Opini

KIAT TERHINDAR DARI PENYAKIT HATI (REVOLUSI MENTAL PROGRAM PRESIDEN IR. H. JOKOWIDODO)

Indah Pratiwi Budi - 22/09/2020 14:10

Penyakit hati (psychoses) merupakan kelainan kepribadian yang ditandai mental dalam (profound-mental), dan gangguan emosional yang mengubah individu normal menjadi tidak mampu meregulasi dirinya untuk adaptif dengan lingkungan. Hasil identifikasi Insanity dan Dementia faktor penyebabnya. Insanity menunjukkan seseorang itu kacau akibat dari tindakannya.

Di saat lain demensia digunakan untuk kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini diinterpretasikan sebagai sinonim dengan kekacauan mental (mental disorder) yang dominan, sebagai dampak mereka acap melakukan prilaku semaunya sendiri. Sehingga kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya. Orang sakit jiwa tidak merasa dirinya sakit, bahkan menganggap dirinya normal, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain.

Di lihat dari perspektif Islam, penyakit hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dst. pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd). Dalam kesehatan mental (mental hygiene) penyakit jiwa didominasi oleh sifat riya’, marah, membanggakan diri, iri hati dan dengki. sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah

Dalam penyakit riya’ terdapat unsur penipuan terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya’ merasuk dalam jiwa seseorang dengan halus dan tanpa terasa, sehingga hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan penyakit ini kecuali orang arif yang ikhlas dan taat.

Dalam riya’ terdapat unsur kepura-puraan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-nutupi kejelekannya dst. Sifat yang demikian digambarkan dalam al-Qur’an surat an-Nisa’: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits Nabi: “Yang paling aku kuatirkan terhadap umatku adalah riya’ dan syahwat yang tersembunyi’.

Islam memberikan terapi riya’ ini dengan cara mengikis nafsu syahwat sedikit demi sedikit dan menanamkan sifat merendahkan diri (tawadhu’) dengan melihat kebesaran Allah SWT.

Sedang Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau pikiran pada akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini acap sulit dikendalikan. Marah akan menimbulkan beberapa pelampiasan, semisalsecara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif.

Ketika marah tidak mampu melampiaskan tindakan-tindakannya destruktif, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri dengan cara semisal merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, membanting perabot rumah tangga dls. Marah pun mampu berpengaruh pada hati seseorang, dengan sifat dengki dan iri hati, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang lain dls. Atas dasar inilah, Nabi melarang orang yang sedang marah untuk melakukan putusan atau memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya: “Seseorang tidak boleh membuat keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah”.

Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang seimbang dengan jalan mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang. Berkenaan hal tsb, emosi marah yang menguasai seseorang dapat membuat stagnan berpikir.

Di samping itu energi tubuh selama marah berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan disesali di kemudian hari. Untuk mengatasi marah ini dapat melaluimengendalikan diri, sebab mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat, baik dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar; dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik yang timbul akibat meningkatnya energy; dan dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain, baik fisik maupun umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri untuk selalu berintrospeksi; serta dari spek kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit fisik pada umumnya.

Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri terhadap emosi marah ini dan menganggapnya sebagai orang yang kuat, sebagaimana sabdanya: “Tidaklah orang dikatakan kuat itu adalah orang yang pandai berkelahi, melainkan orang yang mampu menahan amarahnya”.Adapun di dalam berbangsa dan bernegara pun bangsa Indonesia diwajibkan untuk mendalami pemahaman ber-eka prasetya panca karsa tiada lain bertujuan untuk dapat mengendalikan dirinya.

Adapun perasaan membanggakan diri (‘ujub) sedikit berbeda dengan perasaan sombong (kibr). Menurut al-Ghazali, kibr merupakan perasaan yang muncul pada diri seseorang, di mana ia menganggap dirinya lebih baik dan lebih utama dari orang lain. Sedangkan ‘ujub adalah perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain.

‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri sendiri. Terkadang sebagian orang emosi ini merupakan tingkah laku yang dominan dalam kepribadian dan dapat menimbulkan sikap sombong, angkuh serta merendahkan orang lain. Penilaian yang tinggi terhadap suatu pemberian, sikap yang selalu mengingat-ingat pemberian dan sikap pamrih terhadap perbuatan yang dilakukan merupakan hal-hal yang termasuk kategori ‘ujub.

‘Ujub merupakan perasaan senang yang berlebihan. Kemunculannya disebabkan adanya anggapan bahwa ia merasa yang paling baik dan paling sempurna di dalam segalanya. Sikap ‘ujub adalah penyakit mental yang sangat berbahaya, sebab eksistensinya membuat hati menjadi beku dalam menerima kebaikan, dan selalu menutup-nutupi kesalahan, sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya: “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (Q.S. Fusilat: 51).

Dari sisi lain orang yang bangga dengan dirinya telah menyadari akan kepribadiannya dan mengerti akan kesalahannya, tetapi tidak tertarik untuk kembali kepada kebenaran, melainkan bersikap putus asa, tetap ingkar dan bahkan “enggan” melakukan kebajikan dan pengabdian kepada Allah.

Kemudian iri hati atau dengki merupakan gejala-gejala luar yang terkadang menunuukkan perasaan dalam hati. Akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak mudah untuk diketahui, sebab seseorang akan berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan gejala-gejala tersebut.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa rasa iri muncul akibat kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu tujuan. Oleh sebab itu emosi ini sangat kompleks, dan pada dasarnya terdiri atas rasa ingin memiliki.

Meski demikian, tidak dapat dikatakan, bahwa rasa iri sebagai kumpulan dari rasa marah, rasa ingin memiliki dan rasa rendah diri, akan tetapi lebih dari itu adalah memiliki karakteristik sendiri. Dan di antara gejala-gejala yang nampak adalah marah dengan segala bentuknya mulai dari memukul, mencela, menghina, membuka rahasia orang lain, dls.

Emosi diklasifikasi, menjadi dua macam, yakni Iri yang melahirkan kompetisi sehat (al-munafasah); dan Iri yang melahirkan kompetisi tidak sehat (al-hiqd wal hasad).

Iri jenis pertama merupakan kompetisi sehat untk meniru hal-hal positif yang dimiliki orang lain tanpa didasari oleh interes jahat dalam rangka fastabiqul khairat. Iri dalam jenis ini merupakan sesuatu yang diharuskan bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah: “Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu peraselisihkan”. (Q.S. al-Maidah: 48).

Sedangkan iri dalam jenis kedua lebih didasari oleh rasa benci terhadap apa-apa yang dimiliki oleh oranglain, baik yang berkaitan dengan materi maupun yang berhubungan dengan jabatan/kedudukan. Iri dalam kategori ini cenderung memunculkan sikap antipasti, apriori, apatis, rendah rasa empati, dan bahkan melahirkan sikap permusuhan terhadap orang lain. Kemunculannya lebih disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya’, dan rasa takut kehilangan kedudukan. Semoga bangsa Indonesia menyadari beberapa penyakit hati di atas dan dapat terhindari dari itu semua...Aamiin Ya Rabbal’alamin.

Wallahu’alam Bhisawab.

By: Jarot Sakti Buana, Medio 21 September 2020

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku

Berita Lainnya