Opini

Lonte Naik Panggung

Indah Pratiwi Budi - 24/11/2020 09:23
Oleh : Makinuddin Samin
FOKUS : Lonte

“Aku menduga, lonte akan segera naik harga setelah diucapkan oleh pesohor sekelas tokoh politik dan penyiar agama, apalagi di forum mulia peringatan Maulid Nabi Muhammad,” kata Cak Jumali di depan kami, para jamaahnya di Warung Kopi Yu’ Djum.

Pagi ini, kami sengaja menemui Cak Jumali di warung istrinya untuk mendengarkan opininya tentang perdebatan yang ramai di media sosial; Soal lonte.

“Sudah lumrah produk yang digemari, dikenakan, ditampilkan, apalagi diucapkan berkali-kali oleh para pesohor kemudian menjadi buruan publik,” sambungnya.

“Ini soal lonte lho, Cak?” Tanyaku. Aku tak setuju jika lonte disamakan dengan barang dagangan. “Penggunaan kata 'lonte' itu stereotip, memberikan citra negative kepada perempuan. Aku tak terima perempuan dianggap sebagai barang dagangan!”

“Lonte juga produk yang diperdagangkan, Gus” bantahnya. “Semua yang diperdagangkan, apapun sebutannya dan bentuknya, akan memanfaatkan kepopuleran seseorang untuk memasarkan dan mendukung jualannya,” Cak Jumali tak bergeming.

Sesak nafas aku mendengarkan penjelasan Cak Jumali. Orang yang aku kenal memiliki pandangan dan gagasan logis, ternyata menyamakan lonte dengan barang dagangan.

“Apakah itu yang disebut endorse pada zaman sekarang, Cak?” Tanya Samuji.

“Betul, itu yang di era e-commerce disebut endorse, Ji.” Cak Jumali menegaskan.

“Artinya para pendagang lonte, tanpa perlu membayar, mereka telah mendapat endorse dari para juru dakwah yang sedang viral di media sosial itu.” Samuji menimpali.

Samuji yang biasanya berseberangan pendapat dengan Cak Jumali, baru kali ini, ketika berbicara soal lonte kompak dan saling mendukung. “Jancuk!” pisukuh dalam hati.

“Aku tak suka produk ini dibawa naik ke panggung, apalagi ada revolusi lonte segala!” kata Cak Jumali dengan wajah serius.

“Mengapa begitu, Cak?” Samuji penasaran.

“Sebagai penikmat lonte, membawanya ke panggung pengajian akan membuatnya menjadi buruan publik dan harganya segera meroket mengikuti permintaan yang semakin tinggi, Ji.”

“Cak Jumali juga penikmat lonte?” Tanyaku tak percaya.

“Iya, hampir setiap hari aku menikmati lonte,” jawabnya tanpa ragu.

“Di mana biasa membeli lonte, Cak?” Tanya Samuji sambil tersenyum jorok.

“Di pojok pasar, di sebelah toko kemenyan.”

“Sebelah toko kemenyan itu kan penjual sarapan?” Tanyaku penasaran.

“Iya, di situlah aku biasa sarapan lonte, lontang dan sate?” Jawabnya cengengesan.

“Jangkrik!” Pisuhku diikuti ledakan tawa mereka berdua.

Sumber : Status Facebook Makinuddin Samin

TAG TERKAIT :
Rizieq Shihab Rizieq Nikita Mirzani VS Rizieq Lonte Nikita VS Rizieq Baliho Rizieq Dicopot Rizieq VS Nikita

Berita Lainnya

Sorot Mata Itu

Opini 18/01/2021 09:30