Opini

HIDUP DI JAMAN JOKOWI LEBIH ENAK DARI PADA JAMAN SOEHARTO

Indah Pratiwi Budi - 09/06/2020 12:00
Suara dari Guru Besar UI (Prof. Rhenald Kasali)

Hidup zaman sekarang jauh lebih enak. Saya bingung kalau ada yg bilang enak zaman dulu. Juga bingung kalau dikatakan ekonomi susah. Yg susah kan cuma tinggal preman, koruptor dan politisi yg tak terpilih lagi oleh rakyat.

Ngga tahu ya bagaimana takutnya kita sebagai mahasiswa, dulu waktu kita dikejar2 intel, ngumpet di kamar jenazah, mau menyatakan pendapat susahnya minta ampun. Itu saat negeri dikuasai oknum diktator militer. Ngeri...

Cari seribu perak saja saat itu susah sekali. Cuma karena dulu gak ada WA dan FB kita gak saling komen. Lagian kalau mengeluh ya besoknya dah hilang diciduk aparat. Ngeri...

Naik bis ngga ada yg ada ACnya. Copetnya ada dimana2. Bahkan pada bawa sangkur. Kita penumpang bis dulu biasa dirogoh dan diperas copet dan begal.

Preman di setiap sudut jalan.

Untuk bisa makan paling2 sama krupuk dan sudah top kalau dapat sop kaki kambing. Itu baru bisa kite makan beberapa bulan sekali.

Mudik, ampun...susahnya setengah mati. Naik kereta semua orang rebutan sampai masuk lewat jendela dan bawa kardus2 bau ikan asin, bukan koper. Toiletnya kotor. Anak2 kegencet-gencet. Tak ada celah kosong. Orang tidur sambil berdiri. Calonya juga banyak. Uang THR habis diembat calo dan copet.

Di kampung2 dulu, ada Babinsa yg galaknya minta ampun. Lurahnya juga korup. Bupatinya harus tentara. Kita apa2 harus urusan sama tentara. Ada litsus dan lainnya. Di jalanan tentara galaknya minta ampun. Kita ambil jalan mereka, habis kita digamparin. Lewat komplek tentara serem sekali.

Koran sering dibredel. Lalu puncaknya waktu anak mahasiswa sudah gak tahan gegara mertua kawan kita mau terus jadi raja, maka penculikan terjadi semena2.

Banyak mahasiswa saya yg hilang. Orangtua menangis. Mereka bukan cuma ditembak aparat. Tetapi juga diinjak2 dg sepatu lars dan nyawanya meregang. Mereka juga dihadapkan dg laskar2 berjubah, muncul pasukan berjubah agama yg menyerang mahasiswa pakai bambu runcing. Penjarahan dibiarkan. Banyak orang hilang.

Kekerasan itu adalah bagian dari sesuatu yg awalnya adalah intoleransi. Jangan biarkan itu terulang lagi di negeri yg sudah diperbaiki oleh para ulama dan umaroh hebat. Gus Dur sudah mengembalikan militer ke barak untuk fokus ke pertahanan dan keamanan. Tentara zaman sekarang sudah jauh lebih manusiawi dan punya tantangan baru, yaitu perang proxy.

Sekarang para oknum yg dulu gagal melanjutkan kekuasaannya secara diktator mencoba kembali. Tentu mereka senang mengendalikan orang2 lugu dan mereka yg mudah dimanipulasi dg "sorga". Tetapi janganlah kita mudah tertipu, sahabat. Sebab apapun yg datang dari Allah pasti adalah kelembutan dan kasih sayang, bukan amarah atau menganjing2kan manusia. Bukan yg keras dan menakut2i. Juga bukan yg haus kuasa dan korup.

Bahkan mereka kini memakai teknologi internet. Menyerang TGB dan ustadz2 baik. Menyerang Jokowi, Sri Mulyani, Susi, Adi MS, Rudiantara, BUMN, Maruf Amin, Ustad Somad dll.

Orang2 baik ini diserang pakai bot dan robot, pakai "senjata pemusnah massal" hoax. Pakai segala yg serba palsu.

Kita semua ditakut2i. Seakan2 besok Indonesia tak ada lagi. Seakan2 jadi sopir ojol itu pekerjaan budak dan bodoh, seakan kita semakin miskin. Semua kemajuan dianggap kemunduran.

Faktanya kita justru tengah menuju negara yg makmur. Daya beli meningkat, ketimpangan turun, harga2 terkendali, banyak yg semakin murah. Tetapi memang banyak yg berubah, orang sekarang lebih senang pindah2 kerja sehingga kesannya banyak yg nganggur. Padahal mereka lebih punya pilihan dan orangtua mereka lebih kaya dari orangtua kita dulu.

Taksi dulu hanya ada yg seratus ribuan yg silver dan gold. Sekarang ada ribuan taksi yg ongkosnya hanya ribuan perak.

Dulu bini kita beli kerudung cepek dapat satu, sekarang bisa dapat 4 gegara bisnis online dibuka pemerintah.

Dulu kalau orang Jakarta naik mobil ke Surabaya butuh 15-20 jam. Sekarang cukup 8 jam. Airportnya baru cakep2. Pelabuhan juga keren. Sekolah2 tak terdengar lagi yg roboh karena koruptor disikat habis. PNS-nya sudah digaji lebih baik, kontrolnya jauh lebih kuat.

Dulu kita malu kalo ngaku jadi orang Indonesia pas jalan2 ke luar negri. orang asing memandang kita rendah. Miskin prestasi. Jalanannya buruk, ambles, macet, banyak lubang, gak menarik.

Jembatannya dulu juga sempit dan reyot sampai2 anak sekolah harus bergelantungan mengerikan. Jalan tol cuma bisa dibuat di Jabodetabek dan sebagian kecil pulau jawa. Itupun banyak yg sampai 20 tahun gak kelar2.

Korupsinya menggunung. Sebab Anak2 presiden, dulu ngambil proyek2 besar secara serakah dan bekerjasama dg para kroninya. Merekalah yg menjadi role model awal para koruptor. Mereka merusak nilai2 bangsa.

Militer juga dulu sangat berkuasa, dan selalu maunya punya presiden dari militer. Seakan2 tak ada pemimpin sipil. Maka kita dipandang sejajar dg Uganda di era Idi Amin atau Irak di era Jendral Sadam Husen. Dianggap diktator militer. Duh, malu deh zaman itu... efeknya masih ada sampai sekarang, setiap kali sipil menjadi presiden, kok selalu dikatain PKI... ada apa ini?

Sekarang bangsa kita dibawah Jokowi sudah muncul sebagai kekuatan baru yg nyata di dunia. Orang sipil berbadan kecil dan sudah merasa cukup dg makan sedikit tapi semangat membangunnya begitu kuat. Freeport tunduk, Singapura takut, Swiss mau tandatangan untuk kembalikan harta kita yg disimpan para koruptor di sana. Malaysia kembali memandang RI. Bahkan di Asian Games kita bisa unjuk prestasi. Anak2 muda kita semakin menonjol dg inovasi sjk diberi ruang lewat Bekraft dan sering dikunjungi Presiden. Bahkan produknya dipromosikan beliau.

Banggalah punya pemimpin yg meski dia orang sipil, tetapi dia adem, ibadahnya jelas, puasanya disaksikan ustad Yusuf Mansur, kerja keras buat kita, dan hasilnya nyata.

Sahabat, hanya orang baguslah yg selalu ditakuti para diktator dan koruptor.

Hanya karena dia diperhitungkanlah maka dia dikirim rumor dan hoax yg nggak2. Mereka yg mentereng hanya berani dari semak2, benar2 terlalu kerdil, mentang2 tak punya prestasi kini membual dan memutar-balikkan fakta.

Hidup ini begitu indah dan akan ada banyak hal indah yg bisa kita nikmati kalo negeri ini damai dipimpin pemimpin yg adem, optimis, rendah hati dan mau mendengarkan.... itu sebabnya mata batin kita tertuju pada Jokowi. Tuhan selalu menjaga orang2 baik... Aamiin.

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku

Berita Lainnya