Opini

Mengenal Kekejaman Mujahidin Indonesia Timur (MIT)

Indah Pratiwi - 02/12/2020 09:00
Oleh : Agung Wibawanto

Sejarah terbentuknya kelompok militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, bermula dari andil Santoso alias Abu Wardah Asy Ayarqi pada 2010 dengan mengumpulkan dan melatih kader-kadernya. Santoso dikukuhkan sebagai pemimpin tertinggi pada 2012. Dua tahun berselang, MIT bersumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Suriah alias ISIS.

Sumpah setia MIT kepada ISIS itu diucapkan pada Juli 2014. Selanjutnya, pada November 2015, MIT merilis video dan menyebut diri mereka sebagai “Prajurit Negara Islam". Video ini juga berisi ancaman terhadap pemerintah dan Kepolisian RI.

Tanggal 3 April 2015, terjadi bentrokan bersenjata antara MIT melawan pasukan Detasemen Khusus (Densus) 88. Daeng Koro, salah seorang petinggi MIT yang juga tangan kanan Santoso, tewas. Sedangkan Santoso dan para pengikutnya berhasil kabur untuk menyelamatkan diri.

Dikutip dari BBC, penghubung utama antara MIT di Poso dan ISIS di Timur Tengah diyakini adalah Bahrun Naim yang pernah ke Suriah pada 2014. Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) juga memberikan konfirmasi bahwa pria kelahiran Pekalongan ini adalah anggota ISIS asal Indonesia.

Kepolisian RI kemudian menggelar jumpa pers di Mapolda Sulawesi Tengah, Palu, pada 4 April 2015. Komjen Badrodin Haiti yang saat itu menjabat Wakapolri membenarkan bahwa Santoso dan MIT berkaitan erat dengan ISIS.

“Santoso ini termasuk Mujahidin Indonesia Timur, salah satu pendukung dan pengikut ISIS," jelas Badrodin kepada media.

Dukungan MIT dan Santoso kepada ISIS membuat dunia internasional waspada. Bahkan, pada Maret 2016, pemerintah Amerika Serikat memasukkan nama Santoso ke dalam daftar teroris global.

Perburuan terhadap Santoso pun kian digencarkan. Dalam baku-tembak dengan Satuan Tugas (Satgas) Operasi Tinombala bentukan Polda Sulawesi Tengah di pedalaman Poso pada 18 Juli 2016, Santoso tewas kena tembak.

Setelah itu, pucuk pimpinan MIT diteruskan oleh Muhammad Basri alias Bagong, salah seorang tangan kanan Santoso dan wakil pemimpin gerakan itu. Namun, kepemimpinan Basri di MIT tidak bertahan lama. Ia berhasil ditangkap pada 14 September 2016.

Kematian Santoso disebut-sebut telah membuat ISIS murka. Ali Fauzi, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), dalam wawancara dengan VOA Indonesia, mengungkapkan, ada perintah khusus dari pimpinan ISIS di Suriah agar seluruh kelompok militan di Indonesia segera melakukan aksi balas dendam.

Namun, sepeninggal Santoso, juga ditahannya Basri, ternyata sangat berpengaruh terhadap MIT. Mereka pun terpaksa menahan diri. Kehilangan dua pimpinan sekaligus rupanya membuat kelompok militan ini semakin berhati-hati sebelum bergerak.

Hingga pada 30 Desember 2018 lalu, seorang penambang emas di Parigi Mountong, Sulawesi Tengah, ditemukan tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Sehari berselang, terjadi serangan terhadap anggota Polres Parigi Mountong dan menyebabkan dua polisi terkena tembakan.

MIT kini dipimpin oleh Ali Kalora, pria asli Poso sekaligus salah satu pengikut setianya Santoso yang mulai memiliki pengaruh lebih besar setelah tewasnya Daeng Koro pada 2015. Hingga saat ini, Satgas Tinombala masih memburu Ali Kalora dan kelompoknya.

Maka jika ada roasting issue intoleransi (SARA) dalam aksi teror yang dilakukan anggota MIT di Sigi Palu, adalah keliru. Apalagi hingga ditarik akan adanya sentimen agama (Nasrani). Menganggap seolah terjadi pembiaran oleh pemerintah terhadap intoleransi yang terjadi.

Ini bukan sentimen minoritas juga bukan intoleransi. Ini kejahatan kemanusiaan. Ingat berapa jumlah anggota TNI Polri (apapun agamanya) yang sudah menjadi korban kekejaman MIT? Jadi, mari pahami permasalahan yang tengah dihadapi Jokowi. Jangan lagi menambah beban pikirannya.

Bisa dibayangkan betapa sedih dan remuk perasaan Jokowi jika ia dituduh relawannya sendiri sebagai penakut, dan juga melakukan pembiaran terjadinya intoleransi. Para pendukung yang dulunya setia justru kini menghujat. Yang relawan muslim mengatakan Jokowi Anti Islam dan memusuhi ulama.

Sedang yang Nasrani menganggap Jokowi tidak tegas dan menindas minoritas. Relawan pun terpecah dan pada akhirnya apa? Yang tertawa bahagia adalah Supen. Mereka bahkan akan mendukung 100% bagi pendukung Jokowi yang ingin aksi demo ke istana. Setidaknya kasus junjungannya (Rizieq) sedikit terabaikan. (Awib)

Quotes: "Diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa" Jangan mau dipecah-belah, musuh kita sama: RADIKALISME.

#dukauntuksigi

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

TAG TERKAIT :
Terorisme Mujahidin Indonesia Timur MIT Bahaya Laten Radikalisme Kelompok Terorisme Kelompok Mujahidin Indonesia Timur

Berita Lainnya

Sorot Mata Itu

Opini 18/01/2021 09:30