Opini

Narasi-Narasi Munarman untuk Menjatuhkan Jokowi

Indah Pratiwi Budi - 28/12/2020 19:00
Oleh : Dody Haryanto

Publik tak paham. Tentang pembangunan opini dan kerusuhan. Najwa Shihab dipecat dari MetroTV karena aliran ideologi beda dengan Surya Paloh. Paloh tetap mendukung NKRI. Najwa Shihab dekat dengan Cendana. Bagi Najwa keamanan negara bukan prioritas. Demi Subscriber dan klik. Duit.


FPI kaki tangan Cendana juga. Ada Munawarm. Dia adalah ahli strategi FPI. Dia merancang seluruh tahapan rancangan kerusuhan. Dengan trigger 6 teroris ditembak mati di jalan tol.


Dan, sesungguhnya peristiwa itu bukan sembarang kejadian. Target Munarman, FPI, dan 3 bohir, Cendana, Cikeas, Chaplin adalah melakukan pemberontakan: menjatuhkan Jokowi. Buktinya?


Munarman menarasikan peristiwa dengan ilmu neuro-science: memengaruhi sisi emosi. Seluruh narasi dikaitkan dengan 25 isu: Islam terancam, ulama didzolimi, kriminalisasi ulama, pengajian, habaib, PKI, rezim zholim, aparat TNI-Polri thoghut, ketidakadilan, thoghut, kafir, halal-haram, jihad, Arab versus Pribumi, bid’ah, syirik, musyrik, glorifikasi teroris, dajjal, Rasulllullah, Muhammad, Nabi, Allah SWT, dan takbir.


Tujuannya mengaduk emosi publik. Munarman tahu, karena iman, Islam adalah hal paling penting. FPI dan Munarman meraih simpati. Seolah Munarman dan FPI benar. Padahal Munarman dengan sadar membohongi publik.


Narasi itu dipraktikkan Saracen, MCA, PKS Piyungan. Mereka kompak menarasikan dan membuat hoaks dengan 25 isu narasi itu. Konsisten. Berideologi ISIS, Munarman menghalalkan segala cara.


Muhammad Rizieq Shihab, corong FPI berkali-kali di depan ibu-ibu meneriakkan jihad. Anak-anak disuruh membela habaib. Disebut jihad. Hingga, orang tua keluarga 6 teroris yang tewas senang anak mereka tewas di jalan tol.


MRS dan Munarman, sejak kedatangan MRS melihat FPI telah besar. Kuat. Secara geopolitik strategi, FPI dan MRS melihat polisi dan aparat TNI sudah berpihak ke FPI. Hingga ada oknum TNI membuat video mendukung MRS.


Jebakan politik test ombak ini gagal ditangkap banyak pihak. Anies Baswedan muncul ke permukaan. Riza Patria bergabung. Ridwan Kamil ingin bergabung dengan MRS. Jusuf Kalla berteriak ada kekosongan kepemimpinan: padahal Jokowi Presiden RI. Penggalangan kedatangan MRS 100% melibatkan Cikeas. Tentu Cendana. KAMI pun ikut berteriak. HIdayat Nur Wahid PKS ngoceh. Mendukung MRS.


Seolah negara kalah. Di masa PSBB kerumuman sengaja dibuat: Petamburan, Perkawinan, Tebet, Megamendung. Dan, direncanakan di seluruh Indonesia. Kenapa? Karena FPI dianggap telah berhasil menyatukan seluruh kepentingan oposisi. Untuk membuat negara kisruh.


Muncul Ratu adil. Nikita Mirzani. Publik baru sadar. Negara harus hadir. Presiden Jokowi mengapresiasi Nikita Mirzani. Betapa tidak? Hanya MRS dikatai Tukang Obat saja, saat kekuatan absolut FPI ada, FPI menuntut Nikita. Nikita beruntung. Muncul ketegasan Pangdam Jaya Dudung Abdurachman dan Kapolda Metro Jaya Fadil Imran. Geopolitik berubah. Rakyat merasakan Negara hadir.


FPI tetap pada jalur strategi Munarman. Unjuk kekuatan. Pembangkangan hukum. Narasi tetap sama: 25 isu. Di berbagai pengajian, di acara Maulid Nabi pun keluar kata kotor MRS mengejek NU, Banser, TNI, Polri dan merendahkan budaya Nusantara. Dan, bertujuan menjatuhkan Presiden Jokowi.


Strategi komunikasi Nunarman dan FPI menggunakan kebohongan. Post Truth. Alternative fact. Itulah sebabnya, Munarman cepat bergerak membuat berita bohong. Tentang penculikan. Tentang hilangnya 6 teroris FPI.


Narasi upaya kabur MRS dibalut dengan kata: pengajian. Publik merasa aparat kejam. Orang mau pengajian kok diawasi. Kata pengajian diulang-ulang, mengacaukan motif melarikan diri MRS. MRS pun mengeluarkan omongan yang sama dengan Munarman: iring-iringan pengajian diserang.


Munarman berhasil. Narasi bohongnya berhasil menghasut publik. Konspirasi Munarman dan kelompok teroris terindikasi jelas. MRS meminta Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan. Juga 5 pentolan KAMI dibebaskan. Konspirasi ini melibatkan selain Anies Baswedan juga Fadli Zon.


Narasi cerdas alternative fact Munarman berhasil. Publik terbelah. Politisasi dan glorifikasi kematian teroris terus berlangsung. Ditambah kesaksian palsu Haikal Hassan soal mati syahid yang didukung oleh Rasullullah SAW melalui mimpi.


Najwa Shihab gatel. Dia sebagai pendukung FPI dan Cendana ikut membuat kisruh. Dengan gaya bak detektif dia menghadirkan kesaksian palsu dari FPI. Seperti Edy Mulyadi.


Polisi harus menangkap pemberi keterangan di acara Mata Najwa. Polisi harus tegas. Ini dalam rangka penegakan hukum. Najwa Shihab tidak memiliki legitimasi untuk memberikan keterangan terkait kasus penembakan. Seperti Munarman. Membangun opini sesat. Padahal penyelidikan tengah berlangsung.


Jadi, seluruh rangkaian peristiwa tewasnya 6 teroris FPI di jalan tol adalah strategi Munarman dan MRS. Pergerakan 16 pengawal MRS pasti diketahui dan atas perintah Munarman. Politikus, KAMI, dan bahkan Najwa Shihab melakukan amplifikasi. Kejahatan melawan negara.


Kini, ketika TNI Polri bertindak tegas, dan Jokowi memerintahkan Erick Thohir membersihkan BUMN, termasuk kongkalikong PTPN VIII, muncul Marzuki Alie membela. Atas nama pesantren, agama. Padahal merampas tanah negara. Ketahuan Ahmad Heryawan PKS terlibat izin di PTPN VIII. Makin membuktikan konspirasi Cendana, Cikeas, PKS, Chaplin dan FPI.


Peristiwa di KM50 itu sebagai alat untuk membuat kerusuhan lebih besar. Buktinya? Mereka masih merancang demo 1812. Untuk stepping stone demo besar lagi, seperti 411 lalu ke 212. Jokowi dan aparat TNI-Polri dan netizen NKRI masih waras. Maka Munarman, MRS dan FPI harus dihabisi.

 

Sumber : Status Facebook Dody Haryanto

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi FPI Bubarkan FPI Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Pembenci Jokowi FPI Tukang Hoaks

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45