News

MUI : Boikot Produk Prancis Bisa Jadi Wajib, Guna Menyadarkan Penghina Nabi!

Bisa wajib jika itu jadi sarana untuk menyadarkan penghina nabi agar menarik kesalahannya. Keimanan terhadap Nabi itu bagian dari rukun iman. Dan penghormatan terhadap Nabi itu bagian dari keimanan yang merupakan salah satu dari inti ajaran Islam

Aisyah Isyana - 01/11/2020 13:17

Beritacenter.COM - Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara soal adanya pemboikotan produk Prancis, pasca pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai telah melukai hati umat Islam. Dalam hal ini, MUI menyebut pemboikotan produk Prancis dapat menjadi wajib, jika hal itu dijadikan sarana guna mengingatkan pihak yang mengihina Nabi Muhammad SAW.

"Bisa wajib jika itu jadi sarana untuk menyadarkan penghina nabi agar menarik kesalahannya. Keimanan terhadap Nabi itu bagian dari rukun iman. Dan penghormatan terhadap Nabi itu bagian dari keimanan yang merupakan salah satu dari inti ajaran Islam," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam, dalam keterangannya, Minggu (1/11/2020).

Baca juga : Ini Pembelaan Presiden Prancis setelah Dapat Kecaman dari Negara Mayoritas Muslim

Menurutnya, tak ada ruang maupun toleransi terhadap siapa pun dan pihak manapun yang melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Niam menyebut sosok Nabi Muhammad merupakan sosok yang maksum dalam keyakinan umat Islam.

"Boikot produk Prancis bisa jadi wajib jika tindakan tersebut menjadi sarana untuk menegakkan kewajiban agama, yaitu penghormatan terhadap Nabi SAW, serta menyadarkan kesalahan Macron atas tindakan penghinaan terhadap Nabi dan sarana menghukumnya agar memperbaiki kesalahannya," ujar Niam.

Dalam hal ini, Niam menyebut setiap umat muslim wajib memberikan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Untuk itu, umat muslim juga berkewajiban untuk melindungi Nabi dari setiap segala tindakan penistaan.

"Apa yang dilakukan Presiden Macron adalah salah satu bentuk pelecehan dan penghinaan kesucian baginda Rasulullah SAW dan kesucian agama Islam. Jika pemboikotan terhadap produk Prancis itu bagian dari sarana untuk mengingatkan akan kesalahan sekaligus juga menyadarkan kesalahan Macron, dari apa yang dia lakukan dan kemudian menjadi instrumen agar dia kembali kepada kebenaran kembali menarik kesalahan yang dia lakukan. Kemudian normalisasi kehidupan pergaulan internasional maka pemboikotan menjadi syar'i bagian dari sarana untuk mengingatkan itu," ujar Niam.

"Untuk itu kita bisa lihat pemboikotan kalau ditempatkan di dalam kerangka untuk mengingatkan kan kesalahan yang dilakukan Macron agar tidak sewenang-wenang di dalam melakukan penistaan sekalipun atas nama kebebasan itu bagian dari rangkaian penghormatan kita kepada baginda Rasulullah SAW. Lilwasaili hukumul maqosid. Sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuan, tujuan penghormatan kepada baginda Rasullullah SAW dan mengingatkan orang yang menistakan baginda Rasulullah SAW, maka sarana itu bisa jadi menjadi wajib," sambung Niam.

Baca juga : Jokowi Kecam Pernyataan Presiden Prancis yang Hina Islam : Bisa Memecah Belah, Harus Dihentikan!

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi juga telah menyampaikan sikap pemerintah Indonesia terkait pernyataan Macron. Jokowi mengecam pernyataan Presiden Macron yang menyebut penyerangan itu sebagai serangan teroris Islamis.

Meski begitu, Jokowi juga mengecam tindakan kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice, Prancis. Dalam hal ini, Jokowi menekankan mengaitkan tindakan terorisme dengan agama tertentu adalah kesalahan besar. Menurutnya, aksi terorisme tak ada hubungannya dengan agama apa pun.

"Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun," kata Jokowi dalam jumpa pers yang disiarkan kanal Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10).

Selain itu, Jokowi jua mengecam pernyataan Macron yang dinilai telah melukai perasaan umat Islam. "Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia yang bisa memecah belah persatuan antarumat beragama di dunia," ujar Jokowi.

"Di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi COVID-19. Dan kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan," pungkasnya.

TAG TERKAIT :
MUI Presiden Jokowi Presiden Prancis Macron Hina Islam Emmanuel Macron Boikot Produk Prancis

Berita Lainnya