Opini

KITA MULAI MENAPAKI TAHUN YANG CERAH

Indah Pratiwi Budi - 24/12/2020 15:00
Ditulis Oleh : Eko Kuntadhi

Tahun 2021 semoga membawa optimisme baru buat kita. Vaksin Covid19 sudah berdatangan. Pemerintah juga memutuskan membebaskan biaya vaksin buat semuanya. Tentu saja, karena kedatangannya bertahap, orang yang akan divaksin juga bertahap.

Pada awalnya mungkin mereka yang beresiko tinggi tertular dulu seperti petugas medis, para pekerja pelayanan sosial, TNI, Polisi atau pejabat negara. Presiden Jokowi sendiri sudah menyatakan akan divaksin paling awal. Ini menunjukan keyakinan pemerintah pada keamanan vaksin.

Jika sesuai rencana, proses vaksinasi itu akan dimulai awal 2021. Setelah proses ini selesai, kita boleh sedikit bernafas lega. Aktifitas ekonomi akan berjalan seperti semula.

Akhir tahun ini juga, penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah sebagai aturan teknis UU Cipta Kerja juga tuntas. Semua masukan masyarakat ditampung. Keterbukaan pada usulan publik ini memberikan harapan bahwa aturan teknisnya akan melihat semua kepentingan.

Demo-demo penentangan UU Cipta Kerja sendiri meredup. Bukan karena mereka kehabisan energi. Tetapi lebih pada terbukanya pemahaman bahwa UU Cipta Kerja ternyata tidak perlu dikhawatirkan.

Iya, sih. Kalau mau jujur, kebanyakan demo kemarin lebih dihiasi oleh informasi hoax ketimbang fakta riil. Ketika semua hoax terkuak, mereka akhirnya sadar bahwa UU ini sangat berguna. Setidaknya dapat menjadi katalisator penggerak ekonomi nasional.

Kita tahu, akibat Covid19 ekonomi terpuruk. Tahun ini ekomomi kita diperkirakan tumbuh negatif 1% sampai negatif 1,5%. Tapi tahun 2021 semua orang optimis kita bisa kembali naik. Banyak lembaga ekonomi memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4% sampai 5,5% tahun 2021 nanti.

Ketika UU Cipta Kerja sudah sepenuhnya bekerja, kayaknya pada 2022 nanti laju pertumbuhan bisa dikebut lebih cepat. Para investor yang terbantu dengan kemudahan akibat UU ini, mulai menanamkan uangnya. Mereka membangun usaha. Saat usahanya sudah berjalan, mereka akan menjadi penggerak aktif yang mendorong pertumbuhan.

Sementara daya beli yang sempat terpuruk karena pandemi, alhamdulillah, bisa sedikit diselamatkan dengan program bantuan sosial dari pemerintah. Kita tahu 60% PDB kita digerakkan oleh konsumsi rumah tangga.

Dengan mulai berjalannya UU Cipta Kerja ini, lapangan pekerjaan terbuka lebih lebar. Dalam lima tahun ke depan, angka pemgangguran kita akan bisa ditekan sampai titik minimal. Rakyat yang bekerja dan punya penghasilan akan mendorong konsumsi. Itulah optimisme kita di tahun depan.

Sementara itu para investor asing semakin pede berinvestasi di Indonesia. Bahkan perusahaan sekelas Tesla, berkomitmen mau berinvestasi disini. Tesla melihat potensi Indonesia di masa depan.

Nikel adalah benda yang akan menggeser minyak bumi. Industri mobil listrik seperti yang diprodukai Tesla, sangat bergantung dengan nikel. Nah, Indonesia adalah sedikit negara di dunia yang punya cadangan nikel berlimpah. Filipina juga punya, tapi gak banyak.

Artinya jika industri otomotif beralih dari minyak ke listrik, Indonesia akan menjadi jantung industru otomotif dunia. Wajar saja jika Jepang agak degdegan dengan perkembangan ini.

Mau tidak mau, jika industri otomotifnya gak mau mati suri nanti, Jepang harus menanam uangnya juga di Indonesia. Mereka harus ikut mengolah nikel kita. Jika tidak, ke depannya mereka akan gigit jari.

Kita bisa bergarap ekonomi kita jangan lagi bergantung pada komoditas yang dijual mentah saja. Iya, kita pernah jaya pada tahun 1970-an dengan hasil minyak kita. Tapi setelah itu kitalah justru menjadi net importir minyak.

Lalu kita pernah mengandalkan kayu sebagai primadona perdagangan. Akibatnya hutan kita rusak. Dan kerusakan alam ini merugikan hidup kita di masa depan.

Lalu ada sawit yang menjadi kekuatan. Harga sawit sering gonjang ganjing. Belum lagi teriakan-teriakan protes karena sawit juga dianggap merusak lingkungan. Uni Eripa misalnya, menolak sawit asal Indonesia. Meski harus diakui, langkah itu diambil dalam rangka menekan pemerintah kita untuk membiarkan nikel kita diekspor mentah.

Tapi yang mereka hadapi ada

lah Jokowi, Presiden yang gak gampang ditekan. Alih-alih memohon-mohon pada eropa untuk menerima sawit kita, Jokowi lebih memilih pengembangan bahan bakar nabati dengan istilah B20, B50 atau B80. Bahan dasarnya minyak sawit. Jadi dengan program itu sawit kita bisa tetap diserap pasar.

Di zaman SBY, kita juga dimanjakan dengan batu bara. Minyak hitam itu sempat menjadi primadona. Sayangnya kini harganya menciut.

Artinya di masa depan, kita gak bisa lagi bergantung pada ekspor komoditas seperti dulu. Harga komoditas sangat rentan dimainkan pasar. Dengan kekayaan alam, kita harus mulai memgolah hasil alam sendiri. Kita menjualnya dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi.

Komoditas yang disentuh teknologi nilai jualnyabakan jauh lebih terasa. Ketimbang ekspor nikel lebih baik kita mengekspor baterai lithium. Artinya pabrik baterainya dibangun disini. Dikerjakan oleh pekerja Indonesia.

Dengan hadirnya UU Cipta Kerja, kini kita punya beberapa kekuatan besar untuk menghela ekonomi. Kekayaan alam yang melimpah, sumberdaya manusia yang banyak baik sebagai pekerja sekaligus pasar, dan aturan berusaha yang memudahkan.

Paduan kuatan inilah yang jarang dimiliki oleh negara lain.

Pantas saja orang seluruh dunia optimis pada masa depan ekonomi bangsa ini. Tidak salah jika 2045 nanti Indonesia diramalkan bisa masuk lima besar ekonomi terbesar dunia. Artinya kita siap-siap menjadi negara berpendapatan tinggi.

Menyambut optimisme ini, apa yang harus kita persiapkan sebagai rakyat? Mental dan pengetahuan.

Mental untuk maju dan berfikir terbuka. Serta pengetahuan teknis untuk menggerakkan kehidupan.

PR kita sekarang adalah menjaga keutuhan bangsa ini. Ideologi-ideologi pengacau, paham keagamaan yang norak dan intoleran, rongrongan gerombolan preman berjubah agama harus dihandle serius. Sebab merekalah yang akan memghambat kesejahteraan anak cucu kita nantinya.

Apa yang dilakukan penegak hukum sekarang sudah pas. Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Kepastian hukum menjadi dasar kehidupan kita. Negara tidak boleh kalah oleh ormas. Dan sebagai rakyat kita harus menjadi elemen aktif menggalau ideologi yang merusak ini.

Jika semua bisa tertangani maksimal. Jangan heran jika anak atau cucu nanti berjalan dengan bangga sebagai anak Indonesia. Sebab kita menjadi negara maju diantara ratusan negara lain.

Kita pantas terus optimis. Hanya pecundangg saja yang masih gemar menebarkan pesimisme.

(Eko Kuntadhi)

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45

Ahli Silat Kata

Opini 25/02/2021 13:37