Opini

Mewaspadai Radikalisme Di Internet

Indah Pratiwi Budi - 09/06/2020 11:31
Oleh : Zakaria Penulis adawal warganet tinggal di Bogor

Perkembangan internet nyatanya telah memudahkan banyak urusan manusia. Salah satunya adalah dalam urusan mencari berita. Kalau dulu kita harus menunggu hari esok untuk mendapatkan berita di koran pagi, saat ini justru kapanpun itu kita bisa mendapatkan berita hanya dari akses internet. Namun tak hanya berita yang datang lebih cepat, ajakan untuk bertindak radikal juga marak terjadi di Internet.

Media Internet dirasa menawarkan kecepatan akses data, internet juga memungkinkan bagi siapapun untuk dapat mengunggah konten apapun termasuk konten radikal.

Para radikalis ternyata memahami apa yang menjadi minat anak muda khususnya ketika berselancar di internet terutama di media sosial. Anak muda yang merupakan konsumen internet terbanyak, tentu menjadi sasaran kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi yang tidak sesuai dengan Pancasila tersebut.

Keresahan anak muda terhadap kondisi bangsa, dianggap sebagai pintu masuk kaum radikal untuk menyebarkan paham ideologi sesat tersebut. Endingnya mereka akan menyatakan bahwa demokrasi itu tidak sesuai dengan syariat Islam, dan segala masalah bisa diselesaikan dengan paham khilafah.

Survei dari Alvara Research Center menemukan bahwa ada sebagian milenial atau generasi kelahiran akhir tahun 80an dan awal 90an, menyatakan setuju pada konsep khilafah sebagai bentuk negara. Survei tersebut dilakukan terhadap 4.200 milenial yang terdiri dari 1.800 mahasiswa dan 2.400 pelajar SMA di Indonesia.

Dalam survei tersebut, milenial memang memilih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Namun ada 17,8 persen Mahasiswa dan 18,4 persen pelajar menyatakan setuju terharap khilafah sebagai bentuk negara ideal sebuah negara.

Alvara juga melakukan survei terhadap kalangan profesional yang melibatkan 1.200 responden. Survei ini dilakukan untuk mengetahui potensi konservatisme dan radikalisme di dua kelompok tersebut.

Hasilnya, milenial khususnya siswa SMA dan Mahasiswa lebih berpikiran konservatif dibanding generasi yang sudah bergelut sebagai profesional atau pekerja.

Konservatisme milenial tidak hanya terlihat dari jawaban atas bentuk negara ideal, melainkan juga tercermin dari jawaban saat disodorkan pertanyaan terkait pertentangan Pancasila dan Ideologi lain.

Meski demikian, mayoritas dari seluruh responden baik dari kalangan profesional ataupun milenial, mayoritas setuju kalau Pancasila merupakan ideologi terbaik bagi Negara Indonesia.

Menurut peneliti Alvara, Hasanudin mengatakan, paparan konservatisme di kalangan milenial tak lepas dari konsumsi internet yang sangat tinggi dari kelompok usia yang lahir pada era 1990-an awal ini.

Tentu saja bibit konservatif itu akan berbahaya jika kalangan milenial tidak dikawal dalam bermedia sosial yang banyak mengandung konten radikalisme.

Alvara juga menunjukkan, sebanyak 83,4 persen dari penduduk berusia 17-25 tahun di Indonesia mengakses internet. Sebanyak 23 persen diantaranya tergolong pecandu internet karena mengakses internet lebih dari 7 jam sehari.

Tentu saja angka tersebut menunjukkan bahwa kemudahan akses internet, ternyata berbanding lurus dengan meningkatnya penyebaran konten radikal.

Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono menilai, keberadaan internet menjadi salah satu sarana berkembangnya radikalisme di Tanah Air. Sebab saat ini siapapun bisa dengan bebas mengakses internet dengan menggunakan ponsel pintar.

Dalam sebuah kuliah umum di Universitas Andalas, Gatot menuturkan ada dua orang Polwan di Polda Maluku Utara yang mempelajari paham radikal melalui media sosial yang terenkripsi, mereka tidak saling kenal tapi seorang polwan bisa dibuat siap jadi pengantin yang melakukan aksi teror.

Menurut Gatot, polwan sebelumnya sudah mendapatkan wawasan kebangsaan, namun karena pengaruh internet akhirnya malah bisa didoktrin. Artinya kalau tidak bijak dalam menggunakan teknologi kemudian belajar sesuatu di media sosial maka nantinya akan menimbulkan permasalahan.

Wakapolri tersebut mengingatkan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi adalah penggunaan media sosial yang bijak di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Paham ideologi yang merongrong ideologi pancasila adalah sesuatu yang sangat berbahaya dan dapat mengancam persatuan yang telah dirajut oleh pendahulu bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, jika kita terjebak dalam kungkungan radikalisme, tentu patut dipertanyakan rasa penghargaan kita terhadap para pendahulu. Bukankah pancasila sudah final dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat tanpa memandang Suku, Ras dan Agama.

TAG TERKAIT :
Terorisme Radikalisme Kelompok radikal Kelompok teroris Bahaya Laten Radikalisme

Berita Lainnya