Opini

PEMBAKARAN POSTER RIZIEQ, DRAMA SENGKUNI JILID DUA

Indah Pratiwi - 31/07/2020 10:03

Ketika beredar video pembakaran poster Rizieq di grup-grup WA relawan, saya langsung meminta teman-teman untuk tidak menyebarkan. Berharap agar video tersebut tidak viral dibicarakan. Karena jelas, efeknya akan panjang. 212 bisa terulang andai ada pendana “lebaran kuda.”

Satu hal yang aneh dan sangat fundamental adalah sikap berlebihan, dari orang-orang yang katanya adalah relawan Jokowi dan anti Rizieq FPI.

Sejauh ini, orang-orang kita tak pernah ada yang gila. Menyerang FPI membabi buta. Karena kita adalah kumpulan orang waras. Selain itu, kita adalah pendukung pemerintah yang sangat-sangat perhitungan. Jarang demo karena banyak kerjaan.

Orang-orang kita itu, jangankan demo, mau diajak nongkrong pun susah. Saking banyaknya kerjaan atau tugas. Kalaupun nongkrong atau ketemu, yang dibahas ya kerjaan lagi.

Keanehan selanjutnya adalah FPI melalui Sobri Lubis mengatakan bahwa FPI siap perang. Felix Siauw pengasong khilafah menyebut mereka yang membakar poster Rizieq adalah Partai Klepon Indonesia.

Kalau soal FPI marah-marah, itu sudah biasa. Jangankan poster Rizieq dibakar, kita tertawa pun mereka bisa marah. Tapi kenapa Felix mengarahkan pada partai?

Tentu bukan sebuah kebetulan kalau beberapa saat selanjutnya, kantor DPC PDI Perjuangan di Megamendung Bogor dilempar bom molotov.

Memang agak tidak masuk akal. Kenapa yang diserang malah kantor PDIP? Sementara yang membakar poster Rizieq bukan kader partai. Hanya orang yang mengaku relawan Jokowi, dan jujur kita tidak tau apa benar begitu? Apa iya mereka relawan? Apa yang mereka lakukan sejauh ini sampai mengaku sebagai relawan?

Rupana, berdasarkan penelusuran diskusi di grup-grup WA kawan sebelah, bahwa yang bertanggung jawab dan membakar poster Rizieq adalah Boedi Djarot.

Rumah Boedi sudah didatangi massa FPI dan tidak ada orangnya. Kemudian Boedi dikabarkan bersembunyi di kantor DPC PDIP Megamendung Bogor. Isu inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk menyerang kantor PDIP.

Jadi sederhananya, kasus pembakaran poster Rizieq dijadikan pemicu untuk membangun konflik antara PDIP dan FPI.

Saya jadi teringat dengan kasus pembakaran bendera PDIP oleh ormas gabungan, termasuk FPI di dalamnya. Kasus tersebut menuai reaksi keras dari kader partai. Beruntung mereka masih taat pada pimpinan dan Sekjen Hasto Kristianto responsif memberikan arahan. Sehingga kasus tersebut ditempuh lewat jalur hukum.

Bisa dibilang, pancingan agar kader PDIP bersikap keras dan arogan gagal total. Lalu sekarang dari pihak FPI yang dipancing dengan pembakaran poster Rizieq.

Melihat respon FPI yang katanya siap perang, dan mengklaim mereka punya hukum adat dan hukum Allah, maka jelas isu ini ada potensi diperpanjang. Entah dengan membuat gerakan terpusat di Monas, atau penyerangan massif di berbagai kota. Tergantung logistiknya. Kalau logistiknya kecil, maka akan ada aksi di Monas.

Kecurigaan dan kesimpulan saya ini kemudian mendapat ‘konfirmasi’ dari berita lama, 2013. Rupanya Boedi Djarot adalah Caleg PAN daerah pemilihan Jogjakarta.

Jejak digital ini sangat berarti karena PAN identik dengan Amien Rais. Aktor berpengaruh dalam kerusuhan 1998. Meskipun katanya sekarang sudah dipecat, tapi majunya Boedi kan di tahun 2013. Saat Amien Rais masih kuat-kuatnya di PAN.

Sehingga pertanyaannya, apakah Boedi Djarot memang sedang berperan untuk menciptakan konflik horizontal? Atas arahan Sengkuni. Lalu puncaknya mengulang kerusuhan 98?

Secara politik, ini adalah upaya untuk mengganggu PDIP. Harapannya, kader atau simpatisan partai bersikap reaktif dan melakukan pembalasan. Agar simpati rakyat berkurang dan dominasi PDIP di pemilu selanjutnya jadi berkurang. Di even terdekat, jelas Pilkada akhir tahun ini.

Karena PDIP sedang dalam perjalanan mencetak rekor sejarah yang akan sangat sulit dicapai oleh partai lain. Kemenangan 3 kali berturut-turut.

PDIP sebagai partai senior nampaknya paham betul dengan pola seperti ini. Sehingga sikap partai yang mempercayakan kasus pembakaran bendera pada mekanisme hukum, rupanya mendapat respon positif dari masyarakat. PDIP yang diserang justru mendapat simpati. Ini dibenarkan lewat survei elektabilitas partai.

Selanjutnya ya kita lihat saja apakah FPI akan merespon dan membuat gerakan massif? Ataukah cukup di pernyataan perang saja? Karena bagaimanapun, sebuah aksi harus ada logistiknya. Kalau tak ada jawaban dari donatur “lebaran kuda” maka tak akan ada aksi.

Terakhir, kita sedang dalam krisis ekonomi dan sosial. Covid yang digoreng media itu kini menjadi momok menakutkan, lebih ngeri dari yang seharusnya. Banyak negara mengalami resesi, Indonesia juga harus hati-hati. Mestinya, kita semua berpikir agar negara ini selamat. Bukan malah memperparah dan memanfaatkan momentum untuk memastikan terjadi krisis atau terjadi lebih cepat. Begitulah kira-kura. 

 

Sumber : Sewod

TAG TERKAIT :
Rizieq Pembakaran Poster HRS

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00

Nihilisme Anies

Opini 15/09/2020 16:30