Opini

Mewaspadai Radikalisme di Kalangan Anak Muda

Indah Pratiwi Budi - 29/07/2020 19:02
Oleh : Muhammad Gibran Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Kaum radikal ingin menambah pengaruhnya di Indonesia, dengan merekrut anak muda. Mereka memanfaatkan dunia maya dan membuat konten radikal. Anak muda dengan mudah percaya dengan omongan kaum radikal karena mereka pandai membujuk. Orang tua wajib memperhatikan aktivitas anaknya baik di dunia nyata maupun maya.

Kelompok radikal dan separatis ingin mengajak anggotanya untuk terus memberontak kepada pemerintah, apapun caranya, bahkan dengan kekerasan seperti bom. Mengapa sampai setega itu? Karena menurut mereka, negara yang benar itu yang bersistem kekhalifahan. Jadi negara yang sekarang menurut mereka tidak sah dan harus diganti secepatnya.

Untuk meluaskan pengaruhnya, kelompok radikal menyasar anak muda agar mau direkrut. Menurut juru bicara BIN, Wawan Hari Putranto, memang kelompok radikal mencari anak berusia 17-24 tahun untuk jadi anggota, karena lebih kritis dan energik. Terlebih, mereka cederung kurang waspada terhadap informasi dan isu yang ada di media sosial seperti Twitter.

Sebagai contoh, jika ada konten di internet yang menggambarkan ketimpangan sosial, anak muda akan kritis lalu ikut mencemooh pemerintah. Mereka bisa langsung men-share tanpa mengecek kebenarannya. Padahal bisa jadi itu konten hoax yang sengaja dibuat oleh kaum radikal. Narasi berita bisa dibuat menyesatkan atau memakai foto lama yang sengaja dicatut.

Kebebasan yang seolah tak terbatas di media sosial juga bisa jadi bumerang. Anak muda asyik berselancar di Instagram lalu menemukan akun yang terlihat bagus, karena menanamkan nilai kebenaran. Namun ternyata konten yang lain adalah fitnah dan hujatan terhadap pemerintah. Setelah ditelusuri, ternyata itu akun buatan anggota kelompok radikal.

Untuk mengatasinya, maka Badan Intelijen Negara sudah menerjunkan patroli siber, untuk mendeteksi konten radikalisme di dunia maya. Konten itu bisa langsung ditarik dari peredaran karena memang terbukti berbahaya. Jika ada yang menemukan konten serupa, maka bisa langsung dilaporkan ke patroli siber, untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

Selain itu, anak muda juga wajib untuk punya rasa nasionalisme yang tinggi. Di sekolah bisa diajarkan butir-butir pancasila dan pentingnya untuk punya jiwa patriotisme. Mereka juga diajak untuk mencintai negeri ini dengan napak tilas ke museum sejarah dan juga ziarah ke taman makam pahlawan. Sesekali bisa disetelkan film perjuangan saat pelajaran sejarah.

Selain itu, di pelajaran agama juga bisa disisipkan tentang toleransi. Jadi umat yang saleh itu tidak hanya berhubungan baik dengan Tuhan, tapi juga dengan sesama manusia. Jangan pernah jadi orang yang intoleran, karena kita hidup di Indonesia. Negara yang punya banyak kebudayaan dan mengakui 5 agama. Jadi tidak bisa diubah begitu saja jadi negara kekhalifahan.

Orang tua juga bisa menanamkan nasionalisme di rumah dengan mengajak anaknya untuk mengenal para pahlawan dan jasa-jasanya terhadap Indonesia. Anak muda juga diajari untuk berpikiran luas, karena perbedaan itu indah. Kita hidup di negara demokrasi dan tidak bisa diubah jadi negara kekhalifahan, karena tidak sesuai dengan keadaan masyarakat di Indonesia.

Anak muda akan bisa belajar mencintai negaranya dan mengaplikasikan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jika mereka terus diajak untuk memiliki rasa nasionalisme, maka akan jadi bangga ketika nama Indonesia disebutkan di ajang internasional. Ketika anak muda sudah mencintai negara, jika diajak kaum radikal untuk membelot, akan langsung ditolak.

Kaum radikal mengajak anak muda untuk jadi anggotanya, karena mereka sedang mencari jati diri. Anak muda juga lebih kritis, jadi cocok untuk jadi kader baru. Untuk mengatasinya maka orang tua dan guru wajib mengajarkan nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan.

TAG TERKAIT :
Radikalisme Kelompok radikal Bahaya Laten Radikalisme

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00

Nihilisme Anies

Opini 15/09/2020 16:30