Teknologi

AWAS, Dunia Internet Jadi Alat Tempat Merekrut Calon Teroris

Indah Pratiwi - 10/06/2020 07:53
FOKUS : Terorisme

Beritacenter.COM - Ancaman dunia cyber atau internet dinilai memang sangat nyata sehingga perlunya masyarakat Indonesia mewaspadai ancaman perang siber (cyber warfare) pada 2021.

Pengamat intelijen Universitas Indonesia Ridlwan Habib menyebutkan, salah satunya terjadi di Polsek Daha Selatan, Kalimantan Selatan dimana salah satu masyarakat sekitarnya sudah terpapar terorisme melalui internet.

"Dia (pelaku teror) direkrut melalui media sosial. Itu bisa ketahuan dari tertangkapnya perekrutnya di Kalimantan Selatan juga dan Kalimantan Barat. Total hari ini tertangkap baru 9 orang. Dan ini adalah jaringan baru di Kalimantan Selatan yang mendapat indoktrinasi menggunakan siber, jadi siber tetap ada kaitannya di sini, digital menjadi sarana perekrutan teroris," kata Ridlwan dalam suatu diskusi virtual yang ditayangkan di Youtube, ditulis Rabu (10/6/2020).

Pelaku yang baru 20 tahun harus dicermati. Karena itu berarti terorisme digital mampu menarik minat kaum dari yang muda hingga yang tua di Indonesia. Oleh itu, perlunya pasukan digital (cyber warfare) untuk mengantisipasi ancaman bagi pemerintah di tahun-tahun mendatang.

"Saya kira ini adalah poin utama diskusi kita hari ini, yang nanti akan diperdalam pak Sulistyo (Direktur Deteksi Ancaman Badan Siber dan Sandi Negara) ya. Bagaimana Cyber Warfare itu akan terjadi di era sekarang," kata Ridlwan.

Selain itu Nurlis Effendy dari Cyberthreat.id mengatakan, dalam peperangan yang dulunya identik dengan peluru, bom, dan teknologi persenjataan. Namun, saat ini sudah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi menjadi siber.

Pada tahun 2017, ada 205.502.159 kali serangan siber yang menyerbu pertahanan digital Indonesia. Hal ini menyerang seperti hoaks, peretasan terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU), peretasan situs pemerintah dan BUMN, hingga serangan ransomware yang meminta tembusan kepada masyarakat.

"Butuh waktu untuk mengatur keamanan dari ruang siber kita yang enggak seperti membalikkan telapak tangan. Ingat, ruang siber ini bukan hanya ada pemerintah," ucap Sulistyo.

Sulistyo meyakini bahwa pihak Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mempunyai kemampuan untuk penyelidikan dan penyidikan di ranah dunia digital. Mereka juga bisa mengolah data komputer forensik dan digital forensik.

Selain itu, kata dia, BSSN juga berperan dalam mengedukasi terhadap apa-apa yang boleh dibagikan di ruang digital untuk kepentingan siber.

 

TAG TERKAIT :
Berita Kriminal Indonesia Berita Center

Berita Lainnya