Opini

Hanya Di Era Jokowi Antek CIA dan Para Political Mainstream Bisa Ditundukkan ilustrasi

Indah Pratiwi Budi - 11/01/2021 19:09
Oleh : Tito Gatsu

Perlu dijelaskan diawal bahwa Pemerintah Amerika Serikat Itu berbeda dengan CIA walaupun satu Kesatuan, jika CIA adalah sebuah lembaga rahasia yang bekerja untuk kekuatan The Shadow Of Power di Amerika Serikat walaupun Direktur CIA diangkat oleh Presiden tapi kekuatan kelompok mereka sudah mainstream dan diindikasikan dikuasai oleh para milyuner Yahudi Amerika seperti Rockefeller dan Kissinger yang menguasai hampir seluruh Sumber energi di dunia.

Saya kembali menampilkan beberapa catatan Willem Oltmans dalam topik ini, kenapa saya tampilkan catatan Oltmans?

Dari analisa Oltmans Kita bisa lihat bahwa CIA selalu menggunakan langkah yang taktis walaupun sadis apabila harus membunuh orang yang menjadi penghalang niat politiknya bahkan mereka Juga tega membunuh Presidennya sendiri, yaitu John F. Kennedy pada tahun 1963. Apalagi jika melakukan kekacauan dan pembunuhan di Indonesia tentu mereka akan lebih tega.

Karena supaya Kita tau dan bisa mendapatkan analisa yang komferhensif , terutama dalam mengkajj Fenomena di Indonesia dan kenyataannya memang terjadi bahwa para penerus Orde Baru melalui para political mainstream nya masih terus berusaha melakukan manuver dan terlibat didalam kencah perpolitikan terus akan menyerang PDIP .

Kenapa mereka harus menyerang PDI-P dan selalu menyudutkan Megawati?

Karena banyak sumber Keuangannya di Indonesia terutama sektor energi, jelas mereka tidak Ingin dosa - dosanya terbuka dan tentunya tidak menginginkan rakyat Indonesia terutama Generasi muda menjadi cerdas, mereka sudah membangun smart power dan menempatkan pion-pion disemua lini dari mulai Pelajar yang mendapatkan Bea siswa di Amerika Serikat melalui Program AFS (American Field Services) Kita tau Fadli Zon dan Anies Baswedan Pernah menikmati program tersebut, hingga mahasiswa yang mendapatkan Bea siswa Ilmu Sosial di AS misalnya : Rizal Ramli ,Amien Rais , dll serta militer yang dibina oleh pemerintah Amerika Serikat, misalnya SBY ,Prabowo Subianto, dll.perlu dicatat tidak semua Pelajar, mahasiswa dan TNI menjadi pilihan CIA tapi dengan kemajuan teknologi Kita bisa melacak melalui jejak digital siapa saja yang menjadi agen CIA.

Kita tau sejak Pemilu pertama yang dilakukan secara demokratis Megawati dijegal dengan menaikan Gus Dur, Setelah Gus Dur Naik ternyata langkah pertamanya membubarkan Dwifungsi ABRI dan menegakkan Supremasi sipil tentu Hal ini membuat para antek Imperialis yang dipimpin Amin Rais meradang akhirnya dijatuhkan dan mengangkat Megawati.

Pemerintahan Megawati pun tak hentinya digoyang terus baik di internal maupun external Partai maupun dalam pemerintahannya, Pertama dengan mundurnya SBY yang melakukan perlawanan diam-diam dengan mengadakan pembangkangan pemerintah tapi mengeluhkan opini di publik , sebenarnya suatu etika yang sangat tidak pantas dan sama ketika dia melakukan terhadap Gus Dur ketika akan mengangkat Jendral Agus Wirahadikusumah Jendral Reformis untuk menjadi KASAD . SBY memang masih merupakan satelit Amerika dan Orde Baru di Indonesia.

Figur Megawati dan keluarga Bung Karno memang sebaiknya Tak perlu dulu maju sebagai Presiden karena goyangan cukup besar, PDIP cukup mencari kader yang berani dan visioner seperti Jokowi sehingga secara politik lebih aman sambil terus membuat masyarakat Indonesia melek politik dan sisa sisa pro Nekolim terkikis habis dan pada tahun 2014 saran Willem Oltmans diikuti oleh Megawati dan PDIP dengan baik sehingga Kita bisa menikmati pemerintah Jokowi membongkar Semua peran para political mainstream yang sesuai dengan analisa Oltmans.

Dari buku Willem Oltmans yang ditulis di bulan Juni 2001, sebelum Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Sejak saat itu, telah banyak lagi informasi mengenai peristiwa 1 Oktober 1965 yang muncul di Washington dan London. Di Amerika Serikat, the State Department's Bureau of Diplomatic Security sedang panik, bergegas dan berupaya keras hendak melacak satu jilid dari serangkaian dokumen mengenai Hubungan Luar Negeri AS yang khusus menyangkut Jakarta. Dokumen-dokumen itu sebelumnya biasa dikeluarkan untuk umum secara berkala.

Tetapi, ketika para wartawan menemukan dokumen ini berisi bukti bahwa Washington ikut bertanggung jawab atas pembunuhan besar-besaran oleh kekuatan militer Soeharto terhadap anggota PKI dan pendukung Soekarno, pejabat pemerintahan AS menjadi cemas dan menginginkan agar dokumen itu ditarik kembali. Hal ini tidak mungkin dilakukan karena kucingnya telah keluar dari dalam karung.

Seorang jurubicara di Washington mengakui hal ini, bahwa sangatlah sulit untuk melacak salinan dokumen itu, yang sudah banyak dikirim ke luar negeri dalam bentuk mikrofis. ‘Usaha itu seperti mencoba memasukkan pasta gigi yang sudah dikeluarkan, kembali ke tabungnya,’ kata Tom Blanton, Direktur National Security Archive di Universitas George Washington. ‘The NewYork Times’ melapor bahwa Blanton telah menempatkan laporan 830 halaman itu ke website-nya. Apa pun masalahnya, laporan itu membenarkan bahwa Kedutaan AS di Jakarta telah menyerahkan sebuah daftar kepada komplotan Soeharto, berisi nama orang-orang komunis yang harus dilenyapkan.

Dokumen yang dikeluarkan itu membenarkan bahwa Dubes AS Marshall Green melapor ke Washington dengan telegram bahwa ia mengetahui apabila pejabat yang berwenang dalam masalah keintelijenan di Indonesia telah memanfaatkan daftar dari kedutaan itu untuk membunuh mereka yang tercantum namanya. Dokumen itu juga membuktikan bahwa Green telah menyerahkan uang sebanyak 50 juta rupiah untuk terus membantu dalam penyingkiran PKI. Meskipun demikian, masih ada sejumlah dokumen CIA lainnya yang masih merupakan dokumen rahasia di tahun 2001 ini, seperti dilaporkan oleh George Lardner dalam ‘Washington Post’ tanggal 30 Juli 2001.

Kenaifan orang Indonesia dalam hal pengetahuan tentang cara dinas intelijen AS bertindak, sukar diukur. Tetapi, setelah mengalami 32 tahun pemerintahan militer dengan kendali ketat terhadap media, berbagai percakapan yang saya lakukan di Jakarta meyakinkan saya, bahwa saya harus menulis buku ini, agar orang Indonesia dapat mengetahui tentang nasib beberapa orang sahabat dan rekan Bung Karno.

Pembunuhan terhadap JFK masih belum terungkap tentang hal yang sebenarnya terjadi. Sementara filmnya Zapruder tentang pembunuhan itu sangat jelas membuktikan bahwa peluru-peluru yang mengenai Presiden ini ditembakkan dari dua arah, versi resminya bertahan pada ceritera bahwa Lee Harvey Oswald-lah yang menembak JFK. Sementara bukti-buktinya jelas ada dan dapat dilihat semua orang, namun masih ada orang yang percaya bahwa Oswald melakukan semuanya itu sendirian. Oliver Stone mendapat 40 juta dolar dari bangsa Jepang dan ia membuat filmnya berjudul JFK.

Dalam film itu ia mengambil alur ceritera bahwa peristiwa Dallas itu adalah hasil sebuah rencana persekongkolan. Segera pula ia diserang oleh kelompok yang keras kepala itu, yang menolak mengakui bahwa AS menderita akibat ulah dinas rahasianya yang tidak terkendalikan.

Di London, ‘Shadow of a Revolution, Indonesia and the Generals’ karangan Roland Challis terbit di bulan Juni 2001 (Sutton Publishing, London). Diceriterakan bahwa pada tahun 1965, Challis bertemu dengan Norman Reddaway pejabat Foreign Office(Kantor Perwakilan Luar Negeri) di markas besar Far East Command di Singapura. Pria ini menceriterakan pekerjaannya adalah ‘melakukan apa saja yang terpikirkan orang untuk melenyapkan Presiden Indonesia Soekarno.’ Challis menulis di ‘The Sunday Times of London’ terbitan tanggal 20 Juli 2001, sebuah artikel berjudul ‘Our Dirty Secret Behind Indonesia's Coup’.

Di dalam bukunya, Challis merujuk ke dokumen yang berisi persetujuan JFK dan Perdana Menteri Harold Macmillan bahwa sebaiknya Soekarno dilenyapkan. Keputusan itu diambil setelah keputusan Bung Karno yang ingin melenyapkan pangkalan AS dan Inggris dan sisa-sisa kolonialisme di Negara Federasi Malaysia-nya Tengku Abdul Rahman.

Challis: ‘Dengan dukungan rahasia dari Amerika, unsur-unsur sayap kanan di Angkatan Bersenjata (Angkatan Darat) Indonesia siap untuk berperang. Peristiwa itu dipicu oleh gerakan rahasia mendadak pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, yang sampai sekarang disebut sebagai percobaan kup kaum komunis yang gagal.


Peristiwa itu sekarang dikenal sebagai ‘karya’ beberapa perwira nasionalis yang cemas akan adanya kecenderungan anti-Soekarno dari atasan mereka dari sayap kanan. Gerakan mendadak itu dimainkan dalam tangan Soeharto. Ia berurusan dengan divisi di dalam Angkatan Bersenjata, kemudian dengan pembunuhan orang-orang yang diduga komunis.’ (‘Sunday Times of London’, 29 Juli, 2001).


Selangkah demi selangkah, akhirnya kebenaran mengenai apa yang terjadi pada malam yang menentukan itu di Jakarta, sejak 30 September hingga 1 Oktober 1965, mulai muncul ke permukaan. Indonesia akan dihadapkan kepada kejutan lebih banyak, karena Roland Challis baru mengorek permukaan masalah ini saja ketika ia menulis tentang Nasution & Co mendapat dukungan AS, yang sebenarnya, jauh lebih banyak dari itu. Para arsitek peristiwa 1965 - seperti di tahun 1958 - yang berkomplot di Washington adalah kekuatan gelap yang sama yang sejak Perang Dunia II melakukannya di mana saja di dunia ini.


Pangeran Sihanouk selamat dan tinggal di Beijing. Ia berhasil menulis buku ‘My War with the CIA’, demikian juga Kwame Nkrumah. Tetapi Bung Karno tidak pernah beroleh kesempatan menulis buku sejenis itu, yang pasti dapat ditulisnya dengan mudah, saya tahu benar akan hal itu, karena saya telah berbicara lama dan mendalam dengannya di tahun 1966.


Waktu yang diperlukan rakyat Indonesia sebelum mau membuka mata mereka terhadap kenyataan adalah proses yang dapat diperbandingkan dengan rakyat Amerika yang menolak pendapat bahwa pembunuhan JFK adalah sebuah persekongkolan. Bahkan mereka yang sudah melihat dengan mata mereka sendiri, bahwa setelah ditembak dari belakang, ada peluru lain yang menembus leher Presiden ini yang datang dari arah yang berlawanan. Saya mewawancarai ahli bedah dr. Ralph Greenlee, salah satu dokter ahli di Dallas yang memeriksa JFK ketika presiden ini dibawa masuk ke Parkland Memorial Hospital, tempat ia meninggal tidak lama kemudian. Pada tanggal 10 Maret 1967, ia sudah berceritera kepada saya,


‘Satu peluru mengenainya dari belakang, peluru yang lain langsung menembus lehernya dari depan. Para dokter di rumah sakit ini sangat yakin bahwa peluru yang kedua datang dari arah yang lain dari tempat yang diduga Oswald berada. Ini berarti bahwa kami semua di sini tahu, bahwa pembunuhan Presiden ini adalah perbuatan yang direncanakan sebuah komplotan.


Pembandingan dengan rakyat Indonesia yang masih ragu apakah CIA ada di belakang kup tahun 1965 itu dan rakyat Amerika yang menolak pendapat bahwa pembunuhan atas Presiden mereka jelas-jelas hasil suatu komplotan, sangatlah mencolok. Karena saya telah tinggal di New York dari tahun 1958 sampai tahun 1992, saya tahu bahwa tidak ada yang dapat dilakukan orang untuk membuka mata masyarakat agar melihat kenyataan yang tidak ingin mereka lihat atau terima.


Hal ini membawa saya kepada beberapa pengamatan mengenai pergantian rezim dari Pak Wahid ke Ibu Mega, yang seperti lompatan dari wajan penggorengan ke api yang menyala. Sayang sekali, seperti yang saya tulis di ‘Jakarta Post’pada tahun 1999, putri sulung bapak bangsa ini telah masuk ke perangkap yang sudah dipasang baginya, karena dia akan terus diganggu bahkan bisa dibunuh agar kepentingan CIA bisa menguasai Indonesia.


Ayahnya, yang sangat saya kenal, pasti akan sangat sedih menyaksikan kejatuhan putrinya jauh lebih cepat dari kehancuran kepresidenannya Pak Wahid.


Dalam hal ini tidak sepenuhnya ramalan Oltmans benar walaupun memang kekuasaan political mainstream di Indonesia Masih kuat yang tak terduga justru Indonesia punya Jokowi yang berani membongkar rahasia ini dengan membubarkan proxy war nya yaitu FPI dan perpolitikan Indonesia bisa kembali kepada kedaulatan rakyat .


Semoga Indonesia bisa banyak belajar dari fakta sejarah agar Demokrasi dapat terjaga dan pembodohan politik tidak lagi mampu memperalat bangsa ini ....dan yang lebih Penting lagi Jangan biarkan Jokowi berjuang sendiri mengembalikan. Kedaulatan rakyat kepada seluruh rakyat Indonesia sesuai Pancasila dan UUD 1945.


Salam kedaulatan rakyat


Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.

TAG TERKAIT :
Jokowi Joko Widodo Presiden Jokowi Jokowi Orang Baik Jokowi Orang Hebat Jokowi Presiden Ku Pembenci Jokowi

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45