Opini

KAMI "Kaum Berisik Sama Halu"

Indah Pratiwi Budi - 05/08/2020 08:19
Oleh : Agung Wibawanto

Ada kelompok-kelompok di republik ini yang hobinya ngimpi atau halu. Dan sekarang ini sedang sama-sama halu. Kalau kelompok atau pemain lawas (Cendana cs) itu halu akan masa lalu. Mengagung-agungkan pemerintahan era Soeharto juga era SBY.

Ada kelompok lagi berisi pemain anyar, mereka halu kan masa depan. Ngimpi dirikan negara ISIS, dengan sistem khilafah dan berbendera hitam, ada pula yang sampe ngelindur pingin jadi presiden ataupun sekjen PBB. (Maaf klo saya ngakak...).

Jadi mereka sekarang sedang halu? Iya. Lantas apa yang mereka kerjakan? Ya gak ada. Orang sedang ngimpi atau halu itu ngapain? Ya wasting time, sama sekali tidak produktif gimana mau kontributif buat masyarakat bangsa dan negara?

Tanda-tanda orang halu kan mudah sekali. Ngomongnya ngawur terbalik-balim dan tidak sesuai dengan konteks kekinian di mana mereka berada. Tidak mau tau aturan. Ada peraturan dan kebijakan dilabrak, mengaku tidak takut ditangkap apalagi mati (lha wong sedang ngimpi).

Suka bikin aturan sendiri. Tidak mau mendengar jika dijelaskan. Menganggap diri paling benar sementara orang lain yang berbeda pandangan dianggap kafir dan musuh. Asyik dengan hayalan sendiri, merasa seperti di Arab (berbudaya ke-ngarab-araban) atau serasa di masa orba.

Tidak mengakui presiden Jokowi bahkan sering menyerang presiden. Jelas saja karena sedang berhalusinasi punya presiden masing-masing. Terparah, benci dengan bangsa sendiri yang sekarang ini tengah berjuang untuk maju. Tidak mengakui budaya asli Nusantara.

Tidak mau bertoleransi dalam semangat bhinneka tunggal Ika. Bahkan tidak bangga menjadi Indonesia, ingin gabung ke ISIS, merubah NKRI menjadi Negara Islam Internasional. Sampai di sini, masyarakat yang sadar menjadi marah dan tidak suka. Masyarakat marah bukan cuma Jokowi diserang, tapi karena NKRI mau digoyang-goyang.

Lantas bagaimana menghadapi orang yang tengah halu? Ada yang bilang serba repot, disadarkan ya percuma karena mereka Bangkong tidurnya. Tapi didiamkan juga bikin brisik terus (ngelinduran pake teriak-teriak) dan bisa mengganggu masyarakat lain yang mau kerja.

Belum lagi ntar dibilang pemerintah tidak tegas, diam saja dan melakukan pembiaran. Dampak dari halu mereka juga ternyata mulai menular kepada masyarakat yang sadar. Mereka mulai usil ribut dengan kerjaan orang (presiden dihantam, menteri dihantam, dokter tenaga medis dihantam, aparat polisi turut dihantam dll), sementara kerjaan sendiri gak bener.

Namun alasan mereka berbeda, bukan karena halu masa lalu dan masa depan. Mereka bilang dan senang jika dianggap kritis, tidak sekadar sadar dan dukung pemerintah. Dan mereka tidak mau disamakan dengan kelompok yang halu-halu. Sepertinya baik, tapi tetap kontra produktif. Hanya bikin kuota tambah membengkak saja karena ribut di medsos.

Kalau saya lebih milih "kerja senyap" saja seperti yang sudah dilakukan Jokowi selama ini. Tanpa banyak omong dan sisialisasi, tiba-tiba sudah terbangun jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, pos perbatasan, gudang raksasa, kebijakan satu harga, kartu ini itu, sertifikat tanah dll masih banyak lagi.

Mengapa kerja senyap perlu? Tentu saja pertama karena pemerintah perlu fokus tidak direcoki. Jika berdebat terus misi tidak akan selesai. Kedua, masyarakat memang harus ditunjukkan bukti bukan sekadar janji. Jadi biarkan fokus membuat bukti tidak perlu banyak janji, dan nanti tinggal masyarakat melihat, menikmati dan mengakui.

Ketiga, dalam kerja senyap tentu saja tetap lakukan tindakan hukum bila memang dirasa terjadi pelanggaran hukum. Itupun lakukan dengan senyap tanpa gembar gembor, seperti penangkapan Djoko Tjandra, terduga teroris, gembong narkoba ataupun rencana gerakan-gerakan politik radikal. (Awib)

Caption: Kalau cuma kaum halu-halu seperti gambar di bawah mah meski dipantau tapi biarkan saja. Gak terlalu penting. Biarkan dia bahagiyaaaah sebentar asal gak berisik dan bisa mengganggu

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

TAG TERKAIT :
Pembenci Jokowi KAMI

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00

Nihilisme Anies

Opini 15/09/2020 16:30