer jalan negara, ratusan kilometer jalan tol, berapa banyak jembatan, lapangan terbang, pelabuhan, pintu gerbang, waduk, bendungan, kantor, dana desa dan infrastruktur lain dapat dibangun.

Tak bisa dibayangkan jika ada Rp. 300 triliun pertahun beban subsidi BBM dan listrik masih diberikan saat ini. APBN habis digerogoti untuk biaya manja rakyatnya.

Bagaimana dengan utang? Jokowi adalah orang yang berani berutang. Sebagai pengusaha, Jokowi berani meminjam uang untuk modal yang bersifat produktif dan bukan konsumtif. Ia berani berutang untuk membangun bangsanya dan bukan untuk mengorupsinya.

Lalu mengapa ia ngotot menaikkan iuran BPJS? Alasannya sudah sangat jelas. Setiap tahun puluhan triliun APBN habis untuk menyubsidi defisit BPJS. Duit puluhan triliun ini menggerogoti dan membebani uang negara. Ini berarti negara terus menyuapi dan memanjakan rakyatnya yang tidak pernah mandiri. Jokowi amat muak melihat praktek ini.

Pertanyaannya adalah tepatkah saat ini iuran BPJS itu dinaikkan?
Tepat !!
Saat ini penerimaan negara dari pajak anjlok. Demikian juga pada bulan-bulan mendatang, pemasukan negara semakin kering-kerontang.

Sementara itu subsidi untuk BPJS terus membengkak apalagi ditengah pandemi. Ini jelas mencekik APBN yang sudah mulai sekarat itu. Tak bisa dibayangkan perubahan postur APBN 2020 setelah dihantam Corona. Yang mengkhawatirkan adalah defisitnya berapa? Berapa utang konsumtif bertambah?

Saat ini adalah justru saat yang tepat. Saatnya Jokowi berteriak meminta golongan masyarakat mampu terutama kelas I dan II BPJS untuk ikut meringankan APBN. Jokowi ingin APBN lepas dari beban menyubsidi BPJS. Caranya iuran peserta harus dinaikkan.

Bagi Jokowi, BPJS ini adalah gotong-royong. Tidak lebih dari itu. Pihak yang sanggup, membantu yang lemah. Sesederhana itu. Ada banyak orang kaya membayar iuran BPJS tetapi tidak pernah memakainya. Sementara rakyat jelata berjibun antri di rumah sakit memanfaatkan BPJS. Nah, ini yang diharapkan.

Lalu dimana peran negara? Peran negara adalah hadir untuk mengatur dan menyalurkan subsidi dari si kaya kepada si miskin. Negara hadir untuk memastikan keadilan sosial. Yang sanggup menyubsidi yang miskin.

Negara hadir bukan menyuapi rakyatnya dengan subsidi terus-menerus. Jika nantinya negara sudah kuat, makmur, banyak duit seperti negara maju, bolehlah menggratiskan pengobatan kepada rakyatnya. Tetapi saat ini bukanlah saat yang tepat.

Jika Jokowi ngotot menaikkan iuran BPJS, dan lagi akan dibatalkan MA, itu karena karakter Jokowi tidak mau rakyatnya menjadi bangsa yang disubsidi terus. APBN yang selalu defisit, lalu untuk menutupinya dengan duit pinjaman, tidaklah layak digunakan untuk memanjakan rakyat. Sakit memang.

Jokowi paham benar bahwa Indonesia tidak akan maju jika terus menjadi bangsa yang bermental suka disuapi dan suka barang gratis. Ia ingin rakyat Indonesia mulai melupakan duit subsidi. Ia ingin rakyat Indonesia tidak menjadi beban bagi APBN yang sebagian dari utang itu.

Lalu mengapa Jokowi tidak menurunkan harga BBM kendatipun harga minyak dunia jatuh ke titik paling rendah dalam sejarah. Bahkan harganya minus alias tidak laku. Penjual minyak sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari minyak dan justru harus membayar minyak yang dijualnya karena harus membayar biaya pengiriman.

Saat ini, ditengah pandemic Covid-19, rakyat yang membutuhkan BBM sangatlah kecil. Rakyat yang membeli BBM tidak sampai 10 persen karena terpaksa harus keluar mencari kebutuhan. Sekitar 20 persen lainnya hanya kendaraan transport pengangkut barang. Sementara 70 persen yang lain sedang menjalani social distancing dan PSBB.

Apa maksudnya? Pemasukan keuangan negara dari pendistribusian BBM jatuh atau anjlok ke titik nadir. Jika harganya diturunkan lagi, maka hal Ini langsung membuat Pertamina bangkrut. Pertamina akan sesak nafas dan ikut mati kena Covid-19. Padahal nyawa perputaran ekonomi negara ini ditopang kuat oleh Pertamina.

Jika harga BBM dijatuhkan mengikuti jatuhnya harga minyak dunia, maka ekonomi negara akan hancur dan lumpuh total. Pertamina akan rugi besar dan kolaps. Saat ini Pertamina terus membiayai biaya pengeboran yang tidak bisa dihentikan, biaya operasi kilang-kilang minyak yang tidak bisa distop dan menggaji puluhan ribu pegawai.

Jika Pertamina hancur, maka ekonomi negara akan kolaps. Jika ekonomi kolaps, Jokowi dipastikan juga ikut kolaps. Suara-suara yang ngotot agar BBM diturunkan mengikuti harga pasar dunia adalah suara jahat yang ingin menghancurkan Jokowi.

Jadi jika Jokowi ngotot menaikkan iuran BPJS, itu karena ia sedang melatih rakyatnya agar tidak menjadi bangsa yang bermental manja dan hanya terus disubsidi dari utang. Jika Jokowi tidak menurunkan harga BBM, itu karena ia paham bahwa nyawa perekonomian negara dan nasibnya sendiri berada di tangan Pertamina. Begitulah kura-kura.

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Naikan Iuran BPJS

Berita Lainnya

Lonte

Opini 18/11/2020 15:29