News

Jaksa Pinangki Bantah Dirinya Tak Pernah Sebut Nama Jaksa Agung dan Hatta Ali

Anas Baidowi - 30/09/2020 13:16

Beritacenter.COM - Terdakwa Pinangki Sirna Malasari membantah bahwa dirinya tidak pernah penyebut nama Jaksa Agung ST Burhanudin dan eks mantan Ketua Mahkamah Agung, Hatta Ali yang belakangan dikait-kaitkan dengan permasalahan hukum yang dihadapinya.

Pinangki menyampaikan hal itu dalam eksepsi atau nota keberatan yang dibacakan oleh penasihat hukumnya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (30/9).

“Perihal nama Bapak Hatta Ali (mantan Ketua Mahkamah Agung) dan Bapak ST Burhanudin (Jaksa Agung) yang ikut dikait-kaitkan namanya belakangan ini dalam permasalahan hukum terdakwa, sama sekali tidak ada hubungannya, dan terdakwa tidak pernah menyebut nama beliau dalam proses penyidikan dan penuntutan perkara Terdakwa,” tegas Pinangki dalam eksepsi yang dibacakan kuasa hukumnya.

Ia juga menegaskan tak ada hubungan dengan dua sosok tersebut. Ia mengklaim hanya mengetahui Hatta Ali sebagai mantan Ketua MA.

Jaksa Pinangki mengaku tidak mengenal secara personal dan tak pernah berkomunikasi dengan keduanya. Dia hanya mengetahui ST Burhanudin sebagai atasan atau Jaksa Agung di Institusi tempatnya bekerja.

"Namun tidak kenal dan tidak pernah berkomunikasi dengan beliau," ujarnya.

Dalam eksepsi itu juga menyoroti berbagai pemberitaan dan surat dakwaan yang dibacakan oleh penuntut umum, khususnya terkait banyaknya pihak yang seakan-akan terseret dalam kasus ini.

Eksepsi itu juga menegaskan bahwa penyebutan nama-nama tersebut bukan didasarkan oleh pernyataannya.

"Dapat kami sampaikan dalam momen ini, penyebutan nama pihak-pihak tersebut bukanlah atas pernyataan terdakwa dalam proses penyidikan, namun karena ada orang-orang yang sengaja mau mempersalahkan terdakwa, seolah-olah dari terdakwalah yang telah menyebut nama pihak-pihak tersebut. Terdakwa sejak awal dalam penyidikan menyampaikan tidak mau menimbulkan fitnah bagi pihak-pihak yang namanya selalu dikait-kaitkan dengan terdakwa,” kata tim penasihat hukum Pinangki.

Penasihat hukum Pinangki juga mengatakan bahwa terdakwa merasa ada pihak-pihak yang sengaja menggunakan kasus ini untuk kepentingan tertentu, khususnya kepada nama-nama yang disebut dalam action plan. Pinangki khawatir perkara yang membelitnya dijadikan alat untuk menjatuhkan kredibitas pihak-pihak lain.

Pinangki didakwa dengan tindakan permufakatan jahat sebagaimana termuat dalam Pasal 15 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dalam eksepsinya, Pinangki menyebut bahwa dakwaan itu sangat dipaksakan baik oleh para penuntut umum dan penyidik saat proses penyidikan.

Sebab, seandainya pun benar (quad non) terdakwa memang membantu Joko Sugiarto Tjandra alias Djoko Tjandra untuk mengurus Fatwa Mahkamah Agung sehubungan dengan Putusan PK No.12/2009 agar Joko tidak dapat dieksekusi, secara fakta tuduhan itu tidak jadi dilaksanakan.

“Karena Joko Sugiarto Tjandra telah menyatakan Action Plan proses fatwa tersebut tidak masuk akal dan milih untuk menempuh jalur pengajuan peninjauan kembali melalui pengacara Anita Kolopaking,” ujarnya.

Dalam permufakatan jahat yang dituduhkan kepada Pinangki terdapat action plan yang di dalamnya terdapat kode nama-nama orang lain yang diisukan ‘dijual’ olehnya.

Padahal faktanya, sambung penasihat hukum yang membacakan eksepsi tersebut, Pinangki bukanlah yang membuat action plan itu, apalagi menyebutkan nama-nama di dalamnya.

“Sejak awal pemeriksaan di penyidikan terdakwa tidak mau berspekulasi dengan nama-nama yang ada dalam action plan, karena memang tidak tahu dari mana asal action plan tersebut apalagi isi di dalamnya. Sehingga menjadi pertanyaan besar kenapa terdakwa masih didakwa dengan suatu hal yang nyata-nyatanya tidak terjadi,” katanya.

TAG TERKAIT :
Jaksa agung Berita Kriminal Indonesia Berita Center Jaksa Pinangki

Berita Lainnya