Opini

Mengejek Adzan

Indah Pratiwi - 03/12/2020 14:04
Oleh : Taufik Munir

Aus bin Mughirah adalah remaja berusia 16 tahun saat penaklukan Mekah. Di hati anak ini masih tersimpan rasa benci terhadap Islam. Dia telah sering menyaksikan korban perang yang berjatuhan dari pihak kafir Quraisy dalam peperangan – peperangan terdahulu. Dia masihlah seorang bocah. Dia belum sempat mengangkat senjata, tetapi kini Mekah telah takluk.

Berhala-berhala telah dibersihkan dan dihancurkan. Lalu naiklah Bilal hendak mengumandangkan adzan. Aus bin Mughirah tidak bisa menahan diri. Remaja ini berulah ditengah banyak orang yang khidmat menyimak adzan. Setiap kali Bilal mengumandangkan adzan dengan suara yang merdu, Aus juga menirukannya dengan nada yang merdu tetapi dengan nuansa yang mengejek.

Kenakalan Aus tentu tidak mengenakkan ditengah suasana fathu makkah yang penuh rasa haru. Rasulullah SAW juga tentu saja memperhatikannya, namun membiarkan hingga adzan selesai dikumandangkan.

Selepas adzan, Rasulullah memanggil Aus bin Mughirah. Bergetar hati Aus, Menggigil pula tubuhnya. Mengejek adzan sudah barang tentu menampakkan kekafiran dan perlawanan yang ada di dalam dirinya. Ditengah suasana penaklukan, Aus bahkan sudah merasa dirinya layak dihukum mati.

Tetapi Rasulullah adalah guru terbaik yang pernah ada. Ditanganinya remaja urakan ini dengan pengayoman. Rasululloh juga mengusap-usap dada dan ubun-ubun remaja ini dengan tangan beliau yang mulia.

Aus berujar, “ Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini bahwa Dia adalah utusan Allah.”

Ada waktu beberapa lama bagi Aus untuk belajar tentang islam. Selepas perang Hunain, rasulullah SAW hendak kembali ke Madinah. Beliau memerintahkan kepada Aus bin Mughirah untuk menjadi muadzin di masjidil haram. Sementara Bilal bin Rabah tetap menjadi muadzin rasulullah di madinah. Demikian itu senantiasa dilakukan hingga Aus bin Mughirah wafat. Bahkan penduduk Mekah menganggap keturunan Aus bin Mughirah yang berhak menjadi muadzin di masjidil haram. Bahkan hingga di zaman imam syafi’i, muadzin di ka'bah masihlah keturunan dari Aus bin Mughirah.

Ada yang menarik dari Adzan Aus bin Mughirah. Ketika mengumandangkan adzan, saat sampai pada kalimat syahadat, Aus membaca dengan suara pelan dan rendah pada bacaan pertama, lalu mengumandangkan dengan nyaring pada bacaan yang kedua ( tarji’ ). Ini berbeda dengan cara Bilal bin Rabah. Juga ketika membaca iqamah. Aus tetap suka untuk membaca semua bacaan iqamah dengan dua kali seperti adzan. Sedangkan Bilal bin Rabah membacanya seperti yang biasa kita dengar dewasa ini.

Secara fikih, imam syafi’i lebih menyukai adzan seperti caranya Aus bin Mughirah. Dan iqamah seperti caranya bilal bin rabah. Madzhab-madzhab yang lain memiliki cara yang berbeda. Wallahu a’lam.

Smoga bermanfaat.

Sumber : Status Facebook Taufiq Munir

TAG TERKAIT :
Azan Hayya Alal Jihad Video Azan Jihad Mabok Jihad Pelaku Azan Hayya alal Jihad

Berita Lainnya