Nasional

Ngabalin Tentang Para Pendemo yang Minta Jokowi Mundur-Perusuh: Mereka Sampah Demokrasi

Anas Baidowi - 14/10/2020 06:30
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin

Beritacenter.COM - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin, mengaku geram dengan para pendemo UU Cipta Kerja yang meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dan para perusuh. Ngabalin menyebut mereka sebagai sampah demokrasi.

Sebelumnya, Ngabalin mengatakan bahwa untuk mengukur kebenaran dari sebuah informasi harus dengan hati juga, bukan hanya dengan mata dan telinga. Dia kemudian menyinggung salah satu ayat dalam Al-Qur'an.

"Jadi, demonstrasi itu dilakukan, kalau teman-teman menyebutkan demonstrasi itu untuk menyampaikan pandangan dan pikiran seperti yang sekarang ini mereka teriakkan, penjelasan apa yang kurang terkait dengan UU Cipta Kerja?" kata Ngabalin saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2020).

"Makanya di Instagram itu kan Bang Ali tulis bahwa kalau ukurannya hati, kemudian mereka tidak pakai hati untuk mengukur sebuah informasi yang datang... Kan menurut Al-Qur'an itu kan, kalau teman-teman ini paham agama, menurut Al-Qur'an itu kan, di surat Al-A'raf itu ayat 179, kan Qur'an menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak mengerti dengan hatinya, mereka yang tidak menggunakan matanya, mereka tidak menggunakan kupingnya untuk menemukan suatu kebenaran, maka mereka itu sama dengan binatang ternak, bahkan lebih sesat dari binatang ternak," imbuhnya menjelaskan.

Setelah itu, Ngabalin menyebut para pendemo yang meminta Presiden Jokowi mundur dan para perusuh itu sebagai sampah demokrasi. Ngabalin mengaku heran. Sebab, demonstrasi yang awalnya menolak Omnibus Law malah ujung-ujungnya meminta Jokowi mundur.

"Terus demonstrasi apa yang mereka mau pakai? Berteriak atas nama kemerdekaan mengemukakan pendapat, Pasal 28 UUD 1945 atau mereka mau pakai UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan mengemukakan pendapat di muka umum, kemudian berteriak-teriak meminta presiden mundur, sampah namanya itu. Itu yang abang bilang sampah. Belum lagi para perusuh," tegas Ngabalin.

"Itu namanya sampah demokrasi namanya. Tujuan apa mereka maksud? Berteriak atas nama UU Cipta Kerja, tapi ujung-ujungnya berteriak presiden mundur, minta presiden mundur. Lu siapa? Mulut-mulut sampah, mulut-mulut comberan. Lu siapa sih? Emang kau siapa, organisasi apa kau? Mau sok-sok minta presiden mundur," sambung dia.

Ngabalin meyakini, ada oknum dibalik kerusuhan di Indonesia dalam penolakan UU Cipta Kerja. oknum itu sengaja menunggangi aksi buruh dan mahasiswa. Namun mantan anggota DPR RI itu menyerahkan sepenuhnya kepada Polri untuk mengusutnya.

"Pasti, pasti ada yang menunggangi. Mau dalam negeri, mau luar negeri, ada semua yang menunggangi," terang Ngabalin.

"Karena begini, polisi kan lagi bekerja ini. Polisi lagi bekerja. Polisi itu kan lembaga negara. Dia bekerja secara profesional. Dia bekerja di atas aturan hukum dan perundang-undangan yang ada. Kalau kita nggak perlu percaya polisi, terus Polri, terus kita mau percaya polisi apa? Polisi tidur?" lanjut dia menjawab pertanyaan siapa oknum yang menunggangi aksi buruh dan mahasiswa.

Kemudian, Ngabalin juga menekankan bahwa UU Cipta Kerja ini merupakan suatu legacy dari Jokowi untuk generasi yang akan datang. Legacy tersebut merupakan bentuk kenangan 10 tahun ia memimpin negeri ini.

"Jokowi itu menabrak 32 tahun tirani yang dibangun selama ini. Jokowi itu membuat suatu legacy untuk generasi yang akan datang. Beliau ingin mengakhiri masa kepemimpinan kepresidenannya 10 tahun ini dengan meninggalkan suatu legacy yang terbaik," sebutnya.

 

TAG TERKAIT :
Berita Center Ali Mochtar Ngabalin Demo Tolak UU Cipta Kerja Pendemo MInta Jokowi Mundur Perusuh Aksi Demo Omnibus Law Sampah Demokrasi

Berita Lainnya