Opini

JANGAN BIARKAN BAHTERA NKRI TENGGELAM

Indah Pratiwi Budi - 26/09/2020 12:38

Angkat jempol buat Jokowi. Lima tahun memerintah, dia mampu mengembalikan harkat martabat bangsa. Paling tidak martabat terangkat adalah tentang kita menguasai apa yang menjadi milik kita, ditanah kita sendiri.

Jokowi memang membuktikan hal ini. Blok Rokan yang dikuasai Amerika Serikat, blok Mahakam dikuasai Perancis dan Jepang, Freeport dikuasai Amerika Serikat, tambang nikel di Sulawesi dikuasai Vale dari Brasil, kini semua sudah diambil alih.

Negara mampu mengusai saham mayoritas dari semua perusahaan raksasa yang sudah bercokol rata rata lebih dari 50 tahun.

Hebat? Jelas lah.

Namun, hari ini kita tergopoh gopoh, terkoyak dalam perih luka yang muncul di dalam tubuh dan kita tak tahu harus bagaimana. Kita berasa perih namun tak tahu harus di apakan. Kita dipermainkan oleh ketidak mampuan diri kita sendiri mengatur rumah tangga.

Dari luar, benar adanya kita mulai terlihat makmur, gagah dan bermasa depan. Rumah mentereng. Mobil berjejer.

Namun panas suasana didalam membuat kita tak nyaman, apalagi betah. Ribut suara caci dan marah lebih sering terdengar dibanding bicara layaknya saudara.

Demikian dengan Indonesia. Jokowi sepertinya benar mampu membuat Indonesia semakin mengarah menjadi negara kaya. Semua milik asing mampu kita kuasai kembali. Mampu mengusir mereka yang kemarin "ngadalin" kita dan duduk nyaman becerutu sambil minum wine diserambi rumah kita.

Namun aneh, bukan kita bangga, sejak saat itu kita justru ribut. Kita menjadi rapuh seolah karena bapak sibuk kerja, ibu sosialita, anak suka-suka.

Anak yang kecil sering nangis mainannya direbut, yang tanggung terjebak ngobat dan selalu "fly" dan yang terbesar cuma prihatin.

Sepintas seperti tak ada yang salah. Ada nilai lebih dapat diraih dan bahkan luar biasa bila pembangunan adalah apa yang menjadi ukuran. Bapak terlihat hebat, Istri dan anak-anak ga lagi minder dengan tetangga.

Melihat dengan kaca mata tetangga, apalagi mereka yang di sebelah rumah kita, tampak fisik tentu adalah ukurannya. Bangunan rumah megah itu semakin bersinar, selalu ada koleksi dan penambahan barang baru.

Suram suasana, bukan tetangga kita yang akan merasakannya, kita para penghuni tahu benar betapa tak nyamannya rumah itu.

Rumah tangga Indonesia seperti sekam, tiup saja, api segera tercipta.

"Bukankahh...?"

Ya..,saya tahu kemana kamu mau tanya. Benar, banyak contoh atas itu. Banyak keluarga baru kaya, kembali hancur gara-gara salah satu anaknya kecanduan.

Banyak keluarga menjadi berbalik miskin dan akhirnya bubar karena tak punya mental benar bagaimana seharusnya bertahan tetap kaya dan bahkan makin menjadi kaya.

Siapapun mereka yang menjadi kaya dan terus bertahan tetap makmur adalah mereka yang paham apa itu aturan kedalam, bukan keluar. Musuh terbesar kita adalah kita sendiri.

Percuma ngamuk pada tetangga yang jual obat pada anak kita, anak kitalah sumber masalah itu.

"Jadi, sia-sia dong semua pembangunan itu bila pada akhirnya hanya untuk runtuh lagi?"

Bukan hanya runtuh dan kembali menjadi miskin, bubar adalah contoh paling banyak. Ibu salahkan bapak dan sebaliknya. Anak tak lagi punya panutan bagaimana ideal sepasang orang tua seharusnya.

Keruntuhan itu selalu dimulai dari abai orang tua. Sibuk bekerja demi mengejar apa itu sukses, menjadi alasan pembenar.

"Sedih banget dengarnya yak?"

Awalnya selalu hanya coba-coba. Selalu dari hal kecil. Minta pada hari jum'at semua siswa harus berpakaian sesuai agama di sekolah negeri, penetrasi dimulai.

Hal kecil tak berarti bila dibanding dengan tuduhan negara anti agama yang akan dituduhkan.

Menjadi seragam wajib, dan kemudian acara keagamaan semakin dominan dibanding apa itu seharusnya belajar mengasah otak. Sekolah negeri kita hari ini tak lebih dari wajah agama kita kedepankan. Asah iman digagaskan seolah ilmu tanpa iman adalah sia-sia akhirnya diterima sebagai kebenaran.

Kita menjadi lupa, bukankah sekolah negeri adalah milik publik? Bebas dari kotak dan sekat agama?

Sama dengan setengah dosis pada awalnya kita ijinkan dan kita merasa kuat. Naik menjadi satu dosis dan seterusnya 5 hingga 10 dosis, hanya soal pembenaran kita yang lain. Kita terjebak. Pada titik itu, kita masuk fase kritis, kematian.

"Sudah separah itukah kita?"

Berapa banyak sekolah negeri yang tak lagi peduli dengan siswa beragama lain dan wajib mengenakan seragam satu agama? Berapa perumahan dengan label agama sudah berdiri? Berapa tempat bertuliskan "area wajib berbusana agama" sudah merambah?

Pada titik ini, sulit menilai dimana kita sudah berada. Dua dosis? Lima dosis? Atau bahkan pada titik tak mungkin lagi kembali?

Mbuh...!!

Bukan hal mustahil obat itu memang sengaja disusupkan oleh mereka yang kita pernah tendang. Mereka yang kecewa dan marah karena kepentingan bisnisnya disikat habis oleh Presiden.

Seharusnya, bukan hanya bapak kita persalahkan karena sibuk bikin keluarga kita kaya. Ibu dan saudara terbesar kita yang hanya bisa prihatin, memiliki peran besar. Anak terkecil yang sebentar-sebentar nangis karena mainannya selalu dirusak, tak harus merengek sebagai bentuk protes supaya mendapat perhatian.

Bahtera rumah tangga besar bernama NKRI sedang dalam gelombang besar. Bukan laut dan badai akan menengelamkannya, kita yang berada di dalamnya.

Akankah kita diam? Sekecil dak tak seberarti apapun peran saya, bukan diam sebagai alasan benar.

Saya memilih berteriak "Lawaann..!!"

Bagaimana caranya?

Tak selalu harus peristiwa besar dan jauh, di sekolah misalnya, lawan intoleransi dalam bentuk apapun. Tolak seragam berbau ekslusif satu agama di sekolah-sekolah negeri. Kembalikan sekolah negeri menjadi ruang kita belajar, bukan beragama.


RAHAYU

Karto Bugel

TAG TERKAIT :
NKRI Harga Mati Jokowi Joko Widodo Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Bersatulah Indonesia

Berita Lainnya