Opini

AHOK DATANG PASAR BUBAR!

Indah Pratiwi Budi - 18/09/2020 16:36
FOKUS : Ahok

Entahlah..,sepertinya kita selalu diajarkan mencapai hal tinggi dan hebat. Apa itu hebat selalu terkait dengan hal-hal besar.

Kenapa bukan jujur kita ajarkan?

Berapa diantara kita yang hanya lulus SMA dan kita dipinggirkan? Padahal, mereka yang sarjana tak bekerja pada bidangnya, jauh lebih banyak to?

Kita takjub mendengar seorang anak melantunkan ayat-ayat suci dengan khusuk dan suara merdu tapi lupa diluar sana banyak yang jauh lebih pantas diberi penghargaan karena disela sibuk belajarnya dia membantu orang tua berjualan di pasar misalnya.

Ya..,mata dan telinga kita sudah bukan seperti seharusnya. Budaya artifisial lebih greng dibanding apa adanya.

Bukankah seorang Anis lebih hebat dan maka lebih mudah diterima karena santun? Mata dan telinga kita lebih mudah menerima Anis dibanding Ahok yang apa adanya. Kasar..!!

"Munafik dong kalian?"

Pasti kita tolak. Mana ada cerita julukan seperti itu jadi bagian kita? Maka, ketika seorang ulama ditusuk, sepontan si santun suci pekaes berteriak, buat undang-undang perlindungan pemuka agama!"

Sekilas, frekwensi itu match dengan kuping kita dan spontan mulut pingin langung berteriak sepakat.

Apakah pilihan menjadi satpam, tentara, dokter, adalah tentang kehormatan? Apakah terjebak menjadi tukang sampah, tukang sapu jalan dan pembersih got hanya tentang kelompok marjinal?

Trus ketika menjadi pemuka agama, hormat puji, cium tangan, elit, terhormat hingga suci langsung tersematkan dalam gelar itu?

Ahok lebih apa adanya dan namun lingkar semanggi dibangun tanpa sepeserpun ambil uang pajak rakyat to? Anis satu pot bunga saja seluruh warga DKI harus urunan.

Trus dengan bodohnya kita masih bilang hebat Anis karena lebih santun ? Speechless...

Si dongok minta Ahok dipecat karena brisik sementara maha karyanya cuma sekitar jebak menjebak WTS to?

Bergerilya bak oportunis si sok santun wakil MPR dari pekaes itu minta dibuatkan undang-undang perlindungan bagi pemuka agama.

Demikianlah si pekaes, selalu berpikir tentang apa yang menguntungkan baginya. Bencana dan kesulitan orang lain adalah berkah baginya. Lalu seolah pahlawan, dia tampil. Tarikan muka dipaksakan demi drama terlihat jujur dan santun. Namun apa isi kepalanya, oportunis adalah tentang untung baginya.

"Buat undang-undang perlindungan bagi pemuka agama!" Keren teriakannya?

Saya, lebih senang negara membuat undang undang yang mengharuskan pejabat berkeliling dor to dor ke rumah warganya. Tinggal dan bicara dengan mereka layaknya seorang teman, disana masalah warga pasti ditemukan.

Jangan justru menjebak perempuan yang sedang terpaksa demi segelas susu bayi di rumah malah dipenjarakan apalagi memakai cara licik. Kampungan bin norak.

Lama sudah kita lupa apa itu teman. Apa itu saudara, apa itu baik, apa itu jujur, apa itu apa adanya.

Lama kita tak lagi berjumpa dengan bagaimana itu jujur, bagaimana itu sederhana, dan bagaimana menjadi apa adanya.

Pada akhirnya, kitapun lupa menjadi apa dan bagaimana seharusnya orang Indonesia. Dan lantas ketika datang seorang Indonesia bernama Ahok kita lupa. Kita pikir dia orang asing.

Dia marah dan ngamuk ketika para santun ngembat duit negara. Dia menangis ketika si buruk muka dan bau, tertindas dan lapar. Dia pakai seluruh kemampuannya demi tanggung jawab melekat di pundaknya.

Bukankah sudah seharusnya salah adalah salah? Bukankah sudah seharusnya maling berbaju pejabat harus dimaki dan dibuang? Itu yang sedang Ahok lakukan di Pertamina demi membuat perusahaan itu bermanfaat bagi orang banyak.

Lalu kenapa kalau yang berlaku seperti itu Ahok, kita lantas marah? Karena dia China? Karena dia Kristen?

Sungguh, kita memang masih sakit bila kejujuran berbungkus kasar tak mampu kita lihat dan namun ketamakan berbaju santun membuat kita kagum dan tunduk.

Kita tak lebih dari manusia yang senang bohong dan dibohongi. Itulah makna munafik. Dan bukan itu seharusnya kita hari ini.

Meski Ahok China dan Kristen, saya lebih salut dan bangga bila dia yang harus jadi pemimpin dibanding Anis, Hidayat apalagi Andree.

Kenapa? Emang ada konsep China, Arab, Jawa, Islam, Buddha ketika jadi pemimpin? Setau saya, harus WNI to?
.
.
.
RAHAYU
Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Ahok PERTAMINA Basuki Tjahaja Purnama Ahok Bongkar Borok Pertamina Ahok Bongkar Aib Pertamina

Berita Lainnya