Opini

MENGATASI KERAGUAN TERHADAP UPAYA VAKSINASI COVID-19

Aisyah Isyana - 07/01/2021 11:35

Saya sama sekali tidak menentang atau membenci vaksin, tetapi memang saya merasa perlu berhati hati karena vaksinasi terkait dengan kesehatan dan keselamatan nyawa orang.

Tetapi fenomena ADE (Antibody Dependent Enhancement) sbg potensi dampak dari vaksin (spt dahulu pernah sy posting) memang perlu diwaspadai juga.

Umumnya Fenomena ADE baru timbul ketika seseorang telah di vaksin, kemudian beberapa waktu kemudian ia terpapar/tertular virus.

Tujuan di vaksin adalah agar tubuh terpacu untuk menumbuhkan kekebalan (antibodi) tubuh yang berasal dari vaksin yang disuntikan kedalam tubuh manusia. Vaksinnya bisa beranekaragam asal produksinya dari Inactive Virus, mRNA ataupun Adenovirus. Tapi fenomena ADE bukannya membuat manusia yg telah divaksin menjadi kebal, tetapi malah menimbulkan keparahan ketika terpapar virus.

Ada informasi bahwa ADE pada vaksin SARS (virus yg lama sebelum SarsCov2/Covid19) hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium) adalah tidak benar. Sehingga tidak benar pula bahwa potensi fenomena ADE sama sekali tdk akan terjadi pada vaksin untuk SaraCov2/Covid-19.

Faktanya pada penelitian vaksin SARS, ternyata ADE terjadi dengan jelas pada penelitian preklinis grup Primata non Human yg divaksin SARS lebih parah dibanding grup kontrol yg tdk di vaksin setelah dichallenge (dipaparkan pure virus).

Jurnal ilmiah untuk hal ini sdh lama bisa di akses atau googling.

Fenomena ADE pada vaksin SARS, memang bisa dikatakan tidak ada pada manusia. Hal ini karena Vaksin SARS pada Manusia tdk boleh dilakukan disebabkan pada preklinis non Human primate saja sdh tdk safety.

Hal yang sama pada MERS, Ebola dan HIV, problemnya safety pada experimental animal (preklinik) nya tdk memungkinkan di lanjutkan ke fase uji klinik.

Jadi baik Ebola, MERS dan HIV pun sama sekali belum ada vaksinnya.

Adanya claim pd jurnal bahwa pre-klinis terhadap monyet yg dilakukan untuk Vaksin Sinovac menunjukan tdk ada fenomena ADE, selain jumlahnya objeknya masih “belum representatif”, Pihak researcher dan lembaga nya dari china tdk membuka akses verifikasi data, makanya banyak saintis diluar china meragukan. Itu yg saya tau, dan seingat sy ada researcher Australia yg mempertanyakan keterbukaan tsb. (perlu dicek lagi asal negaranya).

Melihat potensi bahaya tersebut Secara etik, tetap keselamatan manusia harus dikedepankan.

Prinsipnya sama dengan yang lagi rame sekarang, ketika Polri menganut asas 'Salus Populi Suprema Lex Esto' atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Kalau di dunia medis atau kedokteran, kesehatan dan keselamatan nyawa manusia dan makhluk hidup lainya adalah yang utama. Setahu sy begitu sih.

Fenomena ADE itu timbul karena seseorang yang telah diberikan vaksinasi, kemudian alih alih tubuh menghasilkan antibodi (menjadi lebih kebal dari serangan virus) tetapi jika kemudian terpapar virusnya justru malah menjadi tambah parah.

Sementara, karena kesehatan dan keselamatan nyawa manusia itu adalah yang utama, maka untuk mengetahui bagaimana respon orang yang sdh divaksin thd fenomena ADE tidaklah Etis jika kemudian di challenge dg ditularkan real virus kpd manusia sbg uji klinisnya.

Makanya dibutuhkan uji preklinis yg layak terlebih dahulu pada hewan yg rentan terhadap virus Sars-Cov-2 tersebut.

Apalagi vaksin Sinovac berasal dari inactive virus (virus yg dilemahkan).

Rekomendasi saya untuk mengetahui fenomena ADE pada vaksin Sars-Cov-2 terhadap manusia (saat ini yg sdg uji klinis di Indonesia Sinovac):

1. Perlu ditambahkan dalam inform concern para volunteer yang mengikuti vaksinasi uji klinis atas kesedian diambil darahnya untuk mengetahui seberapa besar antibodi yg dihasilkan dan untuk digunakan sebagai serum kepada hewan yang rentan terhadap virus Covid-19;

2. Kemudian serum tersebut disuntikan (pasif imunisasi) kepada hewan yang rentan terhadap virus Covid-19, lalu di challenge dengan real virus murni (pure) Sars-Cov-2 (Covid-19) untuk dilihat bagaimana dampak ADE nya;

3. Untuk mendapatkan real virus tersebut, maka sdh waktunya dilakukan segala upaya untuk dapat meng “isolasi” virus murni tersebut.

Rekomendasi sy ini juga berlaku bagi vaksin yg akan masuk ke Indonesia meskipun prosuksinya berasal dari mRNA maupun Adenovirus yg juga akan masuk ke Indonesia spt dari Pfizer, Moderna ataupun Astrazeneca.

Ini semua yang saya tahu, dari hasil mencoba memahami journal dan diskusi dengan salah satu pakar yang pernah turut memproduksi Vaksin dan Antiserum dengan skala industri untuk kebutuhan Indonesia dan Dunia yang diakui WHO.

Keselamatan nyawa manusia adalah yang utama dan pertama, karena keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Mohon koreksi jika saya salah.

Salam.
AHP

TAG TERKAIT :
Virus Corona Covid-19 Pandemi COVID-19 Vaksin Covid-19 Vaksinasi Virus Corona

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45

Ahli Silat Kata

Opini 25/02/2021 13:37