Opini

SIAPA ANIES BASWEDAN, BAGAIMANA KEDEKATANNYA DENGAN CIA & MENGAPA PEMERINTAH SELALU HATI-HATI ?

Indah Pratiwi Budi - 24/09/2020 14:02

Saya pernah menulis Ini pada tanggal 20 Oktober 2017, terus terang dari dulu Saya Sudah menduga dia dekat dengan CIA atau Amerika Serikat apalagi Jusuf Kala yang merekomendasikan Anies adalah pemilik Bukaka yang Sebagian besar peralatannya dan kontrak besarnya ada di perusahaan minyak terbesar milik Amerika Serikat di Indonesia Chevron dan sudah lama ada isyu kedekatan Jusuf Kala dengan Amerika Serikat. Hubungan Anies dengan AS dibuktikan juga dengan bukti kedekatannya dengan Amerika Serikat :

25 September 2009, Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta mengirim kawat ke Washington. Kawat sepanjang 3 ribuan karakter itu dikirimkan ke beberapa institusi keamanan Amerika, dari Central Intelligence Agency (CIA), Defense Intelligence Agency, dan National Security Council dan tentu saja kepada Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Isinya, Kedutaan memohon dengan sangat agar Anies Baswedan diberikan visa. Anies saat itu hendak pergi ke Northern Illinois University buat menerima penghargaan sebagai alumnus istimewa dan mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan hadir dalam pertemuan dengan sejumlah akademisi Amerika Serikat di Boston, tulis Kedutaan. Informasi itu termuat dalam laporan "Visa Clearance Needed for Noted Indonesian Scholar" yang diterbitkan oleh WikiLeaks. Kodenya "09JAKARTA1612_a"..

Kawat itu menggambarkan Anies sebagai: "Sahabat Amerika Serikat sekaligus kenalan pribadi Pak Duta Besar", "muslim moderat yang termahsyur", "salah satu intelektual paling cemerlang di Indonesia", dan "orang yang ramah terhadap Amerika Serikat, baik secara privat maupun di muka publik".

Baca selengkapnya di artikel ""DR. Anies Baswedan, Sahabat Amerika Serikat"",
https://tirto.id/cjsb.

Kenapa dalam bulan September ini Saya selalu mengungkapkan fakta sejarah tentang campur tangan CIA atau Amerika Serikat di Indonesia dari mulai Kemerdekaan hingga Kejatuhan Soekarno, Isyu PKI hingga militansi Islam, Karena Amerika selalu memanfaatkan dan menunggangi Islam diseluruh dunia untuk memecah belah bangsanya, Sudah terlihatkan berulangkali benturan-benturan atas nama Agama selalu hadir sejak Pilpres 2014, Pilkada DKI 2017 justru sukses membawa Anies menjadi DKI-1 dan Pilpres 2019, belum lagi keterwakilan di Parlemen baik di Pusat ataupun DKI PKS mempunyai suara yang signifikan (Saya Tak perlu uraikan lagi siapa PKS).

Kemudian kebijakan-kebijakan Anies selalu bertentangan dengan pemerintah pusat tapi selalu didukung oposisi dan pendukung yang Kita semua tau mereka memang kaki tangan Amerika Serikat yang juga masih terkontaminasi Orde Baru dibuktikan dengan giatnya grass road kedaerah-daerah makian makian dan hoax yang menyudutkan pemerintah masih gencar ditambah gesekan provokasi yang menantang perang dan perpecahan ditambah membangkitkan Isyu PKI (Kita Pasti Sudah semakin hafal pola-pola CIA ) serta beberapa orang dengan percaya diri Ingin mendampingi Anies sebagai Calon Wakil Presiden. Dan hebatnya pemerintah terkesan selalu hati-hati!!

Tapi apapun yang akan terjadi semoga masyarakat Indonesia lebih cerdas dan waspada karena Pilpres masih cukup panjang dan Presiden harus terus didukung dengan nasionalisme dan akal Sehat . Tapi Saya sangat percaya rakyat Indonesia sekarang Lebih cerdas dan bisa belajar dari pengalaman apalagi sekarang era keterbukaan dimana informasi yang benar dengan adanya teknologi informasi mempunyai banyak pintu dan tidak mudah termakan fitnah.

Berikut tulisan Saya tanggal 20 Oktober 2017 :

DKI 1

Sebenarnya saya masih ada tanda tanya mengenai Gubernur DKI terutama melihat dinamika politik di negri kita , Anies dan Sudirman Said adalah orang yang mempunyai intelektualitas dan integritas yang tinggi bahkan cukup militan mendukung Jokowi (kita masih ingat Anies menjadi ring 1 team sukses Jokowi - Jk dan Sudirman Said dengan kasus pembubaran Petral dan Papa minta saham ), sebelum diberhentikan dari kabinet.

Jika diamati Pilkada DKI kemarin memang ada operasi yang mendisain agar BTP tidak menjadi DKI-1 . Mulailah muncul isyu yang bisa menimbulkan konflik horisontal apalagi jika BTP menjadi DKI-1.

Terlebih setelah JKW memberhentikan Anies sebelum pilkada DKI (seperti ada kekuatan politik yang mendorong Anies keluar kabinet, saya tidak tau apakah Jkw juga sedang melakukan pembersihan terhadap orang2 yang membahayakan kabinetnya atau memang tidak perform atau ada hal lain? ) yang jelas kemudian dia menjadi calon DKI-1, padahal sebelumnya koalisi Gerindra dan PKS akan mencalonkan Sandiaga Uno dan Mardani Ali Sera ( Petinggi PKS) yang dikatakan hampir final, setelah sebelumnya lagi Sandiaga Uno akan dipasangkan dengan Syaifullah menjadi Cagub dan Cawagub DKI.

Juga seperti ada satu "kekuatan lain" yang menjadikan Anies menjadi Cagub DKI dan Sandiaga Uno hanya sebagai Wagub.

Pada waktu itu PDIP dan Golkar mendukung Badja walaupun saya melihat dilakukan dengan setengah hati, seperti juga ada kekuatan lain yang membuat PDIP mendukung BTP, padahal BTP awalnya mau maju lewat Independen, tapi apa jadinya marwah partai politik kita jika BTP menang lewat jalur independen?

Mulai muncul satu kekuatan yang mendorong Anies dan Sudirman Said untuk jadi cagub dan ketua tim sukses dan merangkul PS....

Pada saat masa kampanye kemudian hubungan PS dan JKW pun mencair. Saya pikir karena JKW saat itu lebih mudah merangkul PS daripada SBY yang lebih percaya diri dengan basis masanya guna mencegah konflik yang lebih panas.

Dan strategi untuk memenangkan Anies Sandiaga Uno pun lebih mudah, asalkan bisa head to head dengan BTP Anies dan S.Uno pasti lebih mudah untuk menang karena keseleo lidah BTP tentang surat Almaidah dan sentimen SARA lebih mudah digoreng untuk menjatuhkan BTP karena lawan sesungguhnya adalah AHY (SBY) yang didukung secara militan oleh ormas islam dan majelis zikir SBY yang mempunyai hubungan dengan banyak pesantren di Indonesia dan Ormas Islam diluar NU dan Muhamadyah yang sudah terbina selama 10 tahun.

Akhirnya mereka bisa menang dengan meyakinkan dengan head to head melawan BTP dan jika Anies head to head dgn AHY saya perkirakan Anies kalah karena (menurut saya AHY mempunyai basis masa militan yang bahkan didatangkan dari luar Jakarta), oleh karena itu Isyu mengenai Almaidah:51 dan rasisme dihembuskan setelah BTP maju sebagai Cagub dan Jarot sebagai Cawagub dan apabila Cagub mundur pada saat penetapan maka akan terkena sangsi pidana sehingga terhindarkan Head to Head dengan AHY. Bahkan pendukung AHY pun memberikan suara untuk Anies untuk menghindarkan perpecahan antara mereka yang tentunya akan menguntungkan BTP.

Pidato Anies kemarin menyinggung istilah pribumi adalah pernyataan bersayap untuk meyakinkan pendukungnya agar disain ini tidak terbaca atau strategi untuk mempertahankan pendukungnya hingga Pilpres 2019 ( mungkin saja kekuatan lain itu menginginkan Anies menjadi Presiden?) Jika benar mungkin kita harus bersiap-siap dengan Isyu rasis sampai dengan 2019.

Saya melihat hubungan JKW dan PDIP pun tidak terlalu bagus, buktinya mekanisme pemilihan komisioner KPK pun diserahkan ke DPR yang nyata2 lawan partai pendukung pemerintah , terbukti banyak yang kena OTT adalah dari partai pendukung pemerintah, seperti PDIP dan Golkar.

bahkan yang mengusung Pansus hak angket KPK pun seluruhnya partai pendukung pemerintah, artinya JKW butuh balancing agar tidak didikte partai pendukungnya.

Kita lihat waktu BTP maju sebagai Cagub mesin partai (terutama PDIP dan Golkar ) sama sekali tidak berjalan dengan baik bahkan demo berjilid2 cenderung dibiarkan.

Ahok dapat suara 43 % itu karena relawan Ahok yang mempunyai peran lebih besar dibandingkan mesin partai.

Kita merasakan masyarakat dibombardir dengan kejadian pada saat Ahok keseleo lidah dengan Almaidah:51. Pada saat Pilkada DKI Putaran 1 munculah kebencian yang luar biasa yang dihembuskan kepada Ahok bahkan dengan demo berjilid-jilid dan Isyu rasialisme terhadap etnis China ( Seperti kita tau ancaman ekonomi dan imperialisme AS saat ini hanya dari China, sedangkan investasi AS di Indonesia terutama sektor pertambangan masih merupakan yang terbesar di Asia Tenggara terutama Chevron dan Freeport), dimana JKW pun sedang berusaha mengurangi pengaruh dan ketergantungan pada AS di Indonesia dengan membuka jalur investasi kepada China dan negara2 bekas blok Timur dan ketergantungan finansial dengan membatalkan perjanjian dengan JP Morgan.

Pada Pilkada Putaran 2 sudah mulai relatif sepi demo2 tersebut karena AHY sudah tersingkir dan suara pendukung AHY pun otomatis berpindah ke Anies Sandi.

Kita lihat permainan politik selanjutnya Semoga bukan intervensi dan ikut campur Amerika Serikat.

Semua ini adalah pendapat pribadi dan saya hanya berharap Indonesia tetap damai .

Wallahu 'alam bisawab.

Tito Gatsu

TAG TERKAIT :
Anies Baswedan Anies Gubernur terbodoh Anies Gubernur Terbodoh Anies Gubernur Pembohong Gubernur Pembohong

Berita Lainnya