Opini

Apa Urgensinya KAMI

Indah Pratiwi Budi - 01/10/2020 11:30
Oleh : Abdul Munib

Kami Bangsa Indonesia

dengan ini...


Jangankan Jokowi yang punya karya bangunan-bangunan fisik banyak, Suharto diktator dimakzulkan pun saya tidak bisa terima. Tidak setuju. Karena menurut saya salahnya Soeharto harus jelas dulu di mata hukum Indonesia. Baru bisa diturunkan. Hal mana sama juga ketika, Soeharto mengambil kepresidenan ini dari Soekarno dengan bantuan agen asing. Kalau kekerasan, rakyat kita bukan tukangnya. Hanya para penyeting yang ahli di bidang ini. Ujungnya juga jual beli.


Acara makzul-memakzul itu asli agenda agen Asing. Untuk tetap mempertahankan kondisi kontrol mereka atas bangsa dan negara ini. Presiden adalah kepala negara. Simbol kepemimpinan nasional. Berhenti dan naiknya ada aturan konstitusi di UUD 2002. Siapapun menyalahi konstitusi, dengan putar balik argumentasi politik, itu tak lepas dari agenda agen asing mengontrol kendali. Seperti Mega dan Amin lakukan pada presiden Kepala Negara yang syah Abdurrahman Wahid. Ini realitas sejarah pelanggaran konstitusi. Yang terpaksa dianggap syah karena alasan efek konstitusi juga.


Tapi bangsa ini milik rakyatnya, waktu kedepan akan bicara : siapa yang antek siapa

ikhlas untuk bangsa ini.


Saya sudah baca delapan point tuntutan KAMI -nya Din Syamsudin. Mirip surat pembaca di koran yang biasa saya pimpin. Argumentasinya cetek sekali. Sebuah sinyal bahwa mereka di dalam sendiri jauh dari kompak. Padahal ada jenius sekaliber Nursi. Seharusnya Jokowi dan sekelilingnya bagi dikit lah proyek untuk mereka. Jangan terlalu galojo mau makan semua sendiri bersama kroni. Saya lihat substansi perkara ini ada di seputar itu.


Diantara dua kubu itu, kalian sama saja. Kalau menang rebut kekuasaan mau makan sendiri dan kroninya saja. Sepertinya bangsa dan negara Indonesia ini hanya jadi alat bisnis kalian berdua. Yang setiap pemilu terus kalian perebutkan. Dengan KPU sebagai perampok demokrasi. Kontrol atas sistem penyelenggara demokrasi sama saja dengan di era Soeharto. Alias sebelum tender dilakukan pemenangnya sudah ada. Oknun KPU, oknum Lemsur (lembaga survei), pengamat politik, pengacara dan calo seputar MK butuh pekerjaan.


Kalau lagi nyari suara di rakyat, bikin narasi Pancasila lawan Khilafah lah. Seolah satu pihak Pancasila pihak lain tidak Pancasila. Khilafah juga hasil nafsir sendiri dari Al Quran, makna sejatinya versi pemilik teks Tuhan dan Nabi belum tentu seperti penafsiran mereka. Mereka sibuk dengan agama tafsiran mereka dan kelompoknya saja. Kullu hijbin bima ladaihim farihun, setiap kelompok bangga dengan fahaman yang ada disisinya sendiri-sendiri. Narasi itu yang dipakai. Bukan program dan rencana aksi lima tahun.


Kang Mat: Ini menurutmu kenapa Bong?


Bung Cebong : Alur hubungan Barat dengan Indonesia dulu jalur Dwifungsi. Gus Dur bubarkan Dwifungsi dengan dibuat UU TNI dan UU Polri. Jejak pasca Dwigungsi itu dikasih pintu oleh Amin Rais lewat Amandemen UUD empat kali, larinya pada ke Parpol. Tiga corak Parpol kita : Nasionalis, Parpol Agama dan Parpol Jendral. Akhirnya Parpol main terlalu jauh. Membedah pembagian menteri dan banyak lagi.


Kang Mat : Menurut kamu gimana, Long?


Santri Kalong : Seabad kebangkitan nasional kita harus dievaluasi. Harus ada perenungan

yang dalam, lama dan teratur. Bagian-bagian mana letak salahnya perjalanan kita. Misalkan kita telah meninggalkan tradisi dan agama untuk menyambut peradaban modern. Dan ternyata Siti Nurbaya yang menuduh adatnya kolot itu salah. Modern bukan berarti ikut semua orang Barat. Bisa telanjang semua kita. Bahwa tradisi, agama dan sains teknologi ternyata bisa hidup bersama satu rumah. Kita harus sepakat ini dulu. Silahkan pemuda Indonesia, delapan tahun lagi buat Kongres Pemdua Keberapa mengevaluasi satu abad Sumpah Pemuda. Apa masih perlu sumpah baru lagi.


Kang Mat : Kamu, Dul menurutmu bagaimana?


Dul Kampret : Realitas sejarah dunia hari ini bagaimana ? Covid-19 menunjukan Barat semakin tenggelam. Industri manufaktur mereka kalah telak dari China. Peradaban sedang berganti mataharinya yang baru. KAMI yang dilihat dari bayangannya masih nguli ke uangnya Raja minyak Timur Tengah alias mitra Blok Barat, itu masa lalu. Saya setuju Kang Santri Kalong. Dalam dekade ini kita siapkan anak-anak yang masih duduk di SD dan SMP untuk memaknai baru kebangkitan bangsa dan Sumpah Pemuda. Tidak usah sumpah palapa, mau menyatukan mana lagi yang ada saja belum terurus baik.


Kang Mat : Bagaimana kau Klep. Untuk soal ini ada pendapat ?


Pace Yaklep : Untuk kali ini saya absen dulu Kang Mat. Istirahat pendapat dulu. Kemarin urus Mangga Golek Dormena masih tadah komplain banyak. Mangga kurang. Jalan macet. Sementara mangga di Sentani Kiri bupati sudah terlanjur buang lima tahun lalu.


Angkringan Filsafat Pancasila

 

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

TAG TERKAIT :
KAMI KAMI Tukang Hoaks KAMI Tukang Bohong

Berita Lainnya