Opini

Bangun dan Jatuhnya Amin Rois

Indah Pratiwi Budi - 11/08/2020 07:20
FOKUS : Amien Rais

"His days are numbered," kata Amien Rois kepada wartawan Associated Press di Senayan, menjelang pengunduran diri Suharto pada 1998.

Gagah sekali adegan itu. Gagah yang pantas, karena hasil perjuangan. Untuk bisa orasi di Senayan ia harus berjuang menampung lemparan botol Aqua dari mahasiswa. Ya tentu, mahasiswa Jakarta kok disuruh dengar dosen Jogja. Masih untung Jakarta; kalau kejadiannya di Surabaya entah bagaimana nasibnya. Bisa-bisa berimbas eksodus OAJ (Orang Ashli Jogja) dari Surabaya, balik ke Jogja, demo besar-besaran dan bakar habis semua bangunan di Jogja.

Amien sangat taktis mengelola pengakuan yang disematkan media kepadanya. Saat ia sudah dipandang sebagai "penggerak mahasiswa", bukan penguntit, ia menjadi elit reformis yang pertama kali menolak tuntutan pembubaran Golkar.

Padahal pembubaran itu butir teringan dari tuntutan mahasiswa, setelah pengadilan rakyat tidak dipenuhi. Kelak, praktis hanya 2 poin tuntutan yang terpenuhi, yaitu Otda dan Amandemen UUD. Ada 1 lagi yang dipenuhi, yaitu penghapusan dwifungsi (pensiunan) tentara; namun kelak dipulihkan setahap demi setahap, melalui estafet lintas rezim.

Legitimasi Amien semakin meroket saat pada September 1998 ia menyatakan "Prabowo harus dimahmilkan". Kepada Munir beserta keluarga korban penculikan aktivis saat itu, Amien bahkan menyatakan akan memperjuangkan penyidikan terhadap Prabowo hingga ke Komisi Tinggi HAM di Jenewa.

Walhasil panggung reformasi 1998 menjadi momentum eksistensi Poros Jogja dalam Kelompok Ciganjur : Amien dan Hamengkubuwono X. Sementara Poros Reformis yang sesungguhnya, Gus Dur dan Megawati, menjadi target jangka panjang devide et impera.

Mega menjadi sasaran pertama gambit Amien. Walau PDIP menang Pemilu 1999, Mega gagal menjadi presiden; sebab pemilihan presiden masih melalui musyawarah MPR. Sedangkan kemenangan PDIP jauh dari mutlak, hanya selisih sedikit dari runner-up : Golkar. Penyelamatan Golkar dari pembubaran mendatangkan buah manis. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, sukses memubazirkan Reformasi.

Amien pun mengkapitalisasi tanggungnya keunggulan PDIP di parlemen. Ia mendirikan Poros Tengah, menyatukan kekuatan partai-partai Islam dalam satu koalisi. Persis yang dilakukan Suharto pada 1973 saat memaksa 5 partai Islam masuk PPP.

Bahwa Amien tidak menjadi pilihan Poros Tengah untuk jadi Presiden, bukanlah hambatan berarti. Lebih baik Gus Dur naik duluan untuk ditumbangkan bersama-sama kemudian, daripada ia yang naik duluan untuk dikeroyok kemudian.

Pemerintahan Gus Dur menghadapi gelombang demi gelombang serangan. Dari cercaan terhadap lawatannya ke mancanegara, konflik horizontal lintas daerah, reaksi masif terhadap pemecatan menteri-menteri korup hingga pembubaran 2 kementerian, hingga pamungkasnya tuduhan korupsi Buloggate.

Serangan Amien sendiri kepada Gus Dur sebenarnya nanggung. Kasus Buloggate sebagai alasan tunggal pemakzulan, amat lemah; sebab Mahmakah Agung sudah membuktikan Gus Dur tidak terlibat. Kalau Gus Dur tipe politisi yang sudi berunding dengan maling, tentu ia bisa bertahan.

Namun Gus Dur malah memilih momentum itu untuk mewariskan pelajaran penting bagi bangsa Indonesia : Tidak Ada Jabatan Yang Pantas Dipertahankan Mati-matian. Lewat Dekrit Presiden 23 Juli 2001 - pembubaran Taman Kanak Kanak, pengembalian kedaulatan kepada rakyat, dan pembubaran Golkar, Gus Dur melakukan langkah Ulo Marani Gepuk, ular mendatangi pentung. Yang di mata musuhnya adalah penyerahan kekuasaan, bagi Gus Dur itu hanyalah melempar tulang ke kumpulan anjing.

Bagi Amien, saat Mega akhirnya menjadi pengganti Gus Dur, itu berarti dua batu sandungannya bersisa satu. Memupuk elektabilitas untuk bersaing dengan Mega dalam pemilu selanjutnya, Pemilu 2004 yang menjadi Pilpres pertama dalam sejarah RI, baginya perkara gampang. Toh Poros Tengah tidak akan membiarkan perempuan menjadi pemimpin.

Sialnya, muncul seorang bernama Susilo Bambang Yudhoyono. Lewat citra kasta Ksatrianya, ia sukses membuktikan muaknya rakyat Indonesia saat itu terhadap Sudra-sudra penunggang Reformasi yang cuma menjadi badut politik dan maling-maling baru.

Amien Rois, orang pertama di penghujung Orba yang berani bicara di televisi "Saya mau jadi presiden". Setelah menunggu 6 tahun, harus menabrak dinding kenyataan : rakyat tidak pernah suka dengan figur si kancil nyaring bunyinya.

Kekalahan telak Amien sejak putaran pertama Pilpres 2004, dengan perolehan 14% suara, tercecer di urutan 5 dari 6 paslon, menjadi awal kejatuhannya. Sejak itu ia tidak pernah bisa mengembalikan pamor yang tergerus karat.

Fenomena Joko Widodo, yang diawali dengan menggandeng figur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, sempat menjadi momentum bagi Amien. Mengendarai Prabowo, ia merengkuh seluruh kekuatan Poros Tengah Reborn, diarahkan kepada sasaran empuk di sebelah Jokowi.

Namun inipun gagal. Jokowi ternyata mampu dengan entengnya melempar Ahok, sebagai tulang kepada kumpulan anjing. Lalu dengan sama entengnya merobek Poros Tengah. Dimulai dengan mencabik Golkar dari poros itu, dengan menggandeng Jusuf Kalla. Disusul dengan merangkul Kyai Ma'ruf Amin, tokoh kunci yang menjadi titik tengah peririsan hampir semua faksi kekuatan Islam minus Muhammadiyah. Poros Tengahpun bubar jalan; sebagian menyeberang ke kandang Jokowi, sebagian terpaksa melepas topengnya dan kembali menjadi musuh negara, sebagian lagi menjalankan Karantina Mandiri di MUI.

Terakhir, ditutup dengan ekstra lapang dada, menerima Prabowo masuk istana.

Amien tidak punya siapa-siapa lagi. Jangankan PAN, Muhammadiyah pun lepas. Yang tersisa hanya sesama ronin yang juga terdepak majikan masing-masing. Dalam sisa nafas-nafas terakhirnya, iapun ikut dalam KAMI, Koalisi Ampas Muhammadiyah Inden.

Sebuah akhir yang memilukan.

Amien, now YOUR days are numbered.

Sumber : Status Facebook Fritz Haryadi

TAG TERKAIT :
Amies Rais Sengkuni

Berita Lainnya

KITA JOKOWI

Opini 18/09/2020 18:00

Nihilisme Anies

Opini 15/09/2020 16:30