Opini

CARA LICIK MENYERANG JOKOWI

Indah Pratiwi Budi - 21/09/2020 13:17

Nampaknya lawan politik Jokowi sadar bila berkontestasi dengan cara yang normal akan sangat sulit memenangkannya, maka para pendukung lawan Jokowi memilih cara 'Politik Identitas' yang mirip dengan keberhasilan di Alzajair yang mungkin menjadi jalan pintas, walau konsekuensinya membuahkan polarisasi dan kebencian akut yang berkepanjangan.


Cara jadul yang menjijikan itu diawali dengan menggaungkan isu yang paling sexy dan paling mudah memberikan pengaruh negatif kepada masyarakat, yakni PKI. Namun isu ini gagal total, walau hingga melakukan demo yang dibarengi dengan membakar bendera PKI yang sangat mungkin dibuat sendiri, karena bendera itu terlihat baru, padahal PKI sudah bubar tahun 1965 ketika Jokowi baru berusia 4 tahun.


Bahkan ada yang mengaku ustadz berani berbohong dengan nekat menuduh bila di istana setiap malam ada rapat PKI. Lalu yang lebih konyol lagi ada yang dengan songongnya meramal bila tahun 2018 akan ada 20 juta anggota PKI, lalu iapun berani meramal lagi bila tahun 2019 akan menjadi 60 juta. Tapi semuanya ternyata hanya omong kosong.


Tuduhan itu semata-mata hanya utk menjegal Jokowi, agar kalah di Pilpres 2019 yg lalu, Dan isu inipun lewat begitu saja, karena jelas mereka tak akan pernah bisa membuktikan. Sebab logikanya, saat jadi Walikota dan Gubernur tidak ada isu tersebut, kemudian aneh bin ajaib demi pilpres, 2014 mendadak dimunculkan oleh akun Twitter Trio Macan yang kemudian diadopsi tabloid abal-abal Obor Rakyat yang berisi hoax.


Muncul lagi isu kedua yang dikatakannya bila Jokowi antek aseng asing, tapi tanpa ada yang bisa memberikan argumen yang mendasar akan fakta yang mereka tuduhkan. Yang ini pun tak kalah kejamnya. Dari tuduhan bila Jokowi dianggap orang China beragama Kristen yang memiliki nama Ir. Habertus Joko Widodo atau Oey Hong Liong. Yang inipun tenggelam dan baru sepekan ini dimunculkan kembali oleh mantan menteri Rizal Ramli yang dengan congkaknya menuduh Jokowi antek China.


Sedangkan antek asing sudah jelas mudah dipatahkan karena beberapa kontrak karya dengan negara lain termasuk Amerika bisa direbut kembali. Jadi mereka coba kembali ke persoalan China, tapi bila ditanya apa argumentasinya, tak ada satu pun yang bisa merincinya. Paling banter karena Indonesia mendapat pinjaman berupa investasi dari China. Padahal ini sesuatu yang biasa, karena negara besar pun melakukan hal yang sama, termasuk Arab Saudi sekali pun.


Isu ketiga yang tak kalah sexynya adalah masalah 'Utang.' Tapi ini pun hanya jadi bahan tertawaan para intelektual, karena utang ini dilakukan oleh para presiden sebelumnya, bahkan oleh eyang Habibie sekali pun yang singkat dalam menjabat. Malah di jaman Hindia Belanda saja sudah utang. Utang itu selain sudah diatur dalam undang-undang, juga pelaksanaannya diputuskan bersama DPR RI yang melibatkan semua partai, termasuk partai oposisi, dan jangan lupa bahwa utang terbesar justru bukan di era Jokowi. Hebatnya lagi, uang itu cukup efisien untuk membangun negeri ini secara spartan dari Aceh hingga Papua dan itu fakta.


Kemudian tak berhenti sampai disitu, isu recehan pun mereka sebar dengan riangnya. Dari fitnah ibundanya yang dianggap bukan ibu kandung, padahal ada silsilah keluarganya yang jelas. Lalu isu bukan lulusan UGM karena tidak ada bukti foto wisudanya, padahal pihak UGM sendiri berulang kali mengatakan bila Jokowi asli lulusan UGM, Fakultas Kehutanan. Seperti pada foto di bawah, yakni foto wisuda (Jokowi nomor 4) dan foto reuni UGM.


Lalu dituduh bukan lulusan SMAN 6, hingga kepala sekolah SMAN 6 Solo harus memberikan bukti dokumen lama tentang keberadaan Jokowi. Masih panjang sekali berbagai tuduhan yang sangat menjijikan yang mereka mainkan, namun semuanya bisa dengan mudah ditangkis. Termasuk upaya dema demo kecil-kecilan yang mengangkat isu anti Islam, kriminalisasi ulama, dan masih sederet isu bodoh yang tak berdasar.


Mereka pun seperti yang makin kesal karena selalu gagal, hingga tiba waktunya memainkan isu sexy yang ketiga, yakni 'Intoleran' yang diharapkan dapat menciptakan opini seolah Jokowi tak tegas dan tak bisa menciptakan rasa aman bagi rakyatnya, khususnya untuk kalangan minoritas. Maka nyaris secara bersamaan di berbagai wilayah terjadi tindak intoleran yang memalukan dan memilukan.


Dari ijin pembangunan gereja yang tak bisa keluar atau dicabut, perusakan rumah ibadah, mengganggu umat non Muslim yang sedang beribadah, dan lain sebagainya. Walau tetap menyisakan aksi simpatik dari Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani yang justru meresmikan pembangunan gereja, bahkan ikut membantu dana dari kocek pribadinya.


Walau sebenarnya hal ini adalah kewenangan pemerintah daerah, namun ujung-ujungnya Jokowi-lah yang akan diserang sebagai pemimpin yang tidak tegas. Hal itu nampaknya berhasil, karena tidak sedikit yang kemudian mengkritik secara keras Jokowi yang dianggap tidak dapat menyelesaikan persoalan intoleran di berbagai daerah. Namun Jokowi tidak terpancing dan lebih mengambil sikap tenang walau tidak populis, yakni memerintahkan Kapolri dan para kepala daerah agar dapat menyelesaikan dengan baik.


Sebab bila Jokowi hingga marah dan tegas memberangus kelompok ini, justru itulah yang dinanti untuk melakukan lebih ekstrim yang diikuti dengan demo yang berakhir pada permintaan untuk lengser karena dianggap anti Islam. Namun sebelum keadaan ini semakin parah dan masiv, keburu datang si corona yang ganas. Mereka pun memutar haluan dengan menggunakan isu Covid-19 sebagai modus untuk menggoyang Jokowi. Karenanya tak heran bila desakan lockdown langsung mereka gaungkan keras, karena mereka sudah sangat tahu akan akibatnya seperti apa negeri ini.


Beruntunglah Jokowi bukanlah tipe pemimpin yang grusa grusu dan mudah ditekan atau dipengaruhi oleh siapa pun, tapi lebih mengambil sikap hati-hati demi bangsanya agar tak terjerembab pada persoalan yang tak diharapkan seperti yang terjadi di beberapa negara lain seperti halnya Italia, India, Amerika, Ekuador, dan negara-negara lainnya.


Lalu bagaimana bila dengan isu inipun masih gagal? Mereka tidak akan pernah berhenti terus menggangu hingga tahun 2024 mendatang, karena sejatinya sejak Jokowi memimpin negeri ini, banyak pihak yang terganggu zona nyamannya. Diantaranya adalah yang sudah biasa menjarah harta negeri ini.


Lalu siapa mereka sebenarnya? Tak perlu dijelaskan secara gamblang siapa saja mereka, sejatinya batang hidungnya kerap nampak dan kerap bicara seolah mereka yang mewakili rakyat, walau entah rakyat yang mana. Selebihnya tentu saja pihak asing yang mewakili kepentingan akan kekayaan sumber daya alam yang ada di negeri para bedebah ini.


Mampukah Jokowi bertahan dari gempuran hebat yang datang dari berbagai arah? Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. akan selalu melindunginya, selain dukungan rakyat yang justru saat inilah waktu yang sangatlah diperlukan melebihi dari saat kampanye tahun 2014 dan 2019 lalu.

Wassalam

Oleh: Wahyu Sutono.

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Kita Jokowi Jokowi Lawan Kelompok Radikal

Berita Lainnya