Opini

Ini Kapoldaku, Mana Kapoldamu

Indah Pratiwi Budi - 14/12/2020 16:25
Oleh : Supriyanto Martosuwito

Harapan masyarakat, khususnya warga ibukota, pada munculnya petinggi polisi yang tegas dalam menghadapi ormas bergaya preman - yang sudah lama meresahkan, terkesan kebal hukum - akhirnya terwujud. Irjen Pol Fadil Imran yang baru menepati posnya di ibukota langsung injak gas dan membuktikan ucapannya.

Enam mayat laskar FPI, hasil penegakkan hukum di jalan tol JKT Cikampek KM 50 - yang menghalangi rintangan penyidikannya - menjadi pembuktian awalnya. Rakyat pun terkejut, lega dan riang gembira.

Aparat Polda Metro Jaya bertindak tegas dan terukur karena Laskar FPI menyerang dengan senjata api dan senjata tajam, katanya. Sebelum penembakan, mobil anggota Polri dipepet kendaraan Laskar FPI, kata Kapolda yang baru itu dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Senin (7/12/2020).

Tak berhenti dengan menindak pihak pihak yang menghalanginya, Polda Metro juga menaikkan status MRS dan enam lainnya, dari saksi menjadi tersangka. Penjemputan paksa pun siap dilakukan.

Kemana saja pemimpin polisi yang tegas selama ini? Rasanya baru kali ini rakyat bisa melihat kesesuaian antara ucapan dan tindakan dari petinggi polisi.

Warga pun membanjiri markasnya dengan karangan bunga sebagai tanda selamat dan dukungan.

Laskar FPI yang bergelimpangan menemui ajal, tapi justru "eksekutor"nya yang dapat karangan bunga. Luar biasa.

Inilah Kapoldaku ! Mana Kapoldamu!?

BAHWA MRS dan FPI dibacking elite nasional bukan rahasia lagi. Sejak kelahirannya di tahun 1998. Ada dua jendral di belakangnya, yakni jendral TNI dan Polisi era Orde Baru.

Kepulangannya saja dari pelarian di Arab Saudi diduga atas sponsor elite papan atas. Dalam rangka bikin rusuh. Menciptakan instabilitas, mendukung calon yang akan maju di Pilpres 2024.

Para Kapolda pun terkesan gamang dan keder dibuatnya.

Lihat saja pembelaan atas kematian enam laskar ormas di jalan tol itu. Langsung gencar. Komnas HAM mendadak bangkit dan peduli. Tokoh Muhamadiyah - Ketua Bidang Hukum dan HAM dan Kebijakan Publik - yang sedang jadi pengacara Cendana - murka. Juga mantan ketua MPR dan petinggi PKS.

Jangan kata lagi politisi oposan di DPR RI yang hobinya menyudutkan pemerintah. Bahkan KPK pun mendadak bangkit menangkap dua menteri untuk mengalihkan perhatian.

Ada kesan memang bahwa penunjukkan jenderal lulusan Akademi Kepolisian 1991 ini untuk menghadapi MRS. Boleh jadi. Tokh pentolan ormas yang satu ini memang sudah lama bikin kesal masyarakat. Kasusnya banyak, laporan bertumpuk, kaum awam saja bisa langsung melihat arogansinya. Tapi tak ada kapolda yang bernyali menghadapinya secara langsung. Sampai kemudian dicopotlah Kapolda Metro Jaya karena tak mampu menanganinya saat kepulangannya dari Bandara dari masa ekstradisinya di Arab Saudi.

Irjen Pol Nana Sudjana dilengserkan gara-gara kasus kerumunan massa di Petamburan, bersama sama Kapolres Jakarta Pusat, serta Kapolda Jabar dan Kapolres Bogor. Lalu Irjen Pol Fadil Imran menggantikan.


Kapolda sebelumnya terkesan tak mau atau menghindari resiko itu.

Menangani ulah MRS bukan perkara baru bagi Fadil Imran, jendral polisi kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini. Ketika menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, dialah yang mengusut kasus dugaan chat bernada asusila yang diduga melibatkannya dengan Firza Husein. Sehingga kabur ke Arab.

SEJATINYA MRS seorang pengecut. Pengalaman dibui di zaman SBY membuatnya kapok dengan ruang sel terali besi. Sumber sumber di kepolisian menyatakan, MRS tak beda dengan pelaku kriminal biasa yang mendapat "pelajaran khusus" dari aparat di dalam - yang gemas akan kelakuannya selama di luar. Dia pun ciut nyalinya. Tak segarang saat di panggung dan menghadapi massa.

MRS adalah aktor, agitator dan provokator yang beda saat berakting di mimbar dan sesudah turun di belakangnya. Tak beda dengan Sugik Nur dan Sony Eranata yang mendadak mewek setelah berhadapan dengan penyidik.

MENYEMANGATI aparat jajarannya dan menjanjikan kepada masyarakat, Kapolda Irjen Fadil Imran pun menegaskan, tidak boleh ada organisasi masyarakat (ormas) atau kelompok menempatkan dirinya di atas negara.

"Tidak ada satu kelompok atau ormas yang menempatkan dirinya di atas negara, apalagi ormas tersebut melakukan tindak pidana," kata Fadil di Mapolda Metro Jaya, Jumat (11/12/2020).

"Apa tindak pidananya? Melakukan hate speech, melakukan penghasutan, menyebarkan ujaran kebencian, menebarkan berita bohong, itu berlangsung berulang-ulang dan bertahun-tahun," tambah dia.

Fadil mengatakan, ormas yang bertingkah seperti preman harus ditindak tegas karena selain membuat masyarakat tidak nyaman, hal itu juga akan merobek tenun kebinekaan yang ada.

"Di samping ini merupakan tindak pidana, ini juga dapat merusak rasa nyaman masyarakat, dapat merobek-robek kebinekaan kita, karena menggunakan identitas sosial apakah suku atau agama. Tidak boleh! Negara ini dibangun dari kebinekaan," ujar Fadil.

Di menambahkan, jika polisi melakukan penegakan hukum terhadap suatu ormas atau kelompok, itu adalah demi keteraturan dan ketertiban sosial.

"Jadi kalau Polda Metro Jaya menangkap, memproses hukum kelompok atau siapa pun, maka itu karena negara ini butuh keteraturan sosial, kita butuh ketertiban sosial," ujar dia.

Fadil menegaskan, tidak ada pilihan lain selain penegakan hukum terhadap ormas ataupun kelompok yang melakukan tindakan tersebut.


"Jadi saya harus melakukan penegakan hukum yang tegas terhadap model seperti ini. Tidak ada gigi mundur, ini harus kami selesaikan," ujar Fadil.

Semuanya dimulai dari Irjen Pol Fadil Imran. Kapolda lah penentunya. Pengambil keputusannya. Karena perintah datang darinya dan dia menanggung resiko yang diakibatkannya.

Atau ganjaran menjadi Kapolri sebagai imbalannya, seperti ketika AKBP Tito Karnavian yang berhasil menangkap Tommy Suharto di tahun 2001.

Semoga Kapolda "Metro-1" ini naik jadi "Tri Brata-1" atau "Trunojoyo-1" alias jadi Kapolri. Demi keamanan NKRI.

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

TAG TERKAIT :
Kapolda Metro Jaya Kapolda Metro Irjen Pol Fadil Imran

Berita Lainnya