Opini

Cara NU dan Muhammadiyah Menyikapi Terorisme

Indah Pratiwi - 02/12/2020 08:35
Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Pada dasarnya..., sejak dahulu hanya ada dua organisasi besar di Indonesia yang mewarnai perjalanan Republik Indonesia...; yaitu NU dan Muhammadiyah.

Muhammadiyah..., adalah organisasi Islam yang menjadi cikal bakal lahirnya organisasi Islam lainnya..., bahkan organisasi politik pergerakan di Indonesia.

Hal yang tak bisa dipungkiri dari fakta sejarah adalah..., bahwa Bung Karno..., Muso., dan Soekarmadji Kartosuwirjo adalah sama-sama aktivis Muhammadiyah sewaktu muda.

Tapi..., mereka mempunyai Ideologi yang berbeda dikemudian hari.

Bung Karno menjadi seorang nasionalis..., bahkan cenderung menjadi seorang NU.

Beliau bersama-sama tokoh NU...., menggali Pancasila.

Muso menjadi seorang komunis..., dan Soekarnadji Kartosuwirjo menjadi seorang tokoh NII dan DI/TII.

Pada akhirnya Muso dan Kartosuwirjo meninggal dieksekusi...., karena dianggap pengkhianat Negara.

Melihat hal tersebut cukup kiranya menjadi bukti..., bahwa Wasathiyatul Islam memang platform Islam terbaik di Indonesia.

Jika Muhammadiyah merupakan organisasi yang lebih mengutamakan pendidikan...., NU lebih konsisten menegakkan Wasathiyatul Islam dengan bergerak menjaga agar islam tidak terganggu oleh terorisme dan menjaga nasionalisme..., Pancasila..., dan budaya leluhur.

Bisa dikatakan..., dua kelompok inilah yang secara alamiah membentuk harmonisasi kehidupan masyarakat Indonesia sejak bertahun -tahun yang lalu.

Muhammadiyah memberikan pendidikan islam secara moderat..., dan NU menjaga Akhlaqul Kharimah dan menjaga Wasathiyatul Islam untuk kehidupan yang lebih harmonis dalam berbangsa dan bernegara.

Walaupun akhir-akhir ini Muhammadiyah banyak kemasukan angin dari para oportunis politik.., itu karena platform mereka yang lebih cenderung ke pendidikan berbeda dengan NU yang hingga ukuran akhlak.

Apa itu Wasathiyatul Islam....?

Wasathiyatul Islam atau Islam wasatiyyah..., sering diterjemahkan sebagai Islam moderat..., atau Islam jalan tengah (middle path).

Meski di Indonesia terdapat kelompok-kelompok ekstrem..., bahkan jaringan teroris...; tetapi Indonesia dikenal paling berhasil dalam menjinakkan gerakan teroris..., jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah.

Sesungguhnya..., Islam wasatiyyah memiliki dasar normatif-teologis yang tercantum dalam Alquran (Albaqarah: 143) dan juga pernah dibuktikan dalam sejarah baik semasa hidup Rasulullah Muhammad maupun semasa abad tengah.

Islam yang begitu toleran..., akomodatif..., dan apresiatif terhadap budaya luar.

Dalam konteks Indonesia..., Islam wasatiyyah itu juga terlihat bagaimana kehadiran Islam ke Nusantara melalui jalan damai.

Sekadar contoh..., sampai sekarang warisan Hindu-Buddha seperti candi Borobudur dan Prambanan tetap dipelihara dengan apik..., baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitarnya yang beragama Islam.

Masyarakat Islam pun ikut menjaga kelestarian tradisi Hindu Bali..., dan beberapa aliran kepercayaan lokal yang ada di Nusantara.

Islamisme..., nasionalisme..., dan modernisme yang paling fenomenal dan historis ialah pembentukan negara Republik Indonesia..., yang berdasarkan Pancasila.

Sebuah pertemuan dan kompromi antara Islamisme..., nasionalisme..., dan modernisme.

Meski umat Islam sebagai warga negara mayoritas dan sederet nama pejuang kemerdekaan ialah tokoh-tokoh Islam..., Indonesia menganut paham demokrasi (republik)..., bukan negara Islam (Islamic State).

Negara tetap peduli terhadap pembinaan kehidupan beragama yang dipayungi Pancasila..., dan dilindungi UU.

Ini jalan tengah sebuah ijtihad dan eksperimentasi sejarah yang tidak memperhadapkan antara keislaman dan kebangsaan..., antara islamisme dan nasionalisme.

Pancasila merupakan landasan bersama (kalimatun sawa')..., untuk mengakomodasi dan melindungi keragaman etnik..., agama..., dan kepercayaan penduduk Nusantara yang sangat plural ini.

Lebih dari itu..., Pancasila juga memiliki rujukan atau sumber transendental, sebagaimana tertera dalam sila pertama...: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kebertuhanan merupakan fondasi dan kesadaran awal..., yang mesti ditanamkan pada warga negara melalui berbagai jalur pendidikan sejak dini..., baik di rumah tangga maupun sekolah.

Kebertuhanan yang menumbuhkan rasa cinta pada nilai-nilai kemanusiaan..., keadilan..., dan keadaban.

Bukan kebertuhanan yang antikemanusiaan dan peradaban.

Dua nilai universal ketuhanan dan kemanusiaan tersebut..., hendak ditumbuhkan dalam masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan yang diikat dalam semangat keindonesiaan..., karena sejak awal berdirinya sangat disadari akan kemajemukan masyarakatnya.

Sehingga tanpa persatuan yang kuat..., pasti akan buyar apa yang disebut Indonesia ini.

Karena sadar dan setia akan semangat persatuan yang dijiwai nilai kemanusiaan dan keadilan..., demokrasi Indonesia senantiasa menjunjung tinggi mekanisme musyawarah yang dipimpin hikmah kebijaksanaan.

Bukan demokrasi yang hanya mengandalkan kemenangan jumlah suara.

Mekanisme dan suasana batin yang penuh hikmah dalam permusyawaratan..., itulah yang diharapkan akan mampu mendekatkan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi..., rentang antara kebertuhanan dan terwujudnya masyarakat yang berkeadilan dalam rumusan Pancasila terdapat tahapan dan prasyarat yang mesti dipenuhi.

Tidak mungkin keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud..., jika para pemimpin tidak menghayati dan setia pada kebertuhanan..., kemanusiaan..., keadilan..., dan semangat menjaga persatuan serta menjunjung tinggi hikmah kebijaksanaan..., dalam membuat kebijakan publik dan dalam kehidupan sehari-hari.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

TAG TERKAIT :
Muhammadiyah NU Bahaya Laten Radikalisme NU Dan Muhammadiyah

Berita Lainnya

Sorot Mata Itu

Opini 18/01/2021 09:30