Opini

JANGAN PERNAH ADA LAGI KUDETA

Indah Pratiwi Budi - 13/10/2020 17:00

Setelah peristiwa G30S/PKI, beredar gencar hoax ttg kekejaman dan aksi tdk senonoh yg dilakukan Gerwani. Para perempuan Gerwani ditimpa hoax melakukan tarian telanjang, menyongkel mata dan menyileti kemaluan para perwira. Kemudian anggota Gerwani ditangkapi sampai kepelosok daerah, dipenjara, disiksa dan diperkosa.

Supaya hoax ttg Gerwani semakin dahsyat maka ditangkaplah 3 perempuan yg tdk tahu apa2 dan bukan Gerwani dan mereka disiksa dan dipaksa supaya mengaku Gerwani yg melakukan berbagai kekejaman dilubang buaya, mereka adalah : Sainah, Emy dan Atikah Djamilah.

Emy ialah seorang PSK yg buta hurup dimasukan kedlm penjara Bukit Duri, Emy disiksa untuk mengaku sbg anggota Gerwani, ia disuruh cap jempol dari berita acara pemeriksaan yg ia tidak ketahui isinya, isi surat peryataan itu memberitakan bahwa ia adalah anggota Gerwani Jakarta dan ambil bagian dlm penyiksaan kelamin kpd para Jenderal dilubang buaya, hoax ini lalu disebar diberbagai media seperti Angkatan Bersenjata, Berita Yudha, Sinar Harapan, adapun tujuan hoax ini adalah untuk membakar masyarakat. Padahal Emy adalah seorang PSK yg biasa berdiam di Halim Perdanakusuma.

Selain Emi, Djamilah juga dipublikasikan sbg anggota Gerwani dan tuduhannya sama seperti Emy, yg kemudian disebarkan kebeberapa media seperti Angkatan Bersenjata, Berita Yudha, Sinar Harapan, yg terbit pd 5-6 Nov 1965 dan hoax2 tersebut berhasil, kemudian mahasiswa berdemo sambil berteriak2 :

Gerwani cabo, gantung Gerwani, dan ganyang Gerwani dan berbagai media terus menerus menyantap dan menebarkan hoax tsb dan berhasil membakar masyarakat yg kemudian ramai berdemo.

Dihadapan 30 ribu perempuan Soeharto berpidato menyampaikan hoax2 terhadap Gerwani, memberikan peringatan ttg pentingnya meluruskan moral kaum perempuan dan dikutip Berita Yudha 9 Nov 1965.

Bertebaran hoax tidak masuk akal mengenai perbuatan asusila dan kekejian yg dituduhkan kpd Gerwani membuat Presiden Soekarno geram, beliau berupaya meredam gejolak fitnah dan hoax tsb lewat radio : " Adakah rakyatku sudah begitu bodohnya dan percaya ttg omong kosong yg menyatakan beberapa ratus wanita telah memotong zakar para Jenderal dgn pisau silet ? ".

Namun, peryataan Presiden Soekarno itu tidak ada hasilnya, meskipun beliau berusaha membendung kekerasan dgn mengumumkan hasil Autopsi para Jenderal dan hanya satu media yg memuat hasil autopsi itu, yaitu Sinar Harapan pd 13 Des 1965.

Mahasiswa dan masyarakat lebih percaya hoax dan fitnah yg disebarkan Soeharto yg didukung teman2nya dan media, dari pada fakta kebenaran yg diberikan Soekarno dan akhirnya Soeharto pun berkuasa lewat kudeta merangkak , berkuasa lewat hoax dan darah.

Dan sekarang cara2 inilah yg terus menerus yg digunakan musuh2 Presiden Jokowi untuk menjatuhkan Presiden Jokowi, cara hoax dan fitnah, lalu demo2, mereka ingin mengulangi kejatuhan Presiden Soekarno.

Dizaman dulu tekhnologi belum canggih, belum ada komputer, internet HP, dll.

Dizaman sekarang tekhnologi semakin hebat, ada komputer, internet, smartphone, tetapi luar biasanya meskipun tekhnologi sudah canggih dan berita yg benar sgt mudah diakses tetapi masyarakat lebih percaya kpd hoax dan difitnah, yg katanya mahasiswa malah sebagian lebih percaya hoax dan fitnah, meskipun kebenaran dibentangkan tetapi mereka lebih percaya hoax dan begitulah yg terjadi terhadap diri Presiden Jokowi, dari awal menjabat sudah gencar diserang hoax dan fitnah, hendak dijatuhkan oleh musuh2nya lewat hoax dan fitnah, lalu didemo.

Hoax dan fitnah Presiden Jokowi dan orang tuanya PKI, gagal.
Hoax kebangkitan PKI, gagal.
Hoax Indonesia diserbu TKA China, gagal.

Dan sekarang hoax Omnibus Law UU Ciptaker, dimedsos hoax2 Omnibus UU Ciptaker disebar gencar dan sebagian mahasiswa dan buruh lebih percaya hoax dari pd kebenaran, lalu merekapun berdemo membela hoax, ditambah lagi orang2 bodoh yg dibayar uang receh mau diperintahkan membakar, membuat rusuh.

Kebencian, kedengkian, manusia2 busuk bersatu ingin menjatuhkan Presiden Jokowi, mereka hanya sekedar ingin berkuasa dan bukan utk membangun bangsa dan negara, sedangkan Presiden Jokowi benar2 tulus ingin membangun bangsa dan negara dan tidak mungkin menzalimi rakyatnya sendiri.

- Jangan pernah ada lagi kudeta, sejak reformasi, HTI berusaha masuk ke tubuh TNI, HTI terus menghasut TNI utk melakukan kudeta, karena kuncinya ada dimiliter.

- Jangan pernah ada lagi kudeta, kita percaya bahwa TNI dan Polri masih tetap solid dan tetap mendukung dan patuh kpd panglima tertinggi yaitu Presiden Jokowi.

- Jangan pernah ada lagi kudeta, cukup Soekarno saja, sejarah jangan terulang kembali kpd Presiden Jokowi, maka dari itu kita tetap terus lawan hoax dan fitnah, jangan lengah tetap solid dan bersatu tetap mendukung Presiden Jokowi.

Puluhan juta pendukung Presiden Jokowi harus tetap solid bersatu, hanya pendukung2 Presiden Jokowi inilah yg betul2 mendukung ikhlas Presiden Jokowi tanpa dibayar sepeserpun dan kepentingannya hanya semata2 utk bangsa dan negara, sedangkan yg lain punya kepentingan politik/kekuasaan, hari ini kawan besok jadi lawan. Jadi pendukung Presiden Jokowi harus tetap solid bersatu melawan manusia2 busuk dari berbagai profesi yg tdk kenal lelah ingin terus menerus menjatuhkan Presiden Jokowi, memprovokasi, memfitnah, mengadu domba, menyebarkan hoax supaya membakar.

Jangan lengah dan anggap enteng, kita terus waspada dan lawan mereka.

SALAM DAMAI.
ROF SIN.

Berita Lainnya

Lonte

Opini 18/11/2020 15:29