Opini

Mau Enaknya Aja, Sawit RI Ditolak, Giliran Nikel Dilarang Uni Eropa Tak Terima

Indah Pratiwi Budi - 19/01/2021 18:00
Oleh : Xhardy

Beberapa waktu lalu, Indonesia menggugat Uni Eropa di WTO karena masalah dalam ekspor minyak sawit dan produk turunannya seperti biodiesel.

Gugatan diajukan terhadap kebijakan Renewable Energy Directive II (RED II) dan Delegated Regulation Uni Eropa yang dianggap mendiskriminasikan produk kelapa sawit Indonesia.

Kewajiban ini mewajibkan anggota Uni Eropa menggunakan bahan bakar dari sumber energi yang terbarukan (renewable energy source) mulai tahun 2020 hingga tahun 2030. Kebijakan ini juga mengategorikan minyak kelapa sawit ke dalam kategori komoditas yang memiliki Indirect Land Use Change (ILUC) berisiko tinggi, bukan termasuk energi yang terbarukan.

Pemerintah Indonesia (kalau tidak salah, pemerintah Malaysia juga protes) keberatan dengan kebijakan tersebut. Ini akan berdampak buruk pada kinerja ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa, dan juga memberikan citra yang buruk untuk produk kelapa sawit di perdagangan global.

Sekarang memang pada gila sumber energi terbarukan. Salah satu yang sedang jadi primadona adalah kendaraan listrik. Yang artinya baterai akan jadi barang yang laris manis di pasaran. Dengan bahan mentahnya adalah nikel. Dan Indonesia memiliki sekitar 3,57 miliar ton dan sebagian besarnya berkadar rendah (limonite nickel) yang sangat cocok untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.

Cadangan yang melimpah ini akan menjadikan Indonesia sebagai raja baterai listrik dunia. Bayangkan, dulu negara di Timur Tengah adalah raja minyak bumi. Banyak dari negara tersebut yang kaya raya. Di masa depan Indonesia akan bernasib kurang lebih sama, menjadi raja sumber energi terbarukan. Kalau dikelola dengan baik, bisa dibayangkan seperti apa negara ini. Makmur.

Atas dasar inilah, pemerintah mulai melarang ekspor bijih nikel mulai tahun 2020. Larangan ekspor mineral mentah sejalan dengan upaya hilirisasi agar industri peleburan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri bisa berjalan. Sehingga mineral mentah yang diolah dalam negeri, menjadi barang yang siap ekspor, untuk memperbaiki defisit neraca berjalan dan menambah lapangan pekerjaan.

Akibat dari larangan ekspor ini, Indonesia malah jadi tergugat karena digugat Uni Eropa. Ironis, menolak produk sawit Indonesia, tapi mau nikel dari Indonesia.

Uni Eropa bahkan melanjutkan sengketa atas kebijakan larangan ekspor bijih nikel dengan mendesak WTO untuk membentuk panel membahas sengketa tersebut. Hal ini pun sudah diantisipasi oleh Indonesia dengan kesiapan menghadapi gugatan tersebut.

Alasan gugatan adalah kebijakan tersebut menyulitkan Uni Eropa untuk bisa berkompetisi dalam industri baja di dunia. Nikel yang dimaksud adalah bahan baku stainless steel. Selain jungkir balik akibat larangan itu, Indonesia sendiri sudah menjadi negara penghasil stainless steel terbesar kedua setelah Tiongkok. Dulu importir, sekarang berbalik arah.

Pemerintah juga tidak takut hadapi gugatan ini. Selama ini Indonesia tak mendapatkan banyak manfaat setelah puluhan tahun hanya mengekspor bijih mineral mentah.

"Barang, barang kita, nikel, nikel kita, mau ekspor mau enggak suka-suka kita. Ya, enggak?" kata Jokowi.

Kita hargai Uni Eropa yang melarang masuknya produk sawit asal Indonesia. Mereka punya alasan sendiri terkait sumber energi terbarukan. Tapi Uni Eropa juga harus hargai Indonesia yang tidak mau ekspor nikel. Uni Eropa terkesan mau untungnya sendiri. Kebijakan mereka soal sawit menyulitkan Indonesia, tapi giliran merasa sulit malah menggugat balik. Sama-sama jadi penggugat dan tergugat di dua kasus yang berbeda tapi saling terkait. Ironis, bukan?

Dulu, ada anekdot lucu. Indonesia kirim bahan mentah, kemudian bahan ini diproduksi di negara lain menjadi produk jadi, lalu Indonesia impor produk tersebut dengan harga lebih tinggi. Lucu, tapi miris. Itulah kenyataannya.

Sama halnya Indonesia ekspor minyak mentah, diproses di kilang minyak negara tetangga, kemudian produk BBM diimpor balik oleh Indonesia. Apa tidak gila tuh? Sudah paham kenapa mau bangun satu kilang minyak di negeri ini aja susahnya setengah mati?

Ini yang sedang diperjuangkan Jokowi. Larang ekspor bahan mentah. Artinya, investor harus tanamkan modal di Indonesia untuk mengolah dan mengekspor barang turunannya.

Tapi, melimpahnya nikel dan mineral lain, ibarat dua sisi koin. Ada baik dan buruknya. Buruknya adalah, akan ada banyak gangguan dari pihak luar. Cobalah lihat, negara yang memiliki sumber daya alam melimpah rentan diadu domba. Setelah porak poranda, lebih mudah kuasai sumber daya alamnya.

Maka dari itu, kita dukung pemerintah soal ini, sekaligus waspada. Yang terpenting, jangan mudah diadu domba. Untung saja sekarang kelompok makelar demo sudah dilumpuhkan. Kalau tidak, you know lah. Masih ingat dengan pegawai badan intelijen dari salah satu negara di Eropa yang kunjungi markas ormas?


Sumber : Status Facebook Xardy

TAG TERKAIT :
Jokowi Larang Ekspor

Berita Lainnya

ABAS PENDENDAM

Opini 25/02/2021 18:45