Opini

Trio 3 B Bibib, Baswedan, Bohir Terungkap Bosowa Kredit Macet Di BRI

Indah Pratiwi Budi - 04/12/2020 11:30
Oleh : Salmin Khan

Sengkarut masalah di kerajaan bisnis bohir sudah terungkap di media. Tak heran pengamat politik langsung mengaitkan penjemputan Imam Jumbo itu yang terkait dengan kunjungan sang bohir ke Saudi di Oktober lalu.

Lalu kemarin si bohir ikut bereaksi menyalahkan Pemerintah dengan membawa tudingan perihal kekosongan kekuasaan yang jadi pembenaran atas aksi dari Imam Jumbo dan gerombolannya. Lalu mencoba mencari apresiasi langsung sang bohir perihal sepak terjang RS yang belum lama ini mendapat reaksi keras dan tegas Pemerintah sampai TNI dan Polri turun tangan.

JK menyatakan bahwa seolah-olah pemimpin seperti RS itu yang mendapat dukungan (banjir dukungan) karena sosok atau pribadi yang karismatik. What? Setelah kabur karena janda dan pulang dihajar janda dengan ucapan ‘Lonte’ lalu dikatakan karismatik?

"Begitu ada pemimpin yang karismatik, katakanlah karismatik, atau berani berikan alternatif maka orang mendukungnya," ujar JK.

Berikan alternatif apa? Sebelum balik ke negeri ini malah berkoar dengan ancaman revolusi berdarah. Jadi sang mantan ini malah mendukung dengan alternatif demikian? Kacau balau beliau kalau begini. Hm, tapi apresiasi ini tak mengejutkan lagi.

Media Gatra langsung mengaitkan dalam poster yaitu ketiga tokoh trisula maut dalam perpolitikan Indonesia yaitu JK, Anies dan RS. Enaknya dinamai trio apa ini ya?

Nah, cocoknya dinamai trio 3 B yaitu bohir, baswedan dan bibib yang ternyata saling kait-mengait secara sempurna.

Ya trio ini memang lengket dan mesra sejak kampanye politik di DKI beberapa tahun lalu. Adalah Gubernur yang mendapat sokongan kuat si bohir sehingga proyeknya bisa masuk mulus di DKI. Sedangkan RS tak bisa dipinggrikan jasanya melakukan aksi kampanye ayat dan mayat demi mendongkrak supaya AB dapat dengan brutal menduduki kekuasaannya. Trio ini memang dalam simbiosis mutualisme.

Tak heran Gubernur dengan senang hati mengunjungi karena politik balas budi itu diikuti dengan pemberian izin pemasangan poster dan pembiaraan terhadap kerumunan massa.

Rupanya kerajaannya dilanda kredit macet yang bernilai fantastis. Kredit macet yang dialami anak usahanya yaitu Bosowa membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan penilaian kembali status PT Bosowa Corporindo sebagai pemegang saham PT Bank Bukopin Tbk.

Jadi Jelang akhir Agustus lalu ada ultimatum tak mengenakkan bagi kerajaan bisnis bohir. Surat Keputusan Dewan Komisioner OJK No.64/KDK.02/2020 pada tanggal 24 Agustus 2020, meminta Bosowa untuk melepas semua saham di Bank Bukopin selambat-lambatnya tahun depan.

Meradanglah bohir dan keluarganya.

Tak hanya itu, Bosowa ternyata mendapat penilaian negatif karena beberapa faktor. Bosowa dinilai melakukan tindakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertujuan untuk menghalangi masuknya investor lain dalam rangka peningkatan modal dan penyelesaian masalah likuiditas Bank Bukopin.

Bosowa juga disebutkan melakukan langkah-langkah untuk menggagalkan proses penyelamatan Bukopin. Apa saja langkah-langkahnya? Yaitu memberikan surat kuasa yang tidak sah kepada OJK, serta memiliki kredit macet yang tidak dapat diselesaikan berdasarkan data dan surat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang nantinya akan diulas di bawah.

Faktanya Bosowa Group memiliki kredit macet yang nggak main-main di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI kurang lebih Rp4 triliun per 28 Juni 2020. Kredit tersebut diberikan kepada sedikitnya 10 anak perusahaannya.

Salah satu yang mengalami kredit macet, yakni PT Semen Bosowa Maros (SBM) di mana nilainya mencapai Rp3,7 triliun. Kredit yang diberikan dalam beberapa skema tersebut memiliki jatuh tempo bervariasi pada 2029 maupun 2033. Tak hanya Semen Bosowa tapi juga PT Bosowa Duta Energasindo.

Eng ing eng dan ini bukan pertama kali.

Kredit macet SBM juga pernah terjadi pada 2008. Waktu itu, bank pelat merah, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., harus melakukan restrukturisasi utang macet tersebut senilai Rp1,7 triliun. Ketiga bank tersebut memberikan kredit dengan porsi masing-masing 60%, 36%, dan 4%.

Direktur Korporasi Bank Mandiri Abdul Rachman mengomentari bahwa utang macet BSM kali pertama direstrukturisasi pada 2020. Namun, prosesnya tak berjalan mulus karena aliran kas perusahaan dinilai tidak cukup untuk menutup beban kewajiban pada bank.

Lalu bagaimana reaksi keluarga bohir?

Komisaris Utama Bosowa Erwin Aksa berdalih tidak semua kredit di BRI berstatus macet. Erwin mengakui, yang mengalami masalah angsuran kredit ada pada anak usaha yang bergerak di industri semen.

Ujung-ujung negara dirugikan sebenarnya dengan kredit macet ini. Bagaimana ini Menteri BUMN? Kalau dibiarkan maka mega skandal akan berlanjut ke depannya. Jangan biarkan lagi mereka mengelola merongrong aset dan usaha Negara.

Negara ini 75 Tahun Merdeka statusnya masih negara berkembang. Harus transisi menjadi negara maju, apabila aset dan perusahaan plat merah BUMN disita kembali dan dikelola oleh negara. Sekarang sudah di lakukan oleh pemerintah, namun kita masih terjerat oleh Hukum warisan ORBA dan melepas diri dari antek-anteknya.

Ketika Hukum dan UU di perbaiki kita selalu dihadapkan dengan gejolak mobilisasi massa dari bohir-bohir yang tidak leluasa mengambil keuntungan pada negara. Karena Jokowi berkata mustahil negara ini maju kalau kita tidak mengembalikan aset-aset negara yang kuasai oleh para ma'fia ini.

Inilah akar persoalan kita hari ini. Bowosa Grup di hajar jokowi muncul bohirnya, dan berikut Bakrie grup di hajar jokowi muncul bohirnya. Jokowi hajar cendana dan cikeas grup selalu keluar bohirnya.

Bibib, Baswedan langkah kuda di tunggangi oleh bohir cendana dan antek-anteknya. Maka jangan heran mereka musuhi caci maki fitnah hina Jokowi, Megawati, Gusdur dan Sukarno. Tidak terlihat mereka menyerang Suharto sebagai Bapak koruptor sedunia atau SBY era korupsi berjama'ah.

Jadi politik kita sekarang adalah partarungan ORBA dan ORLA, Nah pertarungan ini kita bisa nilai siapa yang baik dan siapa yang buruk. Kalau ORLA buruk karena di anggap Komunis dan PKI, tapi PKI sudah mati dan tidak ada lagi. Selain ideologi yang di kenang, sebaliknya kalau ORBA Baik kenapa pendukungnya arogansi dan menjadi pemberontak pada negeri sendiri.

Tapi bagi Jokowi gak peduli, gak ada beban. Silakan kalian ribut dan saya akan mengigit, pingset kumis mu dan memegang ekor mu. Dan tinggal aku banting,

By,

Sumber : Status Facebook Salmin Khan

TAG TERKAIT :
Anies Baswedan JK Rizieq Shihab

Berita Lainnya