Opini

Tengku Zul Rasis Merajalela, Negara Kemana ?

Indah Pratiwi Budi - 30/07/2020 16:00
Oleh: Rudi S Kamri

Ada teman bertanya, apakah saya tersinggung dengan ujaran Tengku Zulkarnain saat dia menghina orang Jawa? Saya tegas menjawab, TIDAK. Karena bagi saya dia bukan ulama, ustadz atau penceramah agama. Di mata saya dia orang sakit jiwa. Logika saya sederhana. Tidak mungkin orang waras secara terbuka dan sengaja menghina suku lain dengan cengengesan. Tidak mungkin juga seorang ulama dalam ceramahnya rasis dan provokatif. Jadi karena dia orang tidak waras, dia bebas omong apa saja. Kita yang waras harus maklum.

Orang satu ini sudah terlalu lama rasis dan merajalela. Dulu pernah menghina suku Dayak, dan sekarang suku Jawa. Entah suku apa yang akan dihinakan lagi. Di mata saya, orang menghina orang atau kelompok lain, secara tidak langsung dia sedang memperhinakan diri sendiri.

Hanya sayangnya negara seolah tidak hadir untuk menghentikan laku orang seperti Tengku Zulkarnain ini. Padahal ujarannya jelas-jelas rasis dan memenuhi unsur untuk dipidanakan karena SARA. Kalau aparat negara mendiamkan, negara seperti melakukan pembiaran terjadinya benturan horizontal di level masyarakat. Dan ini sangat tidak sehat dan destruktif.

Pembiaran negara terhadap orang-orang semacam Tengku Zulkarnain ini sangat memprihatinkan. Seolah negara takluk dengan kelompok destruktif. Seolah negara memberikan kebebasan seluas- luasnya kepada orang-orang semacam Zul untuk menggunakan panggung ceramah agama untuk berbuat apa saja. Ini sangat berbahaya.

Di sisi lain saya menghargai Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengecam ujaran rasis dari Si Zul. Tapi bagi saya belum cukup. Karena Ybs sudah sering melakukan tindakan-tindakan yang destruktif dan ujaran yang rasis, seharusnya si Zul dikeluarkan dari kepengurusan MUI. Karena dia jelas-jelas memperburuk citra ulama dan MUI.

Jujur saya sedih dengan arah perjalanan bangsa ini. Pembangunan fisik begitu digencarkan tapi ujaran dan tindakan intoleransi sering dibiarkan. Negara sering tidak hadir dalam melindungi keberagaman dalam kebhinekaan kita. Kasus pemugaran makam Sunda Wiwitan sebagai salah satu contoh. Dan kini pembiaran kelakuan rasis Zulkarnain.

Parameter keberhasilan seorang pemimpin negara bukan sekedar dinilai dari maraknya pembangunan fisik, tapi juga dari seberapa besar dia peduli dalam melakukan pembangunan moral dan karakter kebangsaan warganya. Parameter lainnya adalah bagaimana dia berani bersikap tegas untuk menjaga keberagaman Indonesia dan melakukan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Sejarah akan membuktikan seorang pemimpin itu benar-benar seorang negarawan, hanya politisi pragmatis biasa atau sekedar seorang pemimpin proyek. Waktu akan mengabarkan.

Terakhir, ada pertanyaan sederhana untuk aparat negara, kalau aparat keamanan saat ini terlihat begitu getol menangkap judi sabung ayam, andai yang melakukan sabung ayam itu Tengku Zulkarnain, akankah juga ditangkap dan dipidanakan?

Salam SATU Indonesia
28072020

TAG TERKAIT :
Kasus Penistaan Ulama Zulkarnain Penistaan Ulama Zulkarnain Hina Ustadz Jawa Zulkarnain Rasis Zulkarnain Ustadz Hoaks

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00

Nihilisme Anies

Opini 15/09/2020 16:30