Opini

Beda Ahok Beda Jokowi

Indah Pratiwi Budi - 19/09/2020 18:45
Oleh : Karto Bugel

Keseruan geliat politik sepertinya akan kembali bangun. Riuh suara Ahok mengingatkan kita saat dia menjadi Gubernur menggantikan Jokowi. Dia telah kembali sembuh namun dari kejauhan, Jokowi menunggu dengan was-was.

"Koq sembuh? Emang kena...?"

Ahok yang ga nyablak, kaya kurang gimana gitu! Ahok yang bersuara lantang apa adanya harusnya bukan sisi gelap yang harus jadi keberatan siapapun.

Kalau toh dia katain jamban, tuh maling, emang kurang pantasnya dimana? Bandingin maling ayam yang digebukin trus ditelanjangi, sudah gitu masih difoto pulak!

Bandingin tuh sama kelakuan mereka yang mengarak perempuan setengah telanjang keliling kampung hanya karena indikasi selingkuh.

Kita saja pura-pura alergi dengar jamban, padahal teriakan binatang dengan tujuan lebih kasar keluar dari mulut mereka yang ceramah sambil mencak-mencak dan mata melotot sampai hampir keluar tuh biji mata, ga ada yang marah to?

Ho'oh munafik tuh orang.

Ahok came back dan bentakannya berhasil memancing si Andree yang karya terbesarnya adalah jebak perempuan yang sangat mungkin adalah kaum duhafa, kaum tak mampu yang terpaksa menjual badannya demi sesuap nasi yang mungkin tak dimiliki.

Kalau cuma jebak satu perempuan dan kemudian ditangkap trus berkilah membasmi prostitusi, walaahh...,Kali Jodo, hitamnya hitam Jakarta, yang berhasil menutup cuma Ahok coi..!! Ga ada seujung kukunya si Andree itu.


"Pecat Ahok!! Bikin ribut saja mulutnya." Demikian kira-kira teriakan Andree biar keliatan keren coba-coba pansos ngelawan Ahok.


Begitu El_digembok ngetweet, kabur dia. Takut dia sama dosa-dosanya yang bakal dikupas abis sama si El.


"Itu zonk ikutan lagi kenapa?"


Ohh..,si ikan kembung, eh buntal ding..! Tau deh, kenapa gw selalu males ngebahas doi. No comment aja dah.


Eiits...,ntar dulu!! ada loh miripnya si buntal sama Andree. Lihat deh matanya! Lihat cara keduanya saat menatap! Kayaa..? Hihh..,ngeri!! Untung gw perempuan.

"Kenapa sih Ahok ramai lagi?"

Doi disusupkan, eiitss.., kaya lagi cerita tentang konspirasi aja. Maksudnya, Ahok ditempatkan oleh pak Jokowi di Pertamina, perusahaan plat merah yang asetnya naujubilah banyaknya itu agar sehat kembali. Dah gitu aja gampangnya.

"Loh emang selama ini ga sehat po?"

Seharusnya, sambil merem saja, Pertamina dijamin pasti untung. Masalahnya, itu perusahaan bukan dibuat untuk untung, tapi justru dimaknai sebagi sapi perah oleh banyak kepentingan.

Bukan hal baru isu bahwa birokrasi, partai, orang titipan Gubernur, menteri hingga anggota tim sukses sebuah pemilihan diberi hadiah masuk dan duduk di BUMN. Tak penting dia bisa kerja apa ga, tapi begitulah isu yang berkembang.

Apa yang diributkan oleh Ahok, ternyata tak terlalu jauh dari isu itu. Direksi dengan mudah minta langsung ke menteri mengganti direktur dan tanpa sepengetahuan si preskom atau dalam hal ini Ahok.

Maka, lelang jabatan dilakukan persis seperti cara yang dipakai saat dia jadi Gubernur dulu, agar transparan dan profesioanal.

Heboh lah!! Apalagi seperti biasa, muncul lagi istilah superholding, hingga Menteri BUMN pun tersenggol, jadilah itu makin seru. Inilah yang digoreng mereka yang tak suka Ahok dan apalagi berharap Ahok dibuang.

Salahkah Ahok marah ketika mengetahaui seorang mantan direktur yang sudah ga ngapa-ngapain masih digaji sebesar saat dia menjadi direktur? Alasannyapun aneh, masa kerja yang sudah lama.

"Trus kenapa di luaran sana ada banyak yang ikut teriak?"

Secara sederhana, dengan adanya Ahok di sana, orang-orang titipan itu perlahan tapi pasti akan dibuang. Sementara, siapa yang titip dengan kepentingan apa, mana ada yang akan menjawab?

Sikap keras kepala dan ga mau ikut arus yang sudah ada membuat Ahok dianggap berbahaya bagi siapapun tanpa pilih-pilih siapa sekutu atau lawan politik. Siapapun punya titipan disana dan siapapun akan berusaha mengusir Ahok dari tempatnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa secara prinsip, budaya seperti itu sudah berjalan bukan hanya di Pertamina, tapi di seluruh BUMN yang ada.

Klaster gemuk dan kurus hanya soal siapa pemenang pemilu mendapat jatah yang mana, dan yang kalah kudu terima bila kurus dan kering jadi pilihan tak dapat ditawar.

"Loh koq negara jadi bancakan?"

Loh koq baru sadar? Waahh, ketinggalan kereta kalian Jack.

Percayalah, semua ribut-ribut itu selalu bermuara pada jatah. Kalau toh diluar ada kelompok cebong dan kampret bertempur tanpa pernah kenal kata selesai demi membela yang dijunjung, mereka para peserta pemilu berikut gerbongnya, asik-asik saja dengan cerutu dan wine sementara para pemandu sorak, hehehe..terus ribut dengan dalil.

"Serius separah itu?"

Bukankah seorang Denny Siregar pernah menolak ketika ditawari sebagai komisaris sebuah BUMN? Atas apa dia ditawari posisi itu? Hmmm...

Bukankah siapa yang vokal seringkali tiba-tiba jinak dan tak lagi bersuara dan tiba-tiba kita baru "ngeh" dia duduk sebagai komisaris BUMN tertentu?

Bukankah seorang Refly tiba-tiba sibuk bertata kata lagi ketika dia dicopot dari komisaris sebuah BUMN? Dulu dia diangkat karena kompetensinya?

Ya..,jabatan menteri itu adalah tentang koalisi dan kenapa komisaris bukan tentang upah bagi yang lebih kecil karena kecil pula peran orang itu?

Disaat Presiden menyusupkan Ahok menjadi Komut Pertamina, permintaan Presiden adalah bikin sehat Pertamina. Terserah Ahok, ikut arus yang ada, dia disayang banyak pihak dan bahkan akan menjadi sangat kaya.

Membuat sehat Pertamina, tak ada jalan lain kecuali siap dimusuhi semua pihak. Bukan cuma lawan politik, tapi teman separtainyapun dijamin akan menyiapkan parang.

"Sulit dong Ahok?"

Mudah membuat tolok ukur kapan Ahok berjalan seperti perintah Presiden atau berkhianat.

Sama seperti ketika PKS bilang belok kanan pasti yang benar adalah ke kiri. Ketika heboh Ahok memenuhi laman medsos, disana Ahok sedang berjalan pada track yang benar. Sesederhana itu.

Demikianlah ketika banyak pendukung Jokowi kecewa dan marah dan dengan mudah menyebut Presiden penakut atas sikap diamnya terhadap kekonyolan-kekonyolan yang dilakukan gubernur DKI.

Bagaimana gambaran sulit seorang Ahok tak seujung kuku dibanding apa yang dialami Presiden. Banyak orang berpikir bahwa dengan memiliki jabatan Presiden, dia mampu melakulan apapun termasuk memecat Gubrnur misalnya.

Sudah dengar partai apa yang menolak laporan pertanggung jawaban APBD gubernur DKI? Kenapa partai dimana Presiden berasal justru tidak berada pada barisan PAN, PSI, Golkar dan Nasdem yang menolak laporan pertanggung jawaban itu?

Kenapa justru PDIP yang seolah justru mendukung Anis? Bukankah ini kesempatan bagus bila benar Anis dianggap bukan sebaris dengan PDIP?

Disanalah nalar sekaligus logika politik sering tak sejalan dengan logika yang berkembang di masyarakat.

Akan ada muncul banyak pertanyaan logis namun tak ada jawaban masuk akal dapat diambil masyarakat.

Selalu banyak ruang abu-abu dimana siapa yang dapat melihat hanya mereka yang berkepentingan. Siapa yang mampu menterjemahkan bukan tentang siapa pandai dan logis, ini tentang kepentingan dan tak terhubung samasekali dengan pintar bahkan logis.

"Artinya, Jokowi sebagai Presiden tak leluasa bergerak?"

Banyak dan masih banyak sekali ruang abu-abu dimana bahkan seorang Presiden tak mampu memasukinya bahkan seandainya ingin.

Cukup bagi seorang Jokowi sibuk membangun dan mengantarkan rakyatnya keluar dari jerat kemiskinan yang pasti terjadi bila diapun terjebak menjadi presiden yang biasa-biasa saja. Doi salah satu presiden luar biasa negara ini pernah punya.

Kesungguhannya benar akan mengangkat derajat rakyat dan bangsa ini sejajar dengan banyak bangsa yang telah lebih dahulu maju, apalagi bila tahun 2024 benar Indonesia mampu menempati urutan 5 besar negara dengan PDB terbesar dunia.

Tak cukup hanya dengan kesungguhan saja dia mampu merubah budaya politik negeri ini. Benar dia adalah baut sangat penting bagi negara ini terikat pada fondasinya dengan benar, tapi bukan satu-satunya. Banyak baut tak terlihat dan jika dilepas, ambruk sudah negara ini.

Beruntung kita rakyat Indonesia pernah memiliki Jokowi dan Ahok. Tampak luarnya, sunguh berbeda, namun keduanya orang baik dengan hati yang baik. Keduanya orang jujur dengan nurani teruji.

"Maksudnya, Jokowi tak mungkin memecat Anis meskipun laporan pertanggung jawabannya ditolak mayoritas fraksi yang ada? Berarti, isu kadrun dan kampret cuma mainan saja? Berarti radikalisme selama ini sengaja di biarkan demi menutupi sesuatu atau malah sengaja diciptakan?"

Tak ada hukum kita harus tahu segalanya. Tak selalu baik, kita tahu semuanya. Ada kalanya bijaksana adalah tentang kita berhenti, duduk sejenak, dan berterima kasih sudah berjalan sejauh ini.

Filosofinya, jangan berharap lebih kepada Ahok, jangan pula berpikir jabatan Presiden itu tertinggi dari yang paling tinggi. Selalu ada invisible hand seolah tuhannya tuhan dalam politik.

Bukan hanya Indonesia. Benarkah posisi Trump tertinggi dari yang paling tinggi di perpolitikan AS? Kennedy ditembak bukan?

Benar, jangan buat pusing kepala lebih berat dari kemampuan dia menerimanya. Cukup makan hari ini disaat resesi dan pandemi seharusnya adalah bekal tenaga kita untuk esok hari.

"Koq jadi melow gini sih?"

Percayalah, selama Jokowi masih Presiden dan Ahok masih bisa membuat tertawa sekaligus degdegan Presiden, kita masih akan ngebut.

Ya..,hanya Ahok satu-satunya orang yang mampu membuat Jokowi tertawa lepas. Disana kebahagian sederhana Presiden adalah tentang rasa nyaman memiliki teman yang apa adanya.

"Trus kenapa semua orang bilang Anis kacau balau koq justru diselamatin sama PDIP?"

Siapkah PDIP bekerjasama dengan wabub padahal dengan menolong Anis hari ini akan membuatnya berguna nanti?

"Berarti, mengkhianati para pendukungnya yang di luar dong?

Emang kalau seumpama terjadi perang, rakyat yang pertama dilindungi? Dia disuruh maju dulu kalee!!

Ya begitulah dunia bergerak. Kapan rakyat jadi perhatian dan dibombong, saat dibutuhkan suaranya. Dah gitu aja koq repot.

.

RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

TAG TERKAIT :
Ahok Jokowi Joko Widodo Basuki Tjahaja Purnama Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Ahok Bongkar Borok Pertamina Ahok Bongkar Aib Pertamina Kita Jokowi

Berita Lainnya