Opini

Jokowi Diserang Segala Arah

Indah Pratiwi Budi - 14/11/2020 07:00
Oleh : Agung Wibawanto

Mulai ada yang aneh kan. Ada kasus intoleran salahkan Jokowi karena cuma diam saja. Ada kasus si Naen dkk nyinyir miring, salahkan Jokowi dianggap gak merespon. Ada aksi massa di tengah pandemi yang salah juga Jokowi dianggap gak tegas. Ada berita kepulangan Rizieq yang dijemput massal, dibilang lah Jokowi tidak berani sama FPI. Siapa yang menuduh begitu? Pendukung Jokowi sendiri! Mulai gak percaya Jokowi? Entahlah.

Kalau yang protes dan menuduh itu adalah Supen tentu kita menjadi maklum, karena itu pekerjaan mereka. Pahami. Kini Jokowi diserang kanan kiri atas bawah. Baik oleh musuh politiknya maupun pendukungnya sendiri. Bagaimana Jokowi bisa fokus kepada program kerjanya? Lantas bagaimana kita? Ikut memojokkan Jokowi dan tidak percaya lagi kemudian mulai meninggalkannya? Yuk, tanya pada masing2.

Bukan tidak boleh mengkritik lho. Baper juga boleh, sepanjang tidak melemahkan dukungan kita untuk menjaga dan mengawal Jokowi hingga selesai masa tugasnya 2024. Kalau ditanya ke saya, Saya tetap percaya dan tetap bersama Jokowi, apapun yang terjadi. Tidak akan berubah menjadi Kaum Supen yang mengolok-olok serta memojokkan Jokowi dan itu membuat lemahnya semangat mengawal Jokowi. Sudah banyak yang seperti itu. Dulu relawan tapi kini nomer satu yang menghujat.

Kadang merasa sedih saja jika para pendukung sendiri hanya melihat dan menyalahkan Jokowi kasus per kasus (yang itu bukan wilayahnya seorang presiden). Mereka sama sekali tidak melihat dan tidak mau peduli akan hal-hal positif yang sudah banyak dilakukan Jokowi untuk kebaikan dan kemajuan negeri ini. Jokowi sudah memiliki banyak beban, apa perlu kita tambah beban tersebut dipundaknya? Bahkan jika perlu meninggalkannya?

Tidak! Tidak akan pernah meninggalkannya berjuang sendirian. Kita tengah berjuang dibawah komandonya. Benar atau pun salah, presiden kita adalah Jokowi. Mari kita benahi bersama-sama, dan lakukan apa yang memang harus kita lakukan. Bantu dia. Kita tebarkan terus semangat kebhinekaaan, toleransi, saling kasih antar sesama, menegakkan peraturan, konsisten dan konsekuen, itu yang bisa kita lakukan. Mulai dari diri kita dan di lingkungan kita.

Karena Jokowi juga tidak pernah memerintahkan ataupun menyuruh-nyuruh. Beliau hanya menunjukkan bagaimana tetap rendah hati, tidak mentang-mentang, mau menyayangi sesama dan tetap fokus bekerja (tidak menggosip dan terpancing gosip). Mudah baginya jika hanya merespon tuduhan dan tidak melakukan apapun lainnya. Namun jalan tersebut tidak dipilihnya. Ia lebih memilih fokus bekerja ketimbang membalas tuduhan. Mengajak kita produktif.

Kita sering terjebak dan latah dengan kebiasaan pada sistem otoriter si masa orba yang serba sentralistik. Semua kekuasaan ada pada satu tangan yakni Presiden. Kini zaman sudah berubah. Kekuasaan tidak berada pada diri satu orang lagi melainkan disebar (Trias Politika). Presiden tidak boleh melakukan intervensi kepada sesuatu yang bukan kewenangannya. Apabila dilakukan bisa berakibat fatal, dapat diimpeachment.

Dalam sistem demokrasi, kekuasaan dibagi ke dalam tiga golongan: eksekutif, yudikatif dan legislatif. Bahkan di eksekutif sendiri juga terdapat aturan di mana Pusat atau Presiden tidak dapat berlaku semena-mena. Contoh, ada UU Otonomi Daerah. Ada UU Kepolisian, UU Kejaksaan dsb. Presiden dibantu oleh menteri kabinet yang mengurus operasional dan eksekusi. Tidak semua-mua bisa diurus oleh presiden.

Ekspektasi kita kadang terlalu berlebih kepada presiden Jokowi, di sisi lain kita tidak ingin presiden berlaku otoriter dan represif. Contoh saja, dulu kita protes dengan model kekuasaan orde baru yang bahkan bisa (berhak) mencabut nyawa seseorang (ingat petrus dan matius, serta penculikan aktivis?). Sekarang malah meminta agar Jokowi lebih 'galak'? Peradilan hukum sendiri yang bukan kuasanya presiden, memiliki aturan mainnya.

Tidak akan ada peristiwa hukum apabila tidak ada pelanggaran hukum, itu pun harus dimiliki sedikitnya dua alat bukti terlebih dahulu. Jadi bagaimana mungkin menyalahkan ataupun meminta Jokowi agar lebih berani kepada kelompok ormas tertentu? Berani seperti apa? Bukankah HTI sudah dibubarkan dan FPI tidak mendapat izin perpanjangannya? Itu yang bisa dilakukan pemerintah melalui menkumham, mendagri dan menkopolhukam.

Jadi sekali lagi, Jokowi hanya ingin fokus bekerja mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana visinya. Presiden hanya memberi arahan secara umum. Untuk kasus per kasus dapat ditangani oleh masing-masing kementerian, dan aparat penegak hukum baik pusat maupun daerah. Jadi, mari bijak menyikapi, dan jangan seperti kaum Supen, semua-mua menjadi salah Jokowi. Apapun yang terjadi tetap Jokowi tidak ada benarnya. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Presiden Joko Widodo Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Pembenci Jokowi

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45

Ahli Silat Kata

Opini 25/02/2021 13:37