Opini

SEKALI LAGI SAYA TIDAK BENCI VAKSIN

Aisyah Isyana - 08/01/2021 08:40

Terinformasi bahwa pada tanggal 13 Januari 2021 nanti Presiden akan di vaksin menggunakan Sinovac, dan LIVE! Presiden Jokowi sebagai simbol dari berdiri tegakya NKRI, perlu dijaga keselamatannya dengan cara ekstra ketat.

Jika Presiden jadi di vaksin, masalahnya... apakah tidak terlalu “gambling”..? Siapa yg akan bertanggung jawab terhadap keselamatan Presiden, jika ada dampak dari vaksin Sinovac tersebut?

Kalau Vaksinnya aman, seperti vaksin vaksin lain (BCG, Polio, Hepatitis B, DPT, Demam Thypoid, dll) yang sudah teruji nyata, ya tidak masalah... di vaksin...

Tapi kalau pengujiannya belum tuntas untuk mencapai standar minimum yg aman... spt pada tulisan saya sblmnya, seharusnya tdk diberikan kpd Presiden, apalagi diwajibkan...untuk masyarakat...

Mengapa demikian?

Kalau ternyata terjadi dampak ADE seperti yang dikhawatirkan dalam tulisan tersebut.. siapa yang bertanggung jawab?

Selain itu, hingga saat ini baik di Indonesia (mungkin), maupun diseluruh dunia... ternyata :

*jumlah manusia yang sehat > jumlah yang terpapar dg gejala ringan (mild) + tanpa gejala > jumlah yang parah (kritis) * ... (silahkan check data Worldometer) ..

Artinya berdasarkan statistik tersebut dapat diterjemahkan *bahwa penularan virus yg cepat tidak serta merta mengakibatkan kondisi kritis...*

Untuk itu kenapa tidak dilakukan terapi antibody (menggunakan Antiserum Covid-19) thd yg mild hingga yg parah (kritis) ... atau terhadap yg OTG hanya diperlukan komsumsi obat ringan dan penunjang peningkat imun tubuh...

Karena jika telah di vaksin belum ada jaminan 100% bahwa :
- tidak akan terpapar/tertular
- pasti menjadi lebih kebal
- tidak akan ada ADE

Potensi permasalahan lain... adalah...

Vaksin hanya untuk org sehat saja... dan vaksin adalah pencegahan sekunder... *(dimana pola hidup sehat dan lingkungan yg sehat ditambah menggunakan masker, jaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan dg benar, mandi dahulu jika masuk rumah, jaga stabilitas stress)...

Untuk itulah maka jika masih jauh lebih banyak orang yang sehat, (kalaupun ada yg terpapar Covid-19, berdasarkan Worldometer “MILD”.... nah mengapa bukan yg sakit yg diterapi dalam keadaan darurat ini...?

Jangan lupa, untuk di vaksin Covid-19, harus dipastikan bebas dari virus Covid-19....

Maka....

Untuk memastikannya, hanya 1 caranya, sesuai dg Golden Standar yg diakui oleh WHO dan Indonesia... yaitu Real Time PCR Swab Test...

Artinya, sesaat sebelum divaksin harus di PCR Swab Test, dg hasil yg sangat cepat 2-3 jam paling lama... (catatan posisi yg akan disuntik tetap tdk berinteraksi untuk cegah penularan)...

Karena virus menular detik per detik, maka hasil PCR Swab Test harus Real Time saat itu juga..

Kalau menunggu terlalu lama, bahkan sampai keesokan harinya setiap org berpotensi tertular/terpapar...

Alat uji yg menjadi Golden Standar hanyalah PCR Swab Test jika untuk kepentingan diagnosa medis... (yg diakui WHO dan Kemenkes)...

*Kalau target penduduk yg di vaksin 185,1 juta orang*

*Satu orang 2 kali (2 dosis) sama dengan 370,2 juta kali vaksinasi dan idealnya 370,2 juta kali PCR Swab Test...*

*Kalau 1 x PCR Swab Test Rp. 900 ribu... tinggal dikalikan saja berapa dana yg dibutuhkan...*

*Kemudian... bagaimana dg kesiapan peralatan, kesiapan tenaga medis/laborat tersertifikasi yg mengelola alat PCR tsb, bagaimana pula standarisasi alat PCR tersebut, berapa jumlah yg dibutuhkan.... dll....*

Hanya 2 dampaknya jika divaksin Covid-19 dalam keadaan positif Covid-19 yaitu :
- tidak menghasilkan penambahan antibodi setelah divaksin karena vaksin kalah dg virusnya (mubazir/sia-sia/tdk manfaat)
- menambah parah penyakitnya... karena virus malah tambah ganas atau menyerang bagian lain...

Belum ada yg bisa memastikan keamanannya dalam kondisi ketidakdaruratan ... hasil jurnal ilmiah efikasi dan dampak ADE pasca divaksin pun belum diketahui.... sepanjang sy tahu...

Jadi... sebaiknya selesaikan dulu uji klinis dan uji thd primata non human pasca uji klinin spt yg saya sampaikan... apapun merek vaksin Covid-19 tsb.

Hasilnya pun bisa diakses publik dalam jurnal internasional dan secara akademis ter registrasi dan reputable....

Selamatkan Presiden, selamatkan Bangsa Indonesia, adalah dengan menunda dulu vaksinasi, hingga semuanya jelas dan terbuka secara ilmiah...

Sekali lagi, saya tidak anti vaksin atau membenci vaksin Covid-19..

 

Salam

AHP

TAG TERKAIT :
Virus Corona Vaksin Corona Pandemi COVID-19 Vaksin Covid-19 Andrea H Poelongan

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45

Ahli Silat Kata

Opini 25/02/2021 13:37