Opini

SEJARAH KELAM!! Orde Baru Membantai Muslim

Indah Pratiwi Budi - 24/09/2020 14:47
FOKUS : Orde Baru

Anak² generasi milenial banyak yg tak paham bahwa rezim militer Orde Baru yg dipimpin Jendral Suharto juga berlumuran darah umat muslim, para ustadz dan ulama.

Anak² di bawah 40 tahun, geng ustadz kadrun 212 - yg mondar mandir sowan ke keluarga Cendana kini tidak tahu - atau pura² tidak tahu - lembaran hitam kasus² banjir darah di Tanjung Priok,Jakarta Utara (1984) dengan korban ratusan tewas dibrondong peluru tentara serta kerusuhan rasial di Tasikmalaya dan pembunuhan para ulama di Banyuwangi oleh pasukan "Ninja"di kawasan tapal kuda Jawa Timur (1996 - 98).

Ribuan warga juga tewas dan teraniaya semasa Orde Baru menerapan DOM - Daerah Operasi Militer - di Nangro Aceh Darusslam (NAD) yg notabene warganya mayoritas muslim dan dijuluki Serambi Mekah.

Desa² yg dicurigai menyembunyikan anggota GAM dibakar dan anggota keluarga tersangka militan diculik dan disiksa.

Diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan dan antara 9.000-12.000 orang - sebagian besar warga sipil tewas - antara tahun 1989 dan 1998 dalam operasi TNI tersebut.

Operasi ini berakhir dengan penarikan hampir seluruh personel TNI yg terlibat atas perintah Presiden BJ Habibie pada tanggal 22 Agustus 1998 setelah Suharto dan berakhirnya era Orde Baru.

12 SEPTEMBER 1984

FALAM kasus Tanjung Priok, 12 September 1984, menurut catatan resmi "hanya" 24 korban tewas dan 54 terluka (termasuk militer).

Akan tetapi dari cerita korban yg selamat melaporkan lebih dari seratus orang tewas.

Masyarakat Tanjung Priok memperkirakan total 400 orang terbunuh atau hilang, sedangkan laporan lainnya memperkirakan hingga 700 korban.

Korban yg tewas diangkut truk dan dikuburkan secara massal di Pondok Rangon - Jakarta Timur, dan kuburan itu masih ada sampai sekarang.

FEBRUARI 1989, terjadi penyerbuan tentara ke kelompok Islam Radikal Warsidi di Lampung. Menurut data Komite Solidaritas Mahasiswa Lampung (Smalam), tim investigasi dan advokasi korban peristiwa Talangsari, setidaknya 246 penduduk sipil tewas dalam bentrokan tersebut.

Menurut buku "Talangsari 1989, Kesaksian Korban Pelanggaran HAM Lampung", korban berjumlah 300 orang. Ratusan anak buah dan pengikut Warsidi ditangkap.

Komnas HAM mencatat tragedi Talangsari menelan 130 orang terbunuh, 77 orang dipindahkan secara paksa, 53 orang dirampas haknya sewenang², dan 46 orang lainnya disiksa.

TAHUN 1996 ketika Abdurrahman Wahid baru dinobatkan memegang tampuk pimpinan NU, kepengurusannya tidak diakui pemerintah Orde Baru.

Maka untuk mengacaukan kepemimpinan Gus Dur, rezim Orba menciptakan konflik dengan mendorong berdirinya NU tandingan yg dipimpin Abu Hasan.

Masa itu NU berhadapan dengan penguasa. Saat itu NU dipandang sebagai bagian dari “Islam ekstrim”, dan karena itu perlu dikikis.

Para ulama NU dituduh memfitnah satu persatu diperiksa aparat, diintimidasi, untuk meruntuhkan mental mereka.

Ketika cara halus tidak bisa dipakai, maka cara yg lebih keras dilakukan, yaitu dengan melakukan tindakan militer. Basis NU di daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi mulai dijadikan target operasi.

Kerusuhan massa pun dikobarkan!!

Pada tanggal 10 Oktober 1996, terjadi kerusuhan anti-Kristen dan anti-orang warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Massa mengamuk,sebanyak 56 gedung terbakar (24 di antaranya gereja) dan beberapa korban meninggal.

Sementara di Tasikmalaya Jawa Barat, kerusuhan meletus pada 26 Desember, yg berawal dari aksi pemukulan polisi terhadap KH. Mahmud Farid.

Dari kerusuhan ini, tercatat 70 bangunan rusak serta 107 kendaraan terbakar dan empat korban meninggal dunia.

Baik di Situbondo maupun di Tasikmalaya kaum minoritas Tionghoa menjadi korbannya baik jiwa maupun harta benda. Dan semuanya bentuk menyudutan NU dn Gus Dur.

Munculnya "ninja-ninja" yg membantai guru ngaji, merupakan peristiwa kelam yg dikenang oleh sebagian besar warga nahdliyyin.

Tragedi pembantaian Banyuwangi pada 1998, menelan korban dengan catatan beragam versi. Ada perbedaan jumlah korban antara versi Pemkab Banyuwangi dan versi Tim Pencari Fakta (TPF).

Pemkab Banyuwangi (masa itu) merilis ada 115 korban jiwa yg tersebar di 20 kecamatan. Adapun versi TPF Nahdatul Ulama ada korban meninggal dunia lebih banyak, yakni 147 jiwa

Menurut Gus Dur, operasi² yg dilancarkan guna menyulut kerusuhan² itu dinamakan “Operasi Naga Hijau”.

Dalam konteks percaturan politik Indonesia, “hijau” bisa bermakna dua: ABRI (TNI) dan Islam. Bahkan dalam konteks “Operasi Naga Hijau”, istilah itu mungkin juga menunjuk pandangan pihak militer terhadap apa yg mereka anggap sebagai golongan ekstrem Islam (hijau).

23 JULI 1999

Di Beutong Ateuh, terjadi salah satu peristiwa paling mengerikan dan juga merupakan satu dari sekian banyak pembantaian selama operasi militer yg dilaksanakan di Aceh, yakni Peristiwa Beutong Ateuh atau juga dikenal sebagai Peristiwa Tengku Bantaqiah.

Tengku Bantaqiah adalah seorang alim ulama yg memimpin sebuah pesantren yg terletak di Beutong Ateuh bernama Pesantren "Babul Al Nurillah" yg dituduh oleh TNI sebagai tempat penyembunyian alat logistik GAM.

Tuduhan ini tidak pernah terbukti, namun ekses dari tuduhan tersebut adalah pembantaian terhadap warga sipil yg merupakan jamaah pesantren dan juga Tengku Bantaqiah sendiri yg dilakukan oleh personel TNI yg berada di bawah kendali operasi (BKO) Korem 011/Liliwangsa yg terdiri dari pasukan Yonif 131 dan 133 dengan didukung satu pleton pasukan dari Batalyon 328 Kostrad.

Dalam peristiwa tersebut tercatat 56 orang tewas dan hilang ditembaki tentara. Selain itu, ratusan orang trauma atas perisitwa tersebut.

Bahkan setelah Suharto jatuh, kerusuhan merebak di berbagai daerah setiap kali Suharto hendak diperiksa atau diadili dan didemo mahasiswa atau rakyat.

Di Ambon keributan antar preman dan sopir angkot merembet ke kerusuhan SARA dan menjadi perang antar agama yaitu Islam Kristen. Ulah provokator dari Jakarta Jakarta dan pengerahan laskar jihad makin mengeruhkan suasana. Ribuan orang tewas dari dua kubu.

JELANG akhir kekuasaannya Suharto mendekati umat Islam. Bukan karena dia insyaf,melainkan karena dia kehilangan dukungan dari ABRI terkait bisnis anak²nya yg makin merajalela.

Suharto mendirikan ICMI dan pergi haji bersama Ibu Tien. Dia memberhentikan LB Benny Moerdani yg Katolik dan mengangkat Feisal Tanjung yg diberi predikat jendral Islami. Lalu wacana "ABRI Merah Putih" dan "ABRI Hijau" marak. Dipertentangkan.

Modus Suharto dan Keluarga Cendana tak berubah - dari dulu hingga kini - yakni mengadu domba demi melanggengkan kekuasaannya.

Selain mengadu domba pribumi dengan non pribumi khususnya warga keturunan Tionghoa - mengadu domba sesama ABRI - juga sesama muslim.

Kini pun anak² Cendana melakukan modus yg sama dengan merekrut muslim radikal 212 untuk melawan muslim NU dan warga nasionalis moderat.

SALAM DAMAI
#NuAswaja
#AMR

TAG TERKAIT :
Orde Baru Sejarah Kelam Orde Baru Umat Muslim Dibantai Tragedi Tanjung Priok

Berita Lainnya